Menu

Foto Tugu Pal Putih: Hari Pertama Ramadan 2018

Foto Tugu Pal Putih. Sudah tak terhitung berapa kali tugu ikonik ini dipotret. Foto ini wajib ada kalau orang liburan ke Jogja — selain foto Malioboro dan Nol KM, tentu.

foto tugu pal putih-wandering-java

Saya sendiri sebagai wong Jogja (tepatnya: Bantul) sudah beberapa kali mencoba memperoleh foto Tugu Pal Putih. Tapi, baru pada hari pertama Ramadan 2018 saya merasa cukup puas dengan hasil jepretan sendiri.

Pukul 2 siang di hari pertama Ramadan 2018, saya baru saja bangun tidur dan iseng-iseng buka WA. Ada pesan masuk dari Jarot, videografer sesama teman kuliah di kampus UNY dulu.

Jarot mengirimkan foto kameranya (Lumix G) sedang membidik Tugu. Karena badan lumayan segar dan sedang tidak mood bekerja, saya ingin menyusul ke sana.

Sebelumnya, tidak terbersit rencana sedikit pun untuk mencari foto Tugu Pal Putih. Entah malaikat mana yang merasuki pikiran, siang menjelang sore itu saya cepat-cepat mandi dan meluncur ke lokasi.

Rupanya Jarot sedang merekam time-lapse dengan kameranya itu. Saya baru tahu bahwa Lumix G bisa digunakan untuk merekam time-lapse, sudah bisa 4K dan ada Wi-Fi juga.

Tapi, saya sebagai fotografer pemula belum bisa move on dari Canon. Jadi, dengan 750D yang saya kredit dari HCI, sore itu juga saya segera tekun memotret long exposure sang tugu dan lalu lintas di sekitarnya.

Cuaca sedang tidak mendukung. Langit mendung sejak saya bangun tidur tadi. Saya sempat berpikir, hujan yang “salah musim” (Mei seharusnya sudah kemarau) ini adalah pertanda rezeki di bulan Ramadan.

Sedang asyik-asyiknya menyusun komposisi dalam bingkai, hujan pun benar-benar turun. Untung bisa berteduh di depan sebuah toko tutup. Tapi, saya sudah memperoleh “rezeki” berupa kenikmatan memotret.

Jarot pulang lebih dulu setelah hujan reda. Saya masih sibuk mengedit foto hasil jepretan yang sudah saya pindah ke iPhone 5S tua. Hasil edit menggunakan Lightroom mobile cukup lumayan, setidaknya buat saya sendiri.

Ada rona warna-warni dalam foto Tugu Pal Putih saya kali ini. Tentu saja itu hasil edit. Hanya saja, karena saya semakin memahami perangai warna digital dan cara mengolahnya, foto kali ini terasa lebih “kaya” dan “berwarna-warni”.

Foto hasil edit di ponsel segera saya terbitkan di Instagram. Untuk blog ini, saya utak-atik sebentar di Lightroom di laptop. Bikin ingin memotret lagi!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *