Menu

Dua Kastil

Kau lihat matahari melabur cakrawala dengan warna kulit jeruk matang yang teduh, seperti penebusan untuk siang menyilaukan yang telah menjerang semua yang ada di kolong langit.

Tak ada yang terluput: padi muda di sawah, pepohonan bugil di bukit-bukit jauh, dan Candi Banyunibo terbakar dalam senja. Juga sampul buku Kastil yang telah kau tutup di tanganmu dan seharusnya berwarna kafan dilabur warna penghabisan matahari itu.

Lalu kau tiba-tiba membayangkan kastil untuk para dewa yang tegak di hadapanmu itu sebelum dipugar. Bahkan batu-batu kali sekokoh pembangun candi pun akan runtuh di hadapan waktu.

Pun buku Kastil itu runtuh juga diterjang waktu: Kafka tak rampung menulisnya hingga sang pengarang dunia kelam jiwa manusia itu takluk di depan el-maut.

Tetapi untuk sesuatu yang memang berharga, akan selalu ada orang yang membangkitkannya kembali. Candi Banyunibo adalah saksi untuk orang-orang masa silam yang tahu menghormati sesuatu yang dianggap suci.

Pun sebuah novel, sekalipuk tak selesai, bisa menjadi sesuci candi, dan orang memerlukan untuk menggalinya dari kuburan manuskrip dan memugarnya kembali, meskipun dengan penyesuaian di sana-sini.

Seperti juga candi. Yang kini berdiri tegak utuh bisa jadi tak mirip seratus persen dengan yang dibangun para pembangun aslinya berabad-abad lampau. Tetapi ia, sang candi atau kastil para dewa itu, ada.

Kastil Kafka dan kastil para leluhur Jawa bersatu di satu saat dan satu tempat. Dan ia pun kembali memperdebatkan dengan dirinya sendiri: apakah ia benar-benar ingin moksa dan tak ada yang dapat menemukan jejak-jejaknya untuk dipugar dan didirikan lagi di suatu masa depan?

Kalau mengingat siksaan yang telah dialaminya selama ini, ya: ia ingin moksa saja, tak berkubur tak bernisan. Dan tak perlu ada yang mendirikan kastil untuk dirinya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *