Menu

Duduk-duduk di Tepi Jalan, Malam

Kota ini lebih manusiawi pada malam hari. Tak sepenuhnya lengang, memang, karena sesekali ada kendaraan bermotor yang melintas. Tetapi cukup untuk mengistirahatkan telinga yang sepanjang hari dihempas kegaduhan.

Salah satu kesukaannya adalah duduk-duduk di bawah tiang lampu merah di pertigaan dekat sebuah pasar khusus ketela. Ia akan memesan segelas kopi saset kegemarannya dari warung kopi dekat pertigaan, lalu sibuk bermain ponsel di bawah lampu merah itu.

Sesekali ia simpan ponsel dan menerawang ke arah jalan, langit, atau apa pun. Tak penting benar ke mana tatapannya mengarah karena, saat menerawang seperti itu, ia tak memperhatikan yang dipandangnya.

Mata dalam benaknyalah yang memperhatikan apa pun yang sempat terpandang dalam jagat rumit dalam kepalanya. Sesekali ia berhasil menangkap sosok penghuni jagat itu, tetapi lebih sering kerumitan justru menjadi berlipat-lipat dan ia harus cepat-cepat meloloskan diri ke dunia daging dan tulang lagi agar tak porak-poranda.

Kalau jagat daging dan tulang kembalu terasa menjemukan, ia akan pulang. Tetapi ia berusaha menyempatkan diri untuk mengunjungi tiang lampu itu setiap malam: sebuah kerajaan kecil tempat ia bertahta, mungkin, kurang dari satu jam.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *