Usaha Memotret Candi Ijo

Matahari pukul setengah lima sore yang masih cukup tinggi disembunyikan mendung kelabu, tetapi tebaran sinarnya masih menerangi dunia walaupun tidak secara langsung. Warna jingga memulas langit di atas barisan pegunungan yang seperti ombak laut gelap di arah barat laut. Embusan angin sejuk membikin suara para pengunjung — kebanyakan pasangan kekasih — timbul tenggelam di telingaku.

memotret candi ijo

Sebelum memulai memutari kompleks Candi Ijo untuk mencari spot yang pas, aku sempat terkejut karena letak matahari tak seperti yang kubayangkan. Awalnya, kukira matahari terletak tepat di arat barat, di atas landasan pacu Bandara Adisucipto. Namun, ternyata sore itu matahari agak bergeser ke kanan, ke arah utara: walaupun disembunyikan mendung, sesekali ia muncul sebagai area paling terang di seluruh penjuru langit.

Tetapi mendung tak terlalu tebal, dan kecil kemungkinanannya akan turun hujan walaupun semakin sore angin semakin liar dan dingin. Kemudian aku lupa waktu dan asyik dengan cahaya, ruang, dan kamera. Untuk memotret candi utama dan ketiga candi kecil di depannya, memotret sudut timur laut paling pas walaupun ada tiang lampu yang masuk ke bingkai. Kuhabiskan waktu cukup lama di situ sebelum mencari spot lain.

Candi Ijo sudah berubah sejak terakhir kali kukunjungi beberapa bulan lalu. Tentu bukan batu-batu penyusunnya — kecuali yang ditambahkan untuk memugar candi baru di sudut barat daya — melainkan pengelolaannya.

Dulu, aku masuk ke kompleks candi tanpa membayar tiket. Aku masuk melalui portal yang dijaga satpam, menyusuri sisi selatan bangunan pengelola, lalu muncul di sisi selatan candi. Jalur keluar menuruni tangga batu di sisi barat kompleks candi. Kini, ada loket yang aktif. Wisman Rp 10 ribu, Wisnus Rp 5 ribu. Jalur masuk melalui jalur tangga yang dulu menjadi jalur keluar, sedangkan jalur keluar adalah jalur yang dulunya jalur keluar.

Setelah kehabisan ide, aku kembali ke sudut timur laut, duduk di bangku kayu di bawah pohon talok, dan merokok. Tak kupedulikan benar apakah sudah saatnya berbuka atau belum. Ketakacuhanku tak berbahaya karena tak lama kemudian azan magrib terdengar. Kuputuskan untuk tetap di sini hingga diusir satpam seperti saat di Candi Sambisari beberapa waktu lalu — pukul setengah enam, satpam sudah berkeliling mengusir pengunjung.

Tetapi mulutku kecut sehingga kuputuskan untuk minum kopi di warung tempat parkir. Bangku sudah diduduki orang lain sehingga kubawa gelas kopiku yang masih panas ke tempat swafoto di sisi barat warung, lalu aku duduk bersila dan melihat-lihat hasil jepretan. Angin berembus lebih liar. Aku beranjak dengan lega setelah azan Isya terdengar.

Setidaknya ada bahan untuk menulis tulisan pendek.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *