Menu

Sembilan Wawasan Celestine Prophecy

Saya selalu ingat, walaupun hanya samar-samar saja bagaimana kalimat setepatnya, pada pernyataan Hudson Smith dalam sebuah buku yang saya lupa judulnya, bahwa agama yang terlembaga memiliki dua lapisan, yaitu lapisan eksoteris dan lapisan esoteris. Saya memahami pernyataan ini secara sederhana sebagai dua metode untuk “mencapai” Supreme Being atau entitas spiritual yang lebih tinggi atau Tuhan.

Secara sederhana, eksoteris (dari kata “ekso” yang berarti “luar”) merujuk pada suatu tatanan yang “membungkus” sesuatu dan “bungkusan” ini dapat dipersepsi oleh panca indera. Yang eksoteris adalah syariat, ritual, upacara. Sedangkan esoteris merujuk pada “sesuatu” yang dibungkus oleh “bungkusan” eksoteris itu – atau “hakikat”.

Hudson Smith menyatakan, sementara yang eksoteris pada berbagai lembaga agama dapat memiliki wujud yang berbeda-beda, yang esoteris (atau “hakikat”) pada semua lembaga agama tersebut sebenarnya sama.

Saya selalu memahami lapisan-lapisan ini dengan membayangkan beberapa orang yang memakai baju yang berbeda-beda tergantung pada kesukaan masing-masing orang, tetapi entitas di balik baju itu pada hakikatnya sama, yaitu manusia (baju = syariat, ritual, upacara, manusa yang memakainya = hakikat, inti ajaran).

I

Setelah mulai mendalami Kedjawen atau ajaran-ajaran esoteris yang lain selama sekitar dua bulanan ini, termasuk membaca buku-buku kanon filsafat dengan lebih kritis, saya merasa semakin yakin dengan kebenaran pernyataan Hudson Smith itu – selama ini saya memahami ajaran-ajaran religius dan/atau spiritual dengan memilah setiap ajaran menjadi dua lapisan itu.

Pendek kata, bagi saya, semua ajaran religius non-samawi memiliki inti yang sama dengan ajaran religius samawi, yaitu “mencapai” Supreme Being atau entitas spiritual yang lebih tinggi atau Tuhan (saya selalu merasa lebih baik dan mudah dimengerti bila menggunakan tiga terma ini dalam satu kesatuan).

Dengan keyakinan yang semakin kuat seperti itu, “tiba-tiba” saja saya teringat kepada The Celestine Prophecy karya James Redfield. Saya ingat, saya pernah membaca buku ini di semester-semester awal. Buku itu hasil terjemahan yang diterbitkan Gramedia. Selain buku itu, saya juga membaca sekuelnya, yaitu The Ten Insight dan The Secret of Shambala.

II

Entah kenapa saya tidak pernah bisa mengingat dengan jelas kesembilan wawasan dalam The Celestine Prophecy. Mungkin karena saat pertama kali membaca buku itu saya tidak melihat “isi” novel itu, tetapi “bentuk”-nya – karena pada saat itu saya sedang mabuk sastra.

Atau mungkin juga karena setelah membaca rangkaian novel itu saya sudah membaca The Lost Horizon (saya lupa siapa pengarangnya) yang pinjam dari perpustakaan Himpunan Mahasiswa di kampus saya, yang seingat saya bercerita tentang penumpang pesawat yang jatuh di Tibet dan bertualang di Negeri Atap Dunia itu.

Seingat saya, pernah ada yang menyatakan bahwa The Lost Horizon lebih dulu membahas tema yang dibahas The Celestine Prophecy — spiritualitas yang mirip dengan spiritualitas yang diajarkan di Tibet. Hanya saja, ketika membaca The Lost Horizon, saya tidak memahami “isi” yang berupa ajaran spiritual karena saya lebih tertarik pada “drama”-nya.

Pada tahun-tahun itu, saya punya kecenderungan untuk menghormati “siapa yang lebih dulu”. Karena, saya selalu merasa bahwa menulis dan membaca buku mirip dengan perlombaan pada masa penjelajahan geografis oleh orang Eropa: siapa yang lebih dulu “menemukan” suatu benua (atau buku), maka dia mendapat kehormatan. The Lost Horizon lebih dulu “menemukan” Tibet, sehingga The Celestine Prophecy “kalah” adan berada di tempat kedua. Penghormatan saya pertama-tama diberikan kepada The Lost Horizon.

III

Kini, beberapa tahun setelahnya, dan setelah meyakini adanya interconnectedness (kesalingterhubungan) antara sesuatu hal atau peristiwa dengan hal atau peristiwa lain, saya mencoba me-“rasionalisasi” ketidakingatan saya kepada sembilan wawasan Celestine itu sebagai “belum waktunya”. “Belum waktunya” – istilah yang saya terjemahkan dari omongan orang Jawa: “durung wayahe” – saya memahami wawasan-wawasan itu karena bekal spiritual saya belum cukup.

Jadi, bukan kebetulan tanpa makna jika saya tidak ingat kesembilan wawasan itu. Bukan kebetulan tanpa makna pula jika saya sekarang ingin tahu tentang kesembilan wawasan Celstine. Kebetulan sekali – yang bermakna sesuatu – bahwa saya sedang mempelajari Kedjawen dan teringat pada sembilan wawasan itu. “Kebetulan-kebetulan yang bermakna” (meaningful coincidences) inilah yang sekarang saya yakini, yaitu berdasarkan prinsip interconnectedness itu.

Nah, malam ini saya, dengan penuh rasa ingin tahu, mengetikkan kata kunci “celestine prophecy james redfield” di kolom pencarian Google. Setelah membuka-buka beberapa halaman dari situs web utama James Redfield, saya menemukan halaman ini. Bukan saya malas membaca buku-buku James Redfield lagi, tetapi buku-buku itu sudah entah di mana. Jadi, saya membaca kesembilan wawasan yang telah diringkas dan kemudian menerjemahkannya.

Saya rasa, menerjemahkan ringkasan sembilan wawasan itu sudah cukup untuk menyibak tumpukan ingatan. Tentu, “laku” yang ideal adalah membaca lagi buku-buku James Redfield.

Ringkasan Sembilan Wawasan Celestine

Diringkas oleh Alan Atkinson (Agustus 1994)

  1. Merasa gelisah? Kau tidak sendirian: setiap orang mulai mencari makna kehidupan yang lebih tinggi. Mulailah memperhatikan “kebetulan-kebetulan yang tampaknya tak mengandung makna apa-apa” – yang sebenarnya merupakan kejadian-kejadian aneh yang memiliki maksud tertentu. Kejadian-kejadian ini sebenarnya merupakan peristiwa-peristiwa siknronistik dan mengikutinya akan menjadi awal bagi perjalanan spiritualmu.
  2. Amati kebudayaan kita (Barat — penerjemah) dalam konteks historis yang sesuai. Paruh pertama milenium yang baru saja lalu dikuasai oleh gereja (baca: institusi agama); pada paruh yang kedua, kita merasakan kenyamanan material. Kini, pada akhir abad ke-20, kita sudah menghabiskan seluruh kenyamanan material itu. kita siap menemukan tujuan hidup yang sebenarnya.
  3. Mulailah berkenalan dengan energi halus atau lembut yang meresapi semua hal (baca: makhluk hidup dan benda mati). Dengan latihan yang benar dan cukup, kau bisa mempelajari cara melihat aura di sekeliling makhluk hidup apapun dan memproyeksikan atau mengarahkan energimu sendiri kepada makhluk hidup itu untuk memberinya kekuatan.
  4. Semua konflik didasari oleh kompetisi yang tidak sadar untuk memperebutkan energi. Dengan mendominasi atau memanipulasi orang lain atau makhluk lain, kita memperoleh energi berlebih yang kita anggap kita butuhkan. Tentu, hal ini terasa menyenangkan – tetapi kedua pihak sebenarnya sama-sama dirugikan dalam konflik ini.
  5. Kunci untuk mengatasi konflik di dunia adalah pengalaman mistis, yang dapat dihayati oleh setiap orang. Untuk menumbuhkan yang-mistis dan membangun energimu, kau harus membuka diri dan mengisi dirimu dengan rasa cinta.
  6. Trauma-trauma masa kanak menghalangi kemampuan kita untuk mengalami yang-mistis secara penuh. Karena pendidikannya, semua manusia memiliki kencenderungan untuk memiliki salah satu dari empat drama kontrol (control dramas) berikut ini. Intimidator mencuri energi dari orang lain dengan cara mengancam. Interogator mencuri energi dengan melakukan penilaian dan mengajukan pertanyaan. Si penyendiri menarik perhatian (dan energi) kepada diri mereka sendiri dengan berpura-pura malu atau tersipu-sipu. Si Korban membuat kita merasa bersalah dan merasa bertanggung jawab kepada mereka. Waspadalah dengan dinamika keluarga yang menciptakan drama kontrolmu sendiri dan kau dapat memusatkan perhatian pada pertanyaan esensial, yaitu bagaimana cara membuat hidupmu mencapai sintesis yang lebih tinggi daripada kehidupan orangtuamu.
  7. Setelah terbebas dari berbagai trauma, kau dapat membangun energimu melalui kontemplasi dan meditasi, memusatkan perhatian pada pertanyaan dasar dalam kehidupan, dan mulai menyatukan diri dengan aliran intuisi yang terus mengalir, mimpi, dan kebetulan-kebetulan sinkronistis, yang semuanya akan membimbingmu ke arah evolusi dan transformasimu sendiri.
  8. Evolusi tidak bisa dilakukan sendirian, jadi mulailah mempraktekkan “Etika Interpersonal” yang baru dengan mengangkat mereka yang kautemui di jalan. Berbicaralah kepada orang yang melakukan kontak mata spontan denganmu. Hindari hubungan co-dependent (saling tergantung). Kau harus ada untuk orang lain. Ajaklah orang lain untuk memperhatikan drama kontrol mereka sendiri. Dalam kelompok, berbicaralah ketika spirit (roh?) (dan bukannya ego) menggerakkanmu untuk berbicara.
  9. Tujuan kita di sini adalah untuk bergerak melampaui bidang (plane) ini. Jumlah orang lebih sedikit (sebagai hasil dari pengekangan diri atas reproduksi) dan jumlah hutan yang berusia tua akan membantu kita mempertahankan kelangsungan energi kita dan mempercepat evolusi kita. Teknologi akan melakukan sebagian besar dari pekerjaan. Saat kita mulai menghargai wawasan spiritual, kita akan memberikan perhatian lebih banyak kepada orang yang membawa wawasan itu kepada kita, dan hal ini pada akhirnya akan menggantikan ekonomi pasar dan kebutuhan kita akan pekerjaan yang digaji. Kita dapat menghubungkan diri dengan energi Tuhan sedemikian rupa sehingga pada akhirnya kita akan menjadi makhluk-makhluk cahaya, dan berjalan lurus ke surga. (Alan Atkisson, New Age Journal, August, 1994)***

 

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *