Menu

Memotret Parangkusumo: Mendung

Jam digital di ponsel menunjukkan pukul 16.00. Terlambat, batinku dengan kesal. Aku tak akan bisa tepat waktu kalau jadi ke Paralayang.

Tapi aku tetap memaksakan diri bangun. Bodrex yang kuminum sebelum tidur lumayan manjur. Lima belas menit kemudian aku sudah jalan.

Perempatan neraka di ring road Wojo berhasil kulewati dengan selamat. Sepanjang jalan ke selatan kulirik matahari: langit merah muda dan sejuk.

Walaupun bensin mepet, kulewati dua pom bensin di Jalan Paris, dan baru mengisi bensin di pom bensin Patalan.

Pukul lima seperempat, kubelokkan motor ke arah Pantai Parangkusumo. Tak cukup waktu untuk ke Paralayang.

Aku baru tahu ada papan nama Pantai Parangkusumo yang besar sekali. Entah kapan dibuatnya. Kubawa kopi ke papan nama itu dan mulai memotret.

Matahari sudah hilang dari pandangan. Langit merah muda semakin samar dan akhirnya mendung. Untunglah aku tak jadi ke Paralayang. Tak ada sunset sore ini.

Aku tetap di Pantai Parangkusumo hingga pukul sembilan kurang seperempat. Kupraktikkan memotret panorama untuk mengakali ketiadaan lensa lebar.

Foto tunggal dengan lensa kit 18-55 kuedit di Lightroom. Hasilnya lumayan memuaskan. Kukirim hasilnya ke Anis, sekadar untuk berbagi saja.

Beberapa hari ini aku melewatkan momen penting karena mengurung diri di kamar saat pagi. Aku melewatkan letusan Merapi kemarin pagi, dan tentu saja pesta warna di langit saat matahari terbit.

Saat pulang, kukendalikan mataku kuat-kuat agar tak melihat paha-paha perempuan yang dipamerkan di sekitar Cepuri.

Fotografer yang buruk.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *