Audiens Digital: Branding Personal Cepat

Karena pasar audiens digital yang massif sudah terbentuk, para kreator seni saat ini tidak perlu pusing-pusing lagi saat ingin memamerkan karya, atau lebih jauh lagi: melakukan personal branding.

Audiens digital: Branding Personal Cepat

Blog dan situs web, tetapi terutama media sosial, menyediakan platform yang murah meriah dan dapat diakses di mana saja, dari mana saja, dan kapan saja — selama gawai (terutama perangkat bergerak) menyala dan tersambung dengan internet.

Itulah yang saya alami. Baru sekitar setahun ini saya memasuki dunia fotografi dan videografi sebagai kreator. Tapi,¬†branding personal saya yang paling kuat saat ini adalah “fotografer” dan “videografer”. Saya kira hanya sedikit yang tahu bahwa profesi utama saya adalah penerjemah.

Padahal, saya hanya menerbitkan karya foto dan video di Instagram (dan sesekali di Twitter dan YouTube) — dengan kualitas dan jumlah yang sungguh belum ada apa-apanya. Tapi, mereka yang baru belakangan ini kenal dengan saya biasanya memandang saya sebagai itu tadi: fotografer dan videografer.

Semua itu lantaran audiens digital yang sangat besar yang tersedia di medsos, terutama Instagram — yang memang dikenal berbasis visual. Kenapa pasar sebesar itu bisa terbentuk? Banyak faktor, tetapi yang jelas karena Instagram memiliki banyak pengguna.

Dari branding personal yang awalnya hanya main-main itu, saya beberapa kali dipercaya untuk memfoto atau membikin video oleh beberapa teman, dan memperoleh honor walaupun secukupnya saja. Untuk saat ini, jujur saja, besaran honor sungguh tidak penting.

Pasalnya, saya lebih ingin mengasah keterampilan saya dalam kedua bidang itu. Dulu, saat fotografi dan videografi digital belum semarak saat ini, saya hanya bisa membaca dan membayangkan teori-teori fotografi dan videografi karena harga alat yang mahal.

Sekarang, tiada hari berlalu tanpa memotret atau menyuting footage walaupun sekilas. Saya ke mana-mana membawa Canon 750D, kadang lengkap dengan aksesorinya. Sejauh ini, saya masih menikmati proses memotret, menyuting, dan mengedit serta selanjutnya memamerkan hasil utak-atik saya di akun Instagram.

Saya belum berpikir lebih dari itu, sungguh.

Tentu, saya sadar bahwa audiens digital di Instagram semacam itu punya jebakan sendiri.

Misalnya, kalau banyak orang yang menyukai atau berkomentar positif pada suatu foto, tentu saya senang. Tapi, apakah “suka” itu mencerminkan bahwa, setidaknya secara visual, karya saya itu sudah “indah” sehingga layak untuk “disukai” (secara digital)? Apakah yang menyukai itu hanya karena kenal dengan saya yang terkenal hangat, baik, dan ramah kepada setiap orang dalam konteks luring?

Nah, jadi memang harus hati-hati dalam menanggapi respons audiens digital itu. Yang jelas, saat ini saya memang masih menikmati memamerkan karya di Instagram. Tentu, kalau keterampilan sudah meningkat, saya juga ingin memamerkan karya di hadapan audiens yang lebih luas lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *