Menu

Tentang Mati

Dia tak ingat kapan tepatnya dia mulai mati-rasa pada berita duka. Mungkin setelah dia membaca Auspex di Albatross Book of Living Verses itu – buku yang membuatnya begitu terkesan hingga dia mencurinya dari perpustakaan universitas – tiga belas tahun lalu.

Kadang-kadang mati-rasa itu menimbulkan masalah untuk dia. Saat mendengar kabar bahwa salah satu kerabat jauhnya atau tetangganya atau kenalannya atau temannya meninggal, dia kesulitan memperlihatkan kesedihan. Dia selalu yakin, kematian itu niscaya. Jadi, apa yang perlu disedihkan dari kematian?

Karena itulah dia sering kali hanya mengucapkan “innalillahi…” lalu bicara alakadarnya tentang almarhum – jika dia kenal. Setelah itu dia melanjutkan hidupnya seperti biasa.

Berita duka adalah hal yang biasa saja baginya, seperti berita-berita pada umumnya. Dia merasa tidak wajib untuk bersedih atau terharu. Dia hanya merasa wajib untuk tahu – tepat seperti kalau dia membaca berita. Dan dia sama sekali tidak merasa wajib untuk melayat.

Namun, memang ada saat dia, tanpa dapat dia cegah, merasakan sesuatu berguncang dalam dirinya saat mendengar suatu berita duka.

Walaupun tak seberapa terkejut, saat mendengar berita duka tentang seorang mantan teman sekantornya dulu, dia tiba-tiba merasa sedih. Mungkin karena temannya itu penulis resensi buku yang andal dan dia sendiri mencintai buku sehingga dia merasa memiliki ikatan dengan temannya itu.

Lalu beberapa hari lalu seorang penulis yang sebaya dengannya meninggal. Dan kali ini dia merasakan lagi guncangan itu. Rasanya memang aneh. Dia sama sekali tidak kenal penulis itu secara pribadi. Dia hanya kenal melalui tulisan-tulisannya di buku dan koran. Dia juga sangat yakin penulis itu tidak mengenalnya. Namun, dia merasakan guncangan itu.

Dia sempat berpikir bahwa guncangan-guncangan itu timbul karena, mungkin, sudah tiba saatnya dia memikirkan kematian sebagai pengalaman ragawi, bukan lagi pengalaman batin dan rasional yang puitik seperti yang selama ini dipraktikannya. Namun, mungkin juga karena dia telah mulai mengalami sisi-sisi hidup yang selama ini hanya ada dalam pikiran dan angan-angannya.

Dia kini punya tenaga yang besar dan rencana-rencana yang rapi untuk mencapai ambisi-ambisinya dan untuk itu dia harus tetap hidup. Kesadaran akan fakta bahwa ajal dapat menjumpai seseorang pada waktu yang tak diduga-duga membuat dia mulai merasakan gigitan rasa cemas – bukan takut – bahwa dia tak akan punya cukup waktu untuk mencapai ambisi-ambisinya itu.

Dia haus hidup karena hanya dengan hidup dia dapat mencapai ambisi-ambisi itu. Namun, seperti kata seorang penyair, orang yang haus akan hidup juga haus akan mati. Dan dia memang selalu sadar bahwa dia begitu sering memikirkan kematian. Dia haus akan mati. Dia pernah membayangkan, jika bisa, dia ingin bisa mati berkali-kali. Ah, tentu akan banyak sekali peti mati yang berisi jasadnya.

Namun mati-rasa ini juga memberinya rasa nyaman. Karena dia yakin bahwa kematian itu niscaya, maka dia mengerti bahwa dia sendiri pasti akan mati. Entah kapan tapi pasti – walaupun dia pernah membayangkan menjadi Duncan McLeod si manusia abadi. Dan karena itu dia merasa tidak perlu bersedih jika telah tiba saatnya sendiri untuk mati. Lagipula, orang mati tak bisa bersedih, bukan?

Karena itulah dia juga selalu bersiap untuk mati. Di rumah, di jalan, di kamar mandi. Dia sadar betul bahwa kematianlah yang memegang hak untuk menentukan kapan dan di mana dia akan mati. Namun, tentu, dia punya bayangan ideal untuk saat kematiannya.

Dia ingin mati saat duduk di bawah pohon rimbun pada saat hari masih terang. Setumpuk puisi di pangkuannya. Angin berembus sepoi-sepoi, menggugurkan daun-daun layu yang mengapung sejenak di udara sebelum turun perlahan untuk mengafaninya dan puisi-puisi di pangkuannya – puisi-puisi yang ditulisnya.

Dan dia berharap tidak ada yang bersedih saat mendengar berita duka tentang dirinya. Karena dia ingin orang-orang mengerti, seperti dirinya, bahwa kematian itu niscaya dan perlawanan apapun untuk menyangkalnya adalah sia-sia.

Namun, tentu, dia juga menghormati calon-calon almarhum yang masih bersikeras melawan kematian meski mereka tahu pada akhirnya mereka akan kalah. Mungkin dia pun akan seperti itu juga. Namun, mungkin pula dia hanya akan pasrah seperti bayangan idealnya itu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *