Menu

Resensi Buku Yasunari Kawabata: Cerita-cerita Telapak Tangan

Resensi buku Yasunari Kawabata: Cerita-cerita Telapak Tangan

Judul: Cerita-cerita Telapak Tangan
Penulis: Yasunari Kawabata
Penerjemah: Nurul Hanafi
Penerbit: Diva Press, November 2016
Tebal: 330 halaman

Judul buku ini sangat cocok: cerita-cerita di dalamnya sangat ringkas. Begitu ringkas sehingga seolah-olah bisa ditulis di atas telapak tangan. Tetapi mungkin dengan menggunakan aksara Jepang, bukan Latin.

Resensi Buku Yasunari Kawabata Cerita-cerita Telapak Tangan

Walaupun ringkas, tetapi cerita-cerita itu mampu menimbulkan semacam gema di benak pembaca. Semacam dorongan untuk memanjangkan atau melanjutkan narasi Kawabata dengan narasi yang dibangun sendiri oleh sang pembaca.

Novel-novel Kawabata, yang menjadikannya terkenal, dicirikan oleh alur lamban dan detail situasi dan psikologis yang intensif. Sehingga, Kawabata terkesan ambisius karena ingin menciptakan sebuah dunia tersendiri yang lengkap dan utuh. Tentu saja hal itu bisa dilakukan karena ruang dalam novel lebih luas.

Tetapi melalui Cerita-cerita Telapak Tangan ini, Kawabata menunjukkan bahwa ia pun juga bisa bertindak sebagai semacam penembak jitu. Ia bisa mengungkapkan psike tokoh dengan relatif tepat tanpa memerlukan ruang seluas novel. Dua atau tiga halaman pun cukup.

Resensi buku Yasunari Kawabata: Cerita-cerita Telapak Tangan

Tentu saja, keterbatasan ruang memaksa Nobelis sastra itu bereksperimen dengan bentuk atau melakukan miniaturisasi prosa fiksi. Ada 70 cerita dalam 330 halaman buku ini. Cerita-cerita itu ditulis antara awal 1920-an hingga 1970-an.

Rata-rata tiap cerita selesai setelah dua atau tiga halaman, tetapi memang ada beberapa cerita yang lebih panjang. Tema-tema dalam bunga rampai ini masih khas Kawabata, yaitu cinta, kesendirian, perubahan sosial, dan hubungan manusia dengan alam dan kematian.

Bentuk seringkas itu lebih dekat pada puisi. Momen “dibekukan” dalam semacam “potret” literer dengan nuansa tertentu, baik sedih, gaduh, maupun humor tragis. Seperti haiku atau lukisan Zen Jepang, yang kasat mata itu mendorong audiens untuk mencoba menyelami yang tak kasat mata di baliknya.

Tetapi, tidak semua cerita terasa “puitis”. Ada beberapa cerita yang lebih mirip fabel atau cerita religius. Cerita “Yang Terangkum dari Negeri Salju” sendiri, yang lebih panjang dari cerita-cerita lain, merupakan bentuk padat atau persiapan dari novel legendaris Kawabata, Daerah Salju.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *