Menu

Bintang Pagi

Ia betul-betul tak ingat apa nama bintang pagi dalam bahasa Jawa. Nama yang langsung melintas di benaknya adalah “lintang panjer rino”. “Rino” berarti “hari”, seingatnya. Jadi, wajar saja kalau nama Jawa bintang pagi itu adalah lintang panjer rino. Tapi ia tetap belum yakin benar karena ada juga kata “rino wengi” yang berarti “saat malam” atau “hari malam”.

Pun ia juga tak bisa memastikan apakah bintang pagi di awal Agustus itu adalah Venus atau Merkurius. Seingatnya, kedua planet itu bisa terbit di ufuk yang berbeda dalam tahun yang sama: kadang menjadi bintang pagi, kadang menjadi bintang senja — bintang kejora. Tapi ia cukup yakin bukan Joko Belek atau Mars karena bintang-planet itu merah.

Pagi ini ia cukup beruntung karena bisa menyaksikan langit pagi yang cukup bersih. Bongkah-bongkah awan kecil merona kekuningan tepinya. Bintang pagi jernih dalam pandangan. Sepuluh menit kemudian gulungan mendung kelabu yang berat mendekat dari tenggara lalu menelan bintang pagi.

Tapi udara kian terang, dan jalan raya sempit di Prambanan, negeri seribu candi itu, mulai ramai dilintasi kendaraan. Hari baru telah benar-benar dimulai.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *