Menu

Studi Kedjawen

Saya sedang tertarik dengan Kedjawen. Kedjawen di sini harus dibedakan dari Kejawen. Kedjawen adalah ajaran tentang sebuah tata nilai yang stabil dan, menurut para peyakinnya, lebih tua daripada agama-agama samawi maupun non-samawi. Sedangkan Kejawen adalah ekspresi dari nilai-nilai yang dianggap sebagai khas “Jawa”. Karena “Jawa” sendiri sering sukar didefinisikan, maka Kejawen sendiri, menurut saya, masih bersifat labil.

Minat utama saya bukan pada aspek “mistik” (dalam artian “klenik”) ajaran ini, melainkan pada kosmologi dan operasionalisasi nilai-nilai yang diturunkan dari kosmologi tersebut dalam lingkup makro maupun mikro. Secara praktis, saya tertarik dengan cara seorang penganut Kedjawen memandang dunia berdasarkan kosmologi dan bagaimana dia bersikap dan bertindak dalam kehidupan sehari-hari dalam segala bidang.

Pada mulanya, memang, aspek “mistik” itulah yang menarik perhatian saya. Barangkali karena pada dasarnya fakultas imajinatif saya sangat aktif – karena itulah saya suka membaca dan menulis cerita pendek dan, terutama, puisi. Namun, aspek ini menjadi prioritas kedua setelah saya mulai banyak bertanya dan membaca tentang topik ini.

Hal pertama yang harus ditekankan dalam “studi” saya ini adalah bahwa Kedjawen sangat percaya pada akal, atau pikiran, atau logika. Bagi seorang Kedjawen, segala sesuatu di dunia ini sebenarnya dapat dipahami dengan logika, atau katakanlah dapat “di-ilmiah-kan”. Segala sesuatu dapat dibuktikan. Jika belum ada bukti, seorang Kedjawen tidak akan mempercayai suatu fenomena maupun noumena.

Karena itu, pada dasarnya seorang Kedjawen adalah seorang skeptis. Dia menjalankan salah satu tahap dalam studi ilmiah: keraguan. Seorang Kedjawen adalah seorang skeptis. Dia selalu bertanya dan tidak akan merasa puas dengan suatu jawaban sampai jawaban itu memberikan bukti material maupun spiritual. Inilah titik awal dari ajaran Kedjawen.

Cocok sekali dengan sikap saya selama ini yang skeptis – walaupun sering disalahartikan sebagai pesmimistis oleh orang lain. Saya bisa memahami bahwa bukti yang diminta oleh sang Kedjawen harus merupakan bukti material, namun jujur saja saya belum sepenuhnya memahami mengapa bukti itu harus juga bersifat spiritual. Barangkali karena pengalaman “mistik” atau “klenik” atau “gaib” saya belum seberapa.

Sebelum lebih jauh, saya ingin menekankan pengertian “spiritual” yang selama ini saya yakini. “Spiritual” adalah terma atau istilah umum yang merangkum segala hal yang non-material. Sementara yang material adalah fenomena, bagi saya yang spiritual adalah noumena. Yang spiritual bersifat, katakanlah, “batiniah”.

Karena itu, yang spiritual mencakup pemikiran, kesadaran, penghayatan, atau segala sesuatu yang tidak dapat ditemui sebagai dirinya sendiri, tetapi harus diekspresikan, atau “di-fenomena-kan”. Ketika terekspresikan, atau menjadi fenomena, yang spiritual bukan lagi merupakan noumena dan dengan demikian mengalami semacam korupsi.

Karena itu, ketika saya mengatakan, misalnya, “pengalaman spiritual”, saya merujuk pada semua pengalaman akan “segala sesuatu yang non-material”. Emosi adalah material karena bisa diukur dengan parameter tertentu, misalnya detak jantung, roman muka, bahkan juga tulisan atau pilihan lagu yang didengarkan. Secara ekstrem, saya meyakini bahwa yang spiritual sering, tetapi tidak selalu, bersifat individual, unik, dan hanya dapat di-rasa-kan dan di-hayati.

Kembali ke titik awal pemahaman Kedjawen, saya terapkan prinsip dasar ini dengan ketat. Selama ini, saya mengarahkan sikap skeptis saya kepada segala hal dan ketika tertarik dengan Kedjawen, saya pun mengarahkan sikap skeptis itu kepada ajaran ini juga. Terhadap agama di KTP saya, Islam, sudah lama saya memiliki tafsir yang berbeda dari tafsir yang diajarkan di masjid. Begitu pun dengan Kristen Katolik maupun Protestan, Hindu, dan Buddha.

Banyak sekali pertanyaan atau keberatan yang saya ajukan kepada Kedjawen, yang terpaksa saya jawab sendiri melalui perenungan dan membaca. Update: Karena saya belum punya “guru” – sosok yang “wajib” ada dalam perjalanan spiritual seorang Kedjawen (yang membuat Kedjawen mirip dengan ajaran-ajaran esoteris lain seperti tarekat yang menggunakan agama samawi – Islam – sebagai titik berangkat).

Update: setelah dipikir-pikir dan melalui beberapa pengalaman, saya tidak membutuhkan sosok guru tertentu karena guru yang paling cocok adalah bertebaran seluruh buana ini. Sosok-sosok yang pernah saya jumpai dan punya potensi untuk menjadi guru spiritual ternyata tidak sempurna dan bikin saya kurang sreg.

Selama saya sempat, saya akan mencatat kemajuan (atau kemunduran) studi Kedjawen saya. Panduan saya hanya satu: seperti Sherlock Holmes, segala aspek dari sesuatu harus fit in dengan alur logika. Jika tidak demikian, maka sesuatu itu hanya bullshit atau, agar tampak lebih lembut, sebaiknya dianggap sebagai hiburan, olahraga otak, atau salah satu alternatif dari sekian banyak alternatif yang ada.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *