Menu

Menguji Kesabaran Spanyol Lagi

Fernando Hierro tahu betul: yang terjadi pada Jerman bisa terjadi pada siapa pun. Ia juga tahu, menghadapi juara bertahan yang superior hampir di semua sisi lapangan, Meksiko memprioritaskan penguatan pertahanan, tetapi memastikan Hirving Lozano bisa mengoptimalkan kecepatannya dalam serangan balik dan melewati para pemain Jerman yang semakin tua.

Untungnya, gempa besar yang ditimbulkan pergantian pelatih telah berhasil sedikit diredakan. Hierro, dengan kondisi psikologis tim dan fans yang belum sepenuhnya stabil setelah pergantian pelatih yang sangat mendadak, bisa memotivasi pasukannya untuk tetap memainkan pola penguasaan bola yang sudah sepuluh tahun belakangan identik dengan Spanyol — saat lawan Portugal, mereka menguasai bola hingga 66,5% dengan tingkat keberhasilan umpan 92% yang menghasilkan 13 kali kesempatan melakukan tembakan.

Untungnya juga, Diego Costa mulai terlihat “nyetel” dengan gaya bermain Spanyol yang mewajibkan para pemainnya untuk bersabar dalam membongkar pertahanan lawan. Setelah tertinggal oleh gol cepat Ronaldo melalui penalti, Costa memanfaatkan kekuatan fisik dan ketenangan pikiran untuk menyeimbangkan kedudukan lalu memberikan keunggulan satu gol.

Dalam pertandingan pertama di grup B itu, Portugal bertahan sekuat tenaga tetapi tetap gagal mencegah Costa dan Nacho mencetak gol. Andaikan tidak ada Cristiano Ronaldo, tentu skor akhir bukan 3-3. Iran tak punya Ronaldo — walaupun punya pemain berjuluk “Messi Persia” pada diri Sardar Azmoun, Azmoun belum memperlihatkan alasan kenapa ia layak memperoleh julukan itu saat Melawan Maroko.

Iran hanya punya kemampuan bertahan dengan keras kepala yang membikin mandul tim diaspora Maroko selama 90 menit — dan hanya kebobolan 5 gol dalam 18 laga kualifikasi. Mereka hanya menguasai bola sebanyak 32,2%, tetapi memang itulah rencana permainan yang digariskan Carlos Quieroz: membikin frustrasi negara Afrika Utara itu dan memicu “keruntuhan mental” yang menyebabkan kesalahan Bouhaddouz yang mencetak gol ke gawang sendiri.

Tapi pelatih asal Portugis itu mengakui butuh pendekatan berbeda untuk menghadapi juara Piala Dunia 2010. Setiap pemain Spanyol, mulai dari kiper hingga striker, bisa menciptakan sesuatu di lapangan.

Namun, inti dari strategi Queiroz akan tetap pada pertahanan. Mustahil bermain terbuka melawan lini tengah Spanyol yang keseimbangannya dijamin Sergio Bosquets. Hampir mustahil juga menandingi kekuatan fisik Diego Costa atau menghentikan liukan Isco dan Silva di kedua sisi pertahanan Iran. Yang harus dilakukan pertama-tama dan terutama adalah bertahan, bertahan, bertahan, dan berdoa agar ada satu atau dua peluang serangan balik yang bisa dimanfaatkan.

Dan Spanyol sudah terbiasa menghadapi sabar tim yang lebih memilih membangun tembok di setiap jengkal lapangan ketimbang berhadap-hadapan secara terbuka. Gol-gol yang bersarang di gawang Portugal adalah bukti terakhir atas kesabaran Spanyol dalam membongkar tembok semacam itu.

Tepat seperti kata Queiroz, bahwa setiap orang di Spanyol bisa menciptakan sesuatu, gol Nacho memperlihatkan bahwa ketika lini serang kehilangan akal, seorang bek kanan yang biasanya hanya cadangan pun bisa menembak ke arah gawang.

Tentang serangan balik, kemungkinan besar Spanyol bisa tenang jika Iran melakukannya melalui sisi kiri pertahanannya: Jordi Alba masih bisa melesat mundur dengan kecepatan tinggi. Jika Dani Carvajal bugar, ia akan bisa menggantikan Nacho yang saat lawan Portugal kehilangan fokus, kalah adu lari, dan melakukan pelanggaran sehingga menyebabkan penalti.

Tapi Spanyol juga punya masalahnya sendiri. Sumber kecemasan terbaru adalah David De Gea. Kiper yang biasanya gemilang dan nir-kesalahan itu, saat melawan Portugal, membikin kesalahan tak terbayangkan dengan membiarkan bola tendangan Ronaldo menggelincir dari tangannya walaupun sudah tertangkap. Walaupun begitu, mengingat daya serang Iran kemungkinan bisa diredam Bosquets atau para bek, mungkin De Gea bisa lebih rileks dan tak perlu memamerkan kemampuan.

Yang perlu dilakukan Hierro adalah memastikan bahwa Iniesta dan para pemain lain yang diplot untuk menyerang tetap memiliki kesabaran untuk melihat setiap celah di tembok Iran pada Rabu, 21 Juni 2018 dini hari nanti.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *