Menu

Sunset di Pereng Kulon

Bukit itu memanjang dari utara ke selatan, dan rumah orang tuaku terletak di sebuah dusun di sebelah timurnya, dipisahkan oleh bulak atau lahan persawahan dan ladang tebu yang luas milik Madukismo. Dalam Bahasa Jawa, lereng apa pun disebut “Pereng” dan barat adalah “Kulon”. Jadi, masuk akal kalau kami, warga di sebelah timur bukit ini, menyebutnya “Pereng Kulon”.

Namun, sore itu, saat aku dan keponakanku menyusuri jalan mendaki di bukit itu, kulihat nama “Pangol” di dinding sebuah gardu siskamling. Baru kali itu aku tahu bahwa kampung di bukit itu punya nama yang berbeda dari yang kuingat. Baru kali itu juga aku tahu bahwa kampung itu merupakan bagian dari kampung lain. Di dinding itu, “Pangol” diikuti dengan “Payak Tengah”, nama sebuah dusun di tepi Jalan Jogja-Wonosari.

Ada beberapa hal yang kuingat cukup jelas tentang bukit itu dari masa kecilku. Rumah salah satu temanku di SD ada di bukit itu, tapi aku tidak pernah berkunjung ke sana. Saat SMP, aku dan beberapa teman pernah mendaki Pereng Kulon dari sisi timur, lalu menuruni jalan setapak di sisi barat, menyeberangi sungai, dan tiba di sebuah dusun bernama Bintaran, tempat salah satu guru SD-ku tinggal.

Di sisi timur itu, agak ke utara, sungai di kampungku yang mengalir ke barat bertemu dengan sebuah sungai kecil yang mengalir dari selatan. Kemudian keduanya menjadi satu aliran sungai, mengitari sisi utara Pereng Kulon, bergabung dengan anak sungai lain, lalu mengalir menyusuri sisi barat Pereng Kulon. Aku ingat, saat masih kecil dulu, aku pernah menonton mobil-mobil jeep mendaki sisi timur Pereng Kulon.

Kira-kira sudah dua puluhan tahun lebih aku tak pernah ke Pereng Kulon lagi. Tapi, kulihat tidak banyak yang berubah. Jalan dari kampungku ke bukit itu masih rusak. Hanya saja, jalan menanjak ke arah utara sekarang sudah berupa sepasang jalur yang disemen. Ada sebuah gundukan kecil di tepi jalan yang menurutku ideal untuk memotret matahari terbit karena pandangan ke arah timur dan utara tak terhalang apa pun dari situ.

Niatku sore itu adalah memotret sunset. Aku berharap bisa memperoleh pemandangan sebagus foto temanku di Becici tempo hari. Tapi, selepas jalan gundukan kecil, ingatanku tentang Pereng Kulon tidak lengkap. Kusuruh keponakanku untuk terus naik dan mencari tempat yang bagus untuk memotret. Dari sela-sela pepohonan, kulihat rona kekuningan langit yang semakin redup dan aku bersiap kecewa.

Namun, kemudian kami berbelok di sebuah tempat dan aku bersyukur. Ada bekas fondasi di tempat itu. Kulihat ada bekas lantai papan di sebuah pohon, dan kuduga pernah ada yang mencoba mengelola tempat ini menjadi tempat wisata dengan sajian utama pemandangan senja dan kota dari ketinggian. Memang tempat ini cukup tinggi, tapi tak setinggi Bukit Bintang atau Puncak Becici.

Sekitar lima meter dari bekas fondasi, kami langsung bertemu dengan tebing. Ada sepasang kekasih duduk-duduk di tepi tebing itu saat kami tiba. Terhampar pemandangan Bintaran dan dusun-dusun lain di bawah sana. Jauh di barat dan utara, kulihat beberapa cercah lampu listrik. Agak di selatan, di sela-sela rerimbun pepohonan, kulihat jalur sungai. Sayang sekali, bongkahan awan mendung menggantung di atas cakrawala.

Secuil senja dan lampu-lampu Jogja yang mulai menyala.

Tapi, masih ada rona senja kekuningan yang masih dapat tertangkap kamera kecilku. Warna yang kunantikan, yaitu merah kesumba seperti hasil foto temanku di Becici, muncul sesaat sebelum azan magrib berkumandang. Ketika semakin banyak lampu-lampu yang menyala di bawah, kukemasi peralatanku dan kuajak keponakanku pulang. Kapan-kapan aku akan ke sini lagi dan mudah-mudahan kudapatkan sunset yang kuharapkan.

 

No Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *