Menu

Spot Riyadi dan Bukit Teletubbies: Mblusuk

Sebelum tiba di Spot Riyadi, ia tersesat beberapa kali.

Baru beberapa langkah dari gerbang Taman Batu di Bukit Teletubbies, lututnya sudah gemetar. Jalur konblok itu tak berpagar, dan dasar lereng tak kelihatan karena tertutup batang-batang pohon yang kecokelatan dihajar kemarau.

Spot Riyadi: Candi Prambanan tampak megah saat malam hari.

Tanpa dapat dicegah, matanya melayang ke bawah dan kejauhan. Jalur putih berliku-liku di lereng perbukitan di kejauhan, tampak semakin putih di bawah terik matahari kemarau.

Ia menimbang-nimbang sejenak. Karena getaran di lututnya semakin parah, ia balik badan. Kejadian balik badan itu terulang lagi sekeluarnya ia dari gerbang Bukit Teletubbies.

Ia memberanikan diri jalan lurus mengikuti rute yang disarankan peta digital. Tujuannya: Curug Kembar Jurang Gandul. Tetapi matanya selalu melayang ke bawah tanpa dapat ia kendalikan.

Akhirnya ia menyerah dan menyusur balik jalan berangkatnya barusan. Jalur turun dari Bukit Teletubbies terasa lebih mudah dan cepat.

Seperempat jam kemudian ia sudah sarapan mie ayam — pada pukul satu siang — di tepi Jalan Raya Piyungan-Prambanan sambil merencanakan tujuan berikutnya: Spot Riyadi.

Tetapi ia akan mblusuk lagi, mengikuti rute di peta digital yang sudah menyesatkannya entah berapa kali itu. Ia berusaha mengingat-ingat rute itu untuk berjaga-jaga kalau sinyal hilang sepanjang perjalanan.

Sebelumnya, pada hari itu, beberapa kali ia harus memutar karena sinyal hilang dan jalurnya tidak akurat di peta.

Awalnya, pagi menjelang siang itu ia ingin langsung ke Spot Riyadi untuk memeriksa lokasi sunset dan memotret Candi Prambanan saat malam hari.

Tetapi ia, entah kenapa, tiba-tiba saja sudah membelok ke Bukit Teletubbies. Mungkin karena ia ingin menyegarkan ingatan tentang desa-desa tempat tinggal beberapa temannya saat SMP dulu.

Keputusan yang sangat mendadak dan di luar rencana itu lumayan memberi berkah. Ia melewati Desa Wisata Domes, sebuah desa dengan rumah-rumah berbentuk kubah untuk korban gempa 2006 silam.

Ia tak singgah, tetapi langsung melanjutkan ke Bukit Teletubbies, mengikuti petunjuk yang terpasang di setiap pertigaan dan perempatan.

Taman di Bukit Teletubbies cukup asri walaupun musim kemarau sedang parah-parahnya. Ada gardu pandang yang sangat cocok untuk memotret lanskap sunset.

Dari gardu pandang itu, seluruh rumah domes terlihat jelas. Tiga gazebo tersedia untuk berteduh. Tentu juga spot-spot swafoto yang cukup menarik — walaupun di tempat-tempat lain pun sekarang juga tersedia.

Tentu saja untuk tiba di tempat setinggi itu jalurnya juga lumayan menantang. Apalagi untuk orang yang fobia ketinggian. Jalur aspal menanjak dan berliku-liku diapit kebun-kebun kosong yang dilanda kemarau. Tak terbayangkan kalau malam!

Menuju Spot Riyadi

Ia pernah diberi tahu seorang penjual di warung saat main ke Candi Banyunibo tempo hari bahwa jalan menuju Spot Riyadi bisa, dan sebaiknya, melewati jalan ke Abhyagiri, sebuah restoran mewah besar yang cukup terkenal.

Tetapi ia ingin mencoba jalur lain yang menurut peta bisa dimulai dari Candi Banyunibo ke arah timur.

Ia sempat mencoba jalur ke Keraton Ratu Boko. Tetapi, jalur itu langsung menuju ke tempat parkir istana kuno itu. Jadi, ia berbalik dan mencoba jalur yang melewati Candi Banyunibo. Jalan menanjak dan berliku-liku lagi, lebih mengerikan dari jalur ke Bukit Teletubbies.

Di sebelah timur Candi Banyunibo, jalur konblok menanjak hampir 45 derajat. Sempat ketar-ketir juga, tetapi akhirnya ia bertemu jalur aspal lagi di sebuah pertigaan. Ke kanan Tebing Breksi, ke kiri Candi Barong dan sebuah dam — menurut peta digitalnya yang tersengal-sengal mencari sinyal.

Jalur menuju Candi Barong itu hancur. Batu-batu kerikil cukup besar mengancam membuat motor tergelincir. Sebelum dam, ia melewati semacam pabrik pengolah batu di sisi kiri jalan. Di pertigaan dekat dam, ia belok kanan dan mendaki lagi.

Akhirnya sampai juga di Spot Riyadi. Puncak Merapi berselimut awan. Langit biru tua. Candi Sojiwan dan Candi Prambanan tampak di bawah, sangat pas tertangkap bingkai kamera dengan lensa tele. Kalau sore atau malam, tentu pemandangannya memukau.

Ia menunggu matahari terbenam sambil menikmati kopi instan kegemarannya — dua bungkus coffemix dalam satu gelas kecil — dan menulis di ponsel. Sesekali ia mengobrol dengan dua anak kecil yang sibuk bermain game di belakang tempatnya duduk.

Sekitar pukul lima sore, lukisan senja mulai terbentang di langit. Spot Riyadi menghadap utara sehingga matahari di sisi barat terhalang pepohonan. Tetapi Candi Prambanan tampak jelas saat lampu-lampunya mulai menyala.

Pulang menyusur jalan berangkatnya tadi jelas bodoh. Untungnya, ada jalur yang lebih baik setelah ia bertanya pada tukang parkir dan seorang fotografer yang memotret bersamanya.

Jalur pulang itu melewati Abhyagiri. Jalurnya cukup mudah karena sudah konblok dan aspal. Tetapi jalur menurun menjelang Abhyagiri membuat jantungnya berdetak lebih kencang.

Walaupun begitu, ia pulang membawa serangkaian foto yang cukup memuaskan!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *