Menu

Tentang Penyair dari Neraka dan Terjemahan Saya

Suatu hari di tahun 2008, ketika saya sedang kalut dengan berbagai kontradiksi yang saya jumpai dalam pemikiran maupun kehidupan sehari-hari, saya bertemu dengan Rimbaud.

Saya membaca semua teks yang tertayang di situs Mag4.net itu. Di saat itu, saya merasa “punya teman”: saya punya banyak pikiran buruk – dan tentu juga banyak pikiran baik – yang terlalu berbahaya bagi saya sendiri dan mungkin juga orang lain. Dan Semusim di Neraka, tiba-tiba, menyuarakan semua yang buruk dan baik itu.

Di tahun 2008 itu juga saya menerjemahkan puisi prosa luar biasa itu. Saya terbitkan hasil terjemahan saya di blog ini. Lalu, ketika Facebook mewabah, saya terbitkan bagian awal terjemahan itu di akun Facebook saya. Tetapi sejak 2008 itu saya telah merasa yakin bahwa karya ini harus diterbitkan secara utuh dalam bentuk buku – cetak.

Empat tahun saya peram, revisi, dan diskusikan hasil terjemahan saya dengan beberapa orang yang berminat – termasuk dengan pujaan hati saya, tentu. Lalu, ketika teman saya Indrian Koto mulai giat berjualan buku sastra dan mulai membayangkan punya penerbit sendiri, saya menceritakan tentang hasil terjemahan saya itu.

Setahu saya, belum ada terjemahan karya ini dalam bahasa Indonesia, sebagian maupun utuh. Rimbaud yang pernah sampai kepada pembaca Indonesia mungkin hanya Rimbaud dalam buku puisi Perancis terjemahan Wing Kardjo yang terbit pada 1970-an. Di buku itu, terdapat sajak berjudul Impian Musim Dingin karya Rimbaud.

Jadi, setelah mendengarkan mimpi dan visi +indrian koto yang panjang lebar – dia bicara seperti kalau menulis cerpen atau esai: panjang dan lama dan, tentu, imajinatif – saya tawarkan terjemahan saya itu kepadanya. Gayung bersambut. Terjemahan saya itu akan dicetak sebagai sebuah buku, bersama dengan hasil terjemahan esais Tia Setiadi atas puisi dan surat-surat Rilke.

Sampai saat saya menulis blog ini, kedua buku itu belum terbit. Bahkan tahap pra-produksi pun belum kelar. Saya membutuhkan waktu beberapa hari untuk menyusun pengantar penerjemah dan biodata Rimbaud. Sekarang saya tinggal mengirimkan biodata penerjemah (saya) kepada Indrian, yang menangani layout dan – nantinya juga – cetak, promosi dan pemasaran.

Sesungguhnya, proses penerbitan buku terjemahan saya ini sudah dimulai sejak sebelum lebaran – saya lupa kapan tepatnya. Karena Koto harus pulang kampung dalam rangka lebaran, buku yang menurut rencana awal akan terbit September itu molor – sampai sekarang, walaupun promosi sudah cukup gencar dilakukan.

Kini, saya tinggal mengirim biodata saya sebagai penerjemah kepada Pak Direktur/Pimred/Penata letak/Marketing, lalu siang nanti saya akan menemani beliau mencari tempat mencetak yang murah tetapi berkualitas. Walaupun saya belum tidur sejak semalam, saya yakin nanti siang, selepas tengah hari, saya bisa menjelajah bersama cerpenis cum penyair cum pengusaha itu.

Saya berharap buku itu dapat segera terbit sehingga pembaca di Indonesia yang, walaupun mungkin fasih berbahasa Inggris tetapi agak malas membaca teks dalam bahasa itu, dapat menjumpai Rimbaud dalam bahasa Indonesia. Tentu, saya juga berharap nanti mereka memberikan masukan kritis-konstruktif tentang hasil terjemahan saya.

Tetapi, harapan terbesar saya adalah bahwa para pembaca Indonesia dapat mengenal lebih dekat Penyair dari Neraka panutan saya itu. Saya tidak tahu bagaimana pastinya, tetapi saya merasa bahwa setiap orang yang memiliki kepekaan, kejujuran dan/atau pendidikan yang cukup tinggi pasti sudah pernah, atau sedang, atau akan mengalami apa yang dialami Rimbaud – dan saya: neraka.

Di luar perkara teknis “bentuk”, “isi” Semusim di Neraka sungguh inspiratif. Walaupun setelah karya ini Rimbaud meninggalkan kesusastraan sama sekali – saat itu usianya belum genap 20 -, karya ini justru dapat dimaknai sebagai semacam mekanisme penyucian diri bagi Rimbaud – dan “umat”-nya. Setelah melewati neraka itu, Rimbaud telah memiliki kebenaran di dalam satu tubuh dan satu jiwa.

Jadi, setelah mencapai tujuannya itu, apa yang tersisa pada bahasa dan puisi bagi Rimbaud? Mungkin karena itulah dia berhenti menulis puisi – sebab yang pasti sampai saat ini belum jelas. Setelah karya ini, Rimbaud lahir sebagai seorang manusia yang baru, tanpa puisi: dia menganggap karya-karyanya itu “menggelikan, menjijikkan”.

Saya masih jauh dari kebenaran dalam satu tubuh dan satu jiwa itu. Karena hingga saat ini pun saya masih berusaha menulis, membaca, dan menghayati puisi. Saya belum bisa menganggap karya saya sendiri maupun karya orang lain “menggelikan, menjijikkan”.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *