Tanjung Adikarto, Kulon Progo, DI Yogyakarta

Tanjung Adikarto sore itu adalah sebuah pelabuhan yang sepi, tanpa kapal sandar, buruh-buruh berceloteh di sela pekerjaan, atau camar yang memekik. Kususuri jalan di tepi dermaga yang kosong, melewati rumah-rumah pegawai pelabuhan yang kosong, dan sebuah gedung serba guna yang juga kosong.

Tanjung Adikarto Kulon Progo (1 of 1)

Ada sebuah perahu kayu yang menandai pintu masuk ke Pelabuhan Tanjung Adikarto di sisi selatan Jalan Daendels. Ada loket pula di pintu masuk, tapi saat aku ke sana, tidak ada petugas. Pagar tinggi membatasi ketiga sisi kawasan pelabuhan, dengan jalur aspal tanpa lampu.

Matahari mulai redup saat aku tiba di pemecah ombak di sebelah selatan Tanjung Adikarto. Udara dikuasai deburan ombak yang tak berkeputusan. Beberapa pasangan duduk bersisian di tepi jalur beton.  Seorang fotografer sibuk memotret di atas pasir di sisi timur pemecah ombak.

Yang kukunjungi sore itu di Tanjung Adikarto adalah pemecah ombak sisi timur. Pemecah ombak sisi barat adalah pembatas dengan Pantai Glagah. Kurasa ada jalan yang menghubungkan pemecah sisi timur dan barat, tapi tak sempat kuperiksa karena sudah sangat gelap saat aku pulang.

Kedua pemecah ombak itu membentuk semacam mulut atau teluk kecil. Tapi, bagian belakangnya sudah daratan. Aku tak tahu apakah teluk kecil itu nanti akan dikeruk dan menjadi pintu masuk ke Tanjung Adikarto. Sebenarnya aku juga tak tahu lewat mana kapal (kalau ada) masuk ke dermaga.

Mungkin sebenarnya Tanjung Adikarto adalah sebuah pelabuhan yang sedang dibangun dan belum selesai, terutama jalur masuk kapal dari arah laut. Itu bisa menjelaskan kenapa dermaga bisa sesepi itu. Pembaruan: setelah browsing sebentar, ternyata “mungkin” itu memang benar: Tanjung Adikarto belum selesai dibangun.

Waktuku masih cukup banyak sebelum senja melukis langit di atas Tanjung Adikarto. Fotografer yang tadi kulihat di sisi timur sudah turun ke sisi barat. Aku juga turun dan berkenalan dengannya. Dia bekerja di kantor pajak di Kalimantan (entah mana) dan sedang liburan ke Jogja walaupun asli Sedayu.

Lalu kami sibuk dengan usaha memotret senja yang memang menakjubkan di Tanjung Adikarto. Kurekam beberapa klip video juga. Hasil-hasil foto di Tanjung Adikarto lumayan mengobati kekecewaan karena gagal memotret Pantai Trisik beberapa menit sebelumnya.

Aku harus bekerja keras saat pulang karena jalan yang mengelilingi pelabuhan (atau calon pelabuhan?) itu tak berlampu. Aku sempat berhenti tak jauh dari pemecah ombak dan bertanya kepada beberapa anak muda yang duduk-duduk di tepi jalan.

Lampu jauh motor tak bisa menyorot terlalu jauh, juga di Jalan Daendels yang menjulur lurus dan panjang. Tapi, entah kenapa aku merasa santai saja dengan kesulitan di jalan. Mungkin karena aku baru saja menyaksikan salah satu senja termegah di dunia dan sempat memotretnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *