Menu

Cinta Pertama: Sehari Seratus Kata

Ada beberapa kisah cinta yang, walaupun sangat berkesan, terlalu menyakitkan untuk diceritakan. Cerita semacam itu sebaiknya memang hanya dituliskan dalam buku harian. Atau, lebih baik lagi, tetap tinggal dalam kepala, bukan untuk dibagi dengan siapa pun kecuali dengan diri sendiri.

Tetapi ada juga kisah cinta yang, setelah sekian tahun, tetap tak berbahaya walaupun selalu diingat dan diceritakan ulang.

Ada seorang teman perempuannya di kampung halaman dulu. Gadis itu setahun lebih tua darinya dan ia selalu menyapa gadis itu dengan panggilan “mbak”. Gadis itu selalu menimbulkan rasa senang yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan saat berada di dekatnya.

Ia dan gadis itu sama-sama aktif di kegiatan masjid. Bahkan, ia bertemu gadis itu hanya di masjid, atau dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan masjid. Saat itu sudah banyak beredar selebaran tentang larangan pacaran atau haram mengucapkan selamat Natal.

Dulu ia percaya pada selebaran semacam itu sehingga tidak pernah berusaha mendekati gadis itu. Tetapi cinta punya jalannya sendiri, dan ia rajin mengikuti kegiatan remaja Islam masjid. Yang penting bisa bersama gadis itu, mengobrol, dan saling membantu mengerjakan tugas organisasi.

Saat itu lampu listrik di jalan belum sebanyak sekarang. Beberapa rumah masih menggunakan lampu minyak. Hanya ada radio brik-brikan, telepon genggam belum terbayang. Saat pawai takbir, peserta masih membawa obor sebagai penerang.

Dan suatu kali ia tak sanggup lagi menahan diri. Ia berencana nembak gadis itu saat malam takbiran. Tentu saja urung dilakukan karena pawai takbiran selesai menjelang tengah malam dan gadis itu terburu-buru pulang.

Ia sempat menawarkan diri untuk menemani pulang. Jalan menuju rumah gadis itu gelap. Siapa tahu ada hantu. Kata gadis itu, setan dibelenggu saat bulan Ramadhan. Lagi pula, rumah gadis itu hanya dipisahkan oleh sepetak kebun kosong saja dari kuburan. Soal hantu, gadis itu lebih paham.

Malam itu, sebelum tidur, ia merasa memperoleh isyarat. Ia akan sering jatuh cinta dan gagal mengungkapkan perasaannya dengan baik kepada seseorang. Isyarat itu memang benar.

Tentu, perasaan menggebu-gebu dan bersedia menyerahkan apa saja untuk memiliki gadis itu sudah hilang. Tetapi beberapa detail dan kesan tentangnya masih tersisa. Kini, ia selalu tersenyum dan menggeleng saat teringat pada gadis itu.

Bukan karena bahagia, melainkan karena senang telah diperkenalkan kepada cinta dengan cara yang menyenangkan untuk diingat: jalan gelap, hantu, kuburan, dan rencana yang gagal.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *