Menu

Tess

Thomas Hardy, penyair dan novelis Inggris yang sering dianggap mengakhiri era Victorian dalam kesusastraan Inggris, mempersembahkan halaman-halaman novel besarnya Tess d’Urbervilles bagi Theressa, atau Tess, Durbeyfield, heroine yang, setelah halaman terakhir novel ini selesai dibaca, tampak kepada kita sebagai seorang Kristus berwujud perempuan.

Tess, seorang putri buruh tani, diperkosa seorang pemuda dari keluarga kaya, melahirkan seorang bayi yang kemudian meninggal, dan bersumpah tidak akan pernah menikah: ia merasa “tidak pantas” untuk menikah — saat itu usianya masih 16 tahun dan telah tidak perawan.

Angel Clare, yang ingin membuktikan keunggulan “filsafat” baru bernama “modern” di mana manusia dinilai berdasarkan nalarnya (reason) dan tindakannya dan akhirnya memutuskan untuk mempelajari pertanian dan peternakan di Thalbothy, tidak mengetahui tentang masa lalu Tess ketika ia jatuh cinta kepada gadis pemerah susu yang luar biasa cantik dan tampak cerdas itu.

Tess, senantiasa merasa “tidak pantas” untuk menikah, bersikeras menolak ketika Clare mengajukan pinangan. Tetapi pada akhirnya Tess takluk juga: ia sungguh mencintai Clare hingga taraf — menurut sahabatnya sesama pemerah susu di peternakan Thalboty yang gagal memperoleh simpati dari Clare — “bersedia mati untuk Angle Clare”: “She would have hold down her life for ‘ee.”

Pada malam pengantin, mereka saling melakukan pengakuan: Clare menceritakan tentang perilakunya di masa lalu dan Tess menceritakan tentang kemalangannya di masa lalu. Clare pernah terperosok dalam hubungan tak sah dengan seorang wanita yang lebih tua. Tess memaafkan masa lalu suaminya itu — sama sekali tanpa memerlukan alasan.

Angel Clare, orang yang mengklaim “modern” — dan jadinya masih terlihat agak “aneh” di abad ke-19, latar waktu tragedi epik Tess d’Urberville — mengakui secara logis bahwa istrinya tidak bersalah atas “ketidak-murniannya”. Kepada istrinya, ia mengakui: “You were more sinned against than sinning, I admit.”

Namun Clare gagal memperoleh pengesahan berupa “principle” (moral? — kalau ini memang istilah dan tafsiran yang tepat) untuk menerima Tess sebagai istrinya: “I do forgive you, but forgiveness is not all.”

Kita tidak diberitahu pengesahan berupa “principle” macam apa yang diinginkan oleh Clare, walaupun kita tahu ia mengeluh bahwa dirinya hanya “a husband by law”, bukan “a husband by nature” — ego? Kita hanya tahu bahwa alasan penolakan yang ia ungkapkan kepada Tess adalah bahwa ia mencintai “another woman in your shape”: Tess sebelum menikah, bukan Tess setelah pernikahan.

Kita juga hanya tahu bahwa Clare, yang mengklaim diri sebagai “modern”, terbentur pada kebingungan dan akhirnya memutuskan pergi — melarikan diri — ke Brasil, dengan alasan untuk mencoba peruntungan di negeri itu, tanpa mengungkapkan kemarahan kepada Tess ataupun menceraikan Tess — ia telah bersumpah tak akan melakukan itu dan “will do everything to avoid it”.

***

Thomas Hardy melukiskan sosok Tess sebagai sosok yang luar biasa cantik, dengan bibir yang selalu basah dan merah. Walaupun hanya putri seorang tenant (petani penyewa, buruh tani), Tess bisa menyelesaikan sekolahnya sehingga bisa membaca dan menulis. Tess belum tahu apa yang akan terjadi dengan masa depannya: ia masih seperti gadis-gadis desa yang lain, yang berdandan mati-matian sebelum berangkat ke perayaan-perayaan desa.

Perubahan nasib Tess diawali dengan pertemuan John Durbeyfield, ayahnya, dengan seorang parson (pendeta) tua yang mempelajari silsilah keluarga-keluarga bangsawan Inggris secara amatir. Parson itu memberitahu John bahwa si petani kecil layak disapa dengan sebutan “Sir”, karena dia keturunan salah satu keluarga bangsawan Inggris yang telah punah.

Durbeyfield, menurut parson itu, adalah korupsi dari nama d’Urbervilles, sebuah keluarga Normandia. Sir Pagan d’Urbervilles, leluhur keluarga itu, pernah menyertai William Sang Penakluk dalam penyerbuan di abad ke-10 yang membawa Kepulauan Inggris ke bawah kekuasaan orang Normandia — yang bertahan hingga sekarang. “Sir” John juga diberitahu bahwa ada sebuah keluarga bernama d’Urbervilles di dekat Blackmore Valley — desa tempat tinggalnya.

Sir John mengutus Tess untuk bekerja kepada keluarga itu dengan harapan tersembunyi: putrinya dapat menikah dengan salah satu anggota keluarga tua itu. Dengan begitu, Sir Joh berharap dapat melakukan apa yang oleh orang Jawa akan disebut sebagai “nglumpukke balung pecah”: menyatukan keluarga besar yang telah tercerai-berai.

Tess diterima di keluarga itu — sebagai “sepupu” sekaligus pekerja. Tugasnya adalah memelihara ungas-unggas ternak keluarga d’Urbervilles dan bersiul seperti burung setiap pagi di kamar nyonya rumah yang buta namun sangat peka pada suara. Tess menjalani pekerjaan itu dengan serius. Namun, ia tidak betah di sana: Alec d’Urbervilles, selalu menggodanya.

Alec d’Urbervilles, putra tunggal sebuah keluarga yang kaya raya, berhasil memperdaya Tess. Saat itu sudah lewat tengah malam. Tess berjalan pulang bersama sekelompok buruh tani dari pasar malam di sebuah desa. Alec menghampirinya dengan seekor kuda dan menawarinya tumpangan. Alec sengaja menempuh jalan yang lebih jauh agar mereka tersesat.

Dan peristiwa itu pun terjadi, lewat tengah malam, di sebuah hutan kecil. Tess tidak bisa melawan. Dan ia juga tidak mau tinggal lebih lama di rumah “saudara tuanya” itu. Ia tetap memilih pulang walaupun Alec mengiming-iminginya dengan uang dan berbagai kemudahan hidup.

Tess tak pernah keluar rumah hingga ia melahirkan. Ia tidak menggugurkan anak itu. Ia mengasihinya secara alami, dengan kasih sayang murni seorang ibu. Dan ketika anak itu sekarat, Tess mati-matian berusaha membujuk pendeta setempat untuk membaptis anaknya. Karena pendeta menolak, Tess sendiri yang melakukan pembaptisan. Esok paginya, bayi itu meninggal.

Joan, ibu Tess, mengirim Tess ke peternakan Thalbothy untuk bekerja sebagai pemerah susu — di jaman itu, setiap gadis dari keluarga petani di Inggris bisa memerah susu. Di Thalbothy, Tess menemukan gairah hidup lagi. Ia jatuh cinta kepada Angel Clare walaupun ia tidak ingin menikah dengan Angel: tak lama setelah kejadian perkosaan itu, Tess bersumpah tidak akan pernah menikah.

Tetapi cinta punya jalannya sendiri. Dan tragedi juga punya jalannya sendiri. Kebahagiaan Angel sebagai seorang laki-laki dan suami punah setelah malam pengakuan itu — malam setelah mereka diresmikan oleh gereja sebagai pasangan suami istri. Dan karena Clare dididik dalam keluarga yang religius — ayahnya adalah seorang parson ternama di kawasan Essex — ia tidak berniat menceraikan Tess.

Tetapi Clare juga tidak tahu apa yang akan dilakukannya dengan Tess. Ia masih memenuhi tanggung jawabnya sebagai seorang suami: ia memberikan nafkah untuk Tess. Bahkan, setelah Clare pergi ke Brasil dan melarang Tess menulis surat kepadanya selama satu tahun, jaminan keuangan untuk Tess masih diberikan: Clare meminta Tess menemui ayahnya bila istrinya itu benar-benar memerlukan uang.

Karena harga diri, Tess tidak pernah mengunjungi ayah mertuanya. Karena harga diri, Tess memilih mencari pekerjaan. Ia berjalan dari satu desa ke desa yang lain untuk mencari pekerjaan. Karena wajahnya yang cantik mudah mengundang perhatian, ia memotong bulu alisnya. Karena tidak banyak pekerjaan, Tess hanya memperoleh pekerjaan di sebuah pertanian yang tandus.

Ketika Tess tidak bisa lagi menahan rindu kepada suaminya dan situasi keuangannya semakin sulit, ia memutuskan untuk menemui ayah mertuanya. Namun, ia tidak pernah bertemu dengan parson itu. Hari itu hari Minggu. Tess tiba di rumah mertuanya saat si mertua masih di gereja. Sambil menunggu mertuanya pulang, Tess berjalan-jalan.

Tanpa sengaja, ia berpapasan dengan keluarga suaminya itu: tak satupun dari mereka yang mengenalnya. Dari penilaiannya, ia mengira keluarga parson itu menilai dirinya terlalu rendah: menganggapnya sebagai gadis keluarga petani yang tak berpendidikan, tidak tekun beribadah, dan miskin. Tess kembali ke pertanian tempatnya bekerja tanpa menemui ayah mertuanya.

Dalam perjalanan kembali ke tempat kerjanya, ia bertemu dengan seorang pengkhotbah yang disukai orang banyak. Tetapi Tess tidak suka dengan pengkhotbah itu karena ia tahu si pengkhotbah adalah Alec d’Urbervilles, orang yang telah memisahkan dirinya dari suaminya. Segera setelah Alec bertemu dengan Tess, dia berhenti menjadi pengkhotbah dan kembali menjadi Alec yang dulu: ia menginginkan Tess.

Ketika “Sir” John meninggal, Tess kembali ke rumahnya di Blackmore Valley. Bila seorang tenant meninggal, ladang garapan dan rumah yang ditempatinya harus dikembalikan kepada pemilik. Hanya laki-laki yang boleh menjadi tenant sehingga Tess dan keluarganya tidak bisa menyewa tanah dan rumah itu. Tak punya tempat tinggal, tak punya uang, Tess membawa ibu dan adik-adiknya ke Kingsbere.

Kingsbere adalah kota di mana leluhur d’Urbervilles meninggalkan banyak bangunan. Bahkan ada sebuah gereja yang didirikan oleh salah satu anggota keluarga d’Urbervilles di situ. Tetapi tidak ada rumah yang tersedia bagi keluarga Durbeyfield. Pada masa-masa sulit itu, Alec d’Urbervilles yang tidak pernah menyerah dan selalu ingin menebus kesalahannya kepada Tess, datang dan menyelamatkan mereka.

Angel Clare tidak pernah berhasil menaklukkan Brasil. Penyakit, kehidupan yang keras, dan janji-janji kosong pemerintah Brasil untuk memberikan tanah dan peralatan kepada para imigran, mengubah pemikirannya. Kini ia menganggap keputusannya untuk meninggalkan Tess adalah kesalahan besar. Ia harus kembali ke Inggris dan menebus kesalahannya.

Tess tidak pernah mengirim surat kepada Clare, sesuai pesan suaminya itu. Clare membutuhkan waktu lama untuk melacak Tess. Saat menemukan istrinya di sebuah hotel di Sandbourne, Tess telah dikenal masyarakat sebagai Mrs. d’Urbervilles, bukan Mrs. Clare. Namun, pertemuan dengan Clare menggoncang Tess hingga ia menusuk Alec d’Urbervilles dengan pisau pengupas buah.

Angel Clare dan Tess Durbeyfield bersembunyi di hutan-hutan selama berhari-hari dan tidur di hutan dan rumah-rumah kosong hingga mereka tertangkap di Stonehenge.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *