Menu

Warung Kopi dan Penulis Kematian: Fragmen

Aku menemuinya di sudut sebuah warung kopi pada suatu malam. Kemarau sedang di puncaknya, dan penunjuk suhu pukul sepuluh di ponsel itu diawali angka satu.

Ia tetap tekun memandangi laptopnya saat aku duduk di hadapannya. Di sekitar kami, kelompok-kelompok gaduh dengan urusan masing-masing: organisasi, tugas kuliah, bermain gitar, menonton film ilegal.

Aku menikmati kopi pesananku sambil bermain ponsel, dan menunggu ia menyempatkan diri untuk mendongak dan menyambutku. Kira-kira lima belas menit kemudian baru ia mendongak.

Wajahnya pucat. Matanya bengkak dengan bulatan hitam di bawah kelopak. Ia mencoba tersenyum. Tetapi, sebelum ia membuka mulut, aku sudah lebih dulu membuka bendungan rasa penasaranku.

“Kenapa kau memilih tempat seramai warung kopi ini untuk menuangkan khayalanmu tentang kematian, dunia orang mati tanpa bunyi dan gerak itu?”

Ia tersenyum sebelum menjawab. “Aku lebih merasakan kontras antara yang hidup dan yang mati di warung kopi ini. Dengan berada di dunia yang riuh, aku bisa membayangkan dunia yang sepi. Kalau aku harus menulis tentang dunia yang riuh, aku akan menulis di kuburan.”

Ia selalu tersenyum. Barangkali karena ia puas. Barangkali ia memang bisa melihat sesuatu atau beberapa hal yang tak bisa dilihat dengan mudah oleh orang lain — hal-hal yang ada di dunia sepi itu.

“Lihatlah orang-orang yang bergembira itu,” katanya sambil mengedarkan pandang ke arah para pengunjung yang masih sibuk dengan urusan mereka masing-masing. “Aku ingin seperti mereka, tetapi ada kegembiraan lebih besar saat menulis tentang dunia sepi.”

“Lantas, kenapa kau mengundangku ke sini?”

Ia kembali tersenyum. Sebelum menjawab, ia menutup laptop dan memandangku lekat-lekat.

“Tidak ada yang istimewa. Aku mengundangmu ke sini untuk menemaniku saja. Aku tak kenal siapa pun di warung kopi ini, dan aku sangat kesepian. Aku bisa melawan kesepian paling keji sekalipun di dunia sepi itu. Tetapi saat kembali di dunia ramai ini, kesepian terlalu tangguh untukku. Kau tak sedang sibuk, ‘kan?”

Kukeluarkan buku catatan kecilku dari saku jaket. Kubuka tepat di pembatas buku dan aku terkejut melihat namanya di daftar itu. Kututup buku itu, kumasukkan kembali ke dalam saku, dan kutatap matanya.

“Sebenarnya, malam ini ada beberapa orang yang harus kutemui. Tetapi rupanya kau salah satunya.”

Ia mengangguk, lalu tersenyum. Rupanya, aku tak perlu panjang lebar menjelaskan bahwa mulai malam ini ia tak perlu lagi bertualang di dunia sepi itu berbekal laptop di warung kopi. Seorang penulis kematian lain telah bercerita kepadaku tentang penulis kematian sahabatku ini, yang malam ini dijadwalkan akan mati.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *