Menu

Tentang Liverpool: Tidak Butuh Alasan

Ingatan awal saya tentang Liverpool adalah suatu siang di gardu ronda kampung halaman saya yang terpencil di lereng Pegunungan Seribu. Seorang teman masa kecil mengenakan kaos polo merah dengan lambang Liverpool di dada kiri.

Saat itu saya masih kelas 2 SMP. Serie A sedang ramai-ramainya dan disiarkan di RCTI. Saya masih menggilai Lazio, dan saat membeli sepatu bola pertama, saya senang sekali karena mendapatkan merchandise bendera kecil Lazio.

Liga Inggris saat itu masih disiarkan SCTV dan kurang ramai dibandingkan Serie A. Yang saya ingat jelas dari periode itu, selain kaos polos merah teman saya, adalah pertandingan Arsenal di televisi. Kesan saya: Liga Inggris itu keras, kurang sedap ditonton dibanding klub Italia yang lebih “nyeni”.

PSIM juga masih menjadi satu-satunya klub di DIY yang bisa mempersatukan warga kota dan keempat kabupaten. Saya ingat, saking cintanya dengan PSIM, saya boncengan bertiga dengan teman sekampung untuk nonton di Mandala: zamannya Wahyudiyanto Kancil, sayap kiri yang trengginas itu.

Ajax Amsterdam saat itu juga kondang di kampung saya sehingga seragam kesebelasan kampung, yang bernama Persada kemudian berganti menjadi Generasi Muda Asem Gede setelah saya merantau, mirip seragam merah putih Ajax.

Entah kapan tepatnya saya mulai menyukai dan menggilai Liverpool — saya berhenti menggilai Lazio setelah klub itu juara Liga Italia musim 1998/1999. Yang jelas, setahun sebelum masuk kuliah pada tahun 2000, saya tidak lagi getol mengikuti persepakbolaan maupun PSIM.

Buku dan sastra menyerap 100% kehidupan saya sejak masuk kampus. Tetapi pada masa itu saya ingat masih menyempatkan diri menonton sepak bola di TV. Saya menyaksikan David Beckham cs menang atas Munchen di Liga Champions. Tapi kapan tepatnya saya menggilai Liverpool masih misterius.

Yang jelas, saat final Liga Champions 2005 dan 2007, saya sudah fiks memilih Liverpool, dan berlanjut hingga sekarang, sebagai klub jagoan. Entah kenapa, saya merasa tidak perlu alasan untuk menyukai klub ini walaupun prestasinya memble. Saya tetap antusias mempelajari sejarahnya dan pertandingannya.

Semakin ganjil juga rasanya kalau dilihat bahwa pilihan studi saya adalah sastra Inggris dan di kemudian hari, setelah mempelajari Liverpool, fans klub itu bicara dengan dialek Scouser, bukan Cockney yang lebih saya akrabi karena lebih sering dijumpai di buku dan film.

Jadi, saya memang bukan born red, atau menyukai Liverpool sejak kenal sepak bola, melainkan adopted red: menyukai Liverpool setelah cukup mengerti tentang sepak bola. Tetapi soal fanatisme dan kecintaan, juga citra, saya tetap hard core red.

Untung, saat menulis tentang sepak bola, saya bisa mengekang favoritisme sehingga tulisan saya tidak bias. Memang, saat Piala Dunia kemarin, saya bocor: saya mendukung membabi-buta negara yang punya pemain Liverpool. Tetapi tulisan saya masih relatif “objektif”

Tidak butuh alasan untuk mencintai sepak bola — dan Liverpool.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *