Menu

Obat dan Kopi: Sehari Seratus Kata

Ia tak pernah minum obat setelah minum kopi. Tetapi denyut di kepalanya menjelang tengah malam itu sungguh menyiksa. Jadi, segera setelah kopi di gelasnya tandas, ia telan sebutir obat sakit kepala. Dari pengalaman, ia harus menunggu lima atau sepuluh menit sebelum sakit kepalanya reda.

Sambil menunggu sakit di kepalanya reda, ia menyalakan laptop dan membuka selembar halaman kosong di pemroses kata. Ia belum mampu bekerja, tentu. Halaman kosong yang berwarna putih itu dibukanya sekadar untuk memancing semangat saja.

Dan gagal. Tangannya hanya membeku di atas pangkuan. Tetapi kegaduhan bangkit dalam kepalanya. Begitu gaduh dan hiruk hingga ia sempat lupa pada sakit kepalanya. Ia coba mengatur hiruk pikuk dalam kepala itu agar dapat lebih mudah dipahami. Ternyata masih berhubungan dengan sakit.

Pada suatu sore di kampung halamannya, dulu saat ia masih SD, ia melihat kerumunan duka di depan rumah seorang tetangga. Jenazah baru saja tiba dari rantau yang jauh. Sebab meninggalnya, kata orang, karena ia minum obat sakit kepala setelah minum minuman instan bersoda.

Mungkin karena itulah ia pantang minum obat setelah minum selain air putih. Meskipun masih ugal-ugalan di usianya yang sudah berkepala tiga, ia masih belum mau mati konyol dengan salah minum obat. Tetap ia sepenuhnya sadar bahwa nasib adalah kesunyian masing-masing.

Tetangga yang meninggal itu bernama Bejo, tetapi nasibnya tak seuntung namanya. Seingatnya, tetangga itu masih muda. Mungkin usianya masih likuran. Tetapi boleh jadi tetangga itu beruntung karena mati di usia semuda itu. Usia dewasa, dan masa tua, punya peperangan yang berbeda.

Sambil membayangkan masa depan yang suram, ia berharap mudah-mudahan obat sakit kepala yang baru saja ditelannya tak membunuhnya malam ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *