Menu

Usaha Memotret Sunrise Time Lapse

Kulihat di aplikasi, baterai kamera aksi Yi tinggal enam puluh sembilan persen — mungkin tak akan cukup untuk menuntaskan usaha memotret sunrise time lapse, pikirku.

Karena sudah terlambat untuk mengatur kamera seperti rencana awal, segera saja kupasang kamera, yang sudah bertengger di tripod kecil, di atas sebongkah batu.

Lalu aku menunggu sambil merokok. Udara perlahan menjadi hangat — hampir tanpa kusadari.

Suara air menggemericik yang kudengar sejak tiba di persawahan ini terus terdengar. Samar-samar kudengar pula suara katak dan serangga.

Lahan persawahan ini terletak di lereng bukit yang merupakan perpanjangan dari Pegunungan Seribu. Petak-petaknya kecil dan ditata seperti teras yang menurun — terasiring.

Batu putih bertonjolan di sela-sela pematang, licin pada pagi seperti ini. Tempat kutaruh kamera adalah batu yang cukup datar, tak jauh dari tepi jalan aspal yang sempit. Usaha memotret sunrise time lapse kumulai di sini.

Gunung Merapi di utara tampak menjulang dengan tenang. Langit di arah itu kelabu seperti langit di atas kepalaku.

Walaupun tempat ini tak seberapa tinggi, dari sini bisa kulihat kabut tipis di bawah sana. Ketika kabut terangkat semakin tinggi, sawah dan rumah di bawah tak kelihatan — putih semata.

Tiba di sini sekitar pukul enam kurang sedikit, jalan di depanku masih sepi. Tetapi semakin terang, semakin sering lalu lalang kendaraan: orang berangkat kerja, sekolah, dan entah apa lagi.

Matahari kian tinggi di atas garis pegunungan di timur. Cahayanya menyilaukan — aku harus menyipit dan melindungi mataku dengan tangan saat memandang ke arah itu.

Langit perlahan mulai menampakkan warna biru. Udara kian hangat. Usaha memotret sunrise time lapse semakin menjemukan.

Sudah setengah jam aku duduk menunggu, sambil bertanya-tanya: mungkin aku salah mengatur interval dan panjang time lapse. Tapi bukankah time lapse memang sebuah usaha untuk bersabar menghadapi waktu?

Sudah dua batang rokok kuisap, dan, walaupun sudah menebalkan muka hingga tak risih dilihat orang, rasa jemu mulai tak tertanggungkan.

Seharusnya aku membawa laptop sehingga bisa menyicil pekerjaan — dan tentu aku akan menjadi pemandangan yang tak biasa di lereng bukit ini.

Lalu kumatikan shutter kamera. Belum dua menit seperti rencana awal. Tapi kulihat hasilnya cukup lumayan: hanya kurang panjang. Kali lain akan kucoba lagi — mudah-mudahan aku masih bisa bangun pagi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *