Menu

Sehari Seratus Kata: Sepak Bola dalam Kepala

Ia bukan pemain sepak bola yang baik saat badan mudanya masih segar dulu, terlebih lagi kini setelah usianya hampir mencapai kepala empat.

Saat masih kuat bermain dulu, ia sama sekali tak tangkas. Ia lebih sering lintang pukang mengejar bola atau melanggar pemain lawan.

Tetapi saat menonton sepak bola di televisi, terlebih klub kesayangannya, roman muka dan bahasanya bisa berubah-ubah seiring permainan di layar: ia selalu kesulitan mengendalikan mulutnya kalau sedang menonton sebuah klub dari kota pelabuhan di belahan utara Inggris.

Ia selalu menyempatkan diri mencari link streaming klub kesayangannya dan menikmati permainan itu dalam kesendirian di kamar kost yang suhunya anjlok.

Kalau kenyataan di lapangan kurang menggembirakan, ia menyalakan imajinasi dan tenggelam dalam dunia khayalan. Ia bisa berbicara panjang lebar tentang sepak bola.

Tetapi, ia tak pernah lagi mengenakan sepatu pool, berlari di lapangan, dan mengejar atau menendang bola: di usianya yang semakin uzur, dan sepi, ia lebih suka bermain bola dalam kepalanya saja.

No Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *