Menu

Tidak Indah, Tetapi Efisien dan Efektif: Prancis

Ketika Mbappe mencetak gol di final Piala Dunia 2018, secara refleks, saya — tentu demikian juga dengan jutaan penonton televisi malam itu di seantero jagat — bersorak sembari mengangkat kedua tangan.

Data statistik yang melekat di kepala saya setelah sebulan bergumul dengan angka dan fakta Piala Dunia, muncul dengan sendirinya: Kylian Mbappe adalah pemain berusia remaja kedua sepanjang sejarah yang berhasil bikin gol di pertandingan final Piala Dunia, Didier Deschamps menjadi orang ketiga — setelah Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer — yang pernah memenangi Piala Dunia baik sebagai maupun pelatih.

Lalu saya teringat blog ini, yang sedang susah payah saya bangun. Saya sempat bertanya-tanya, apakah kebetulan semata bahwa tulisan terakhir di sini adalah tulisan yang mengkritik Prancis, yang bermain “tanpa identitas”?

Mungkin memang kebetulan semata, dan Prancis memang tidak sedap dipandang — kecuali saat mencetak gol, tentu. Tetapi mereka mengorbankan keindahan dan menekankan permainan yang efisien dan efektif, dan pilihan itu terbukti membantu Prancis mencapai tujuan.

Di salah satu majalah foto lama dulu saya pernah membaca bahwa tim Eropa lebih menekankan pada hasil sementara tim Amerika Latin lebih menekankan pada hasil yang dicapai dengan indah.

Bagi Prancis, yang bertabur bintang dan demikian banyak perbedaan — usia, pengalaman, agama, ras — sehingga wajar jika Deschamps sempat kesulitan membentuk skuat yang padu, “dengan indah” itu tidak penting-penting amat.

Masalahnya adalah, pragmatisme sepak bola seperti itu akan menjadi yang terbaik di dunia selama empat tahun ke depan, dan tim-tim dan para pemain akan memandangnya sebagai referensi utama: tak perlu indah, yang penting menang.

Mentalitas asal-menang ini bisa negatif kalau kemudian mengekang talenta para pemain karena, misalnya, bahkan Mbappe pun diperintahkan untuk membantu pertahanan dengan sering berada di bawah garis tengah.

Tidak akan masalah jika tim-tim pragmatis punya pemain seperti Mbappe dan Griezmann, yang selain punya kecepatan juga punya teknik dan fisik serta — yang terpenting — naluri. Jika pemain seperti itu tidak ada, kita hanya akan menyaksikan bus parkir di setengah lapangan.

Jika begitu, lebih baik menonton bus AKAP yang ugal-ugalan itu parkir di Terminal Giwangan.

Pragmatisme Prancis juga membuat saya berpikir tentang kehidupan: yang penting adalah kita bisa mengelola sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan, dengan pendekatan yang cermat, hati-hati, dan organisasi yang rapi. Keindahan adalah bonus setelah tujuan tercapai.

Selamat, Prancis. Ada keindahan tersendiri dalam pragmatisme sepak bolamu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *