Menu

Isyarat dari Dunia Orang Mati: Sehari Seratus Kata

Ia tak tahu kapan tepatnya, tetapi kira-kira selepas tengah malam, ia tergeragap bangun oleh isyarat dari dunia orang mati itu: suara letusan dari arah kuburan. Rumahnya dan kuburan kampung hanya dipisahkan sepetak kebun kosong. Apa pun yang terjadi di kuburan, ia pasti akan tahu.

Biasanya, setelah mendengar isyarat itu, ia hanya akan menggumam “besok ada yang meninggal”, lalu kembali pulas. Atau, ia akan mendekap istrinya terlebih dulu, bersanggama secukupnya, lalu pulas. Hanya saja, suara letusan saat itu seperti berbeda dari biasanya.

Malam itu, ia menggumam seperti biasa, lalu berusaha terpejam lagi. Tetapi kantuk sudah terbang entah ke mana. Ia mendekap istrinya. Tetapi dada istrinya yang naik turun teratur itu pun tak membuatnya bergairah. Ia kembali telentang dan memandangi langit-langit yang putih.

Seperti kafan. Tiba-tiba saja pikiran itu tebersit dalam benaknya. Samar-samar ia merasakan udara menjadi lebih dingin. Bulu kuduknya meremang. Ia dapat mendengar riuh serangga menabuh malam, tetapi ia merasa bebunyian gaduh itu justru menebalkan kelengangan.

Tiba-tiba saja ia merisaukan tentang isyarat itu. Untuk siapakah isyarat yang dikirim oleh kuburan pada malam itu? Ia mencoba meneliti satu demi satu tetangga yang kira-kira cocok menjadi kandidat jenazah. Ada beberapa orang tua, memang, tetapi menurutnya mereka belum siap.

Bagaimana kalau letusan itu dimaksudkan untuk dirinya? Ah. Kalau ia mati besok pagi atau lusa, lantas siapa yang akan menjadi pembawa kabar kematian — utusan yang membawa pesan akan datangnya sebuah kematian untuk seseorang di kampungnya?

Tetapi ia mungkin tak perlu risau. Kuburan akan memilih orang lain, masih dari penghuni rumahnya juga, untuk menjadi pewarta isyarat dari jagat kelam itu. Ah. Apakah dunia orang mati itu memang kelam? Bukankah, menurut banyak orang, orang mati tak bisa merasa lagi?

Tak bisa merasakan sakit, dingin, sepi, getir, pahit, gelisah. Tentang orang mati, orang hidup selalu mengatakan, “sudah tenang di sisinya”. “Nya” siapa? Ah. Kenapa pula kau meragukan Tuhan, ia kutuk dirinya sendiri.

Kemudian tubuhnya tiba-tiba menjadi terasa ringan, dan ia merasa mengapung di atas dipan, semakin lama semakin tinggi. Lalu ia bangkit dan menunduk: ia lihat badannya sendiri telentang dengan tenang di atas dipan dengan mata terpejam di samping istrinya.

Ia tak merasa sakit, dingin, sepi, getir, pahit, gelisah. Ia tak mampu, dan tak ingin, merasakan apa pun.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *