Menu

Sejarah Perspektif Baru: Supranasional atau Global

Ketika menjelaskan tentang perkembangan Politik Etis dan akibat-akibatnya bagi bangsa-bangsa yang terperintah di Hindia Belanda, para sejarawan yang menulis sebelum kemerdekaan Indonesia sering menitikberatkan pembahasan mereka pada perdebatan-perdebatan yang terjadi antara kaum Liberal dan kaum Konservatif di parlemen Belanda.

Penekanan diberikan pada ide dasar tentang balas budi negeri Belanda kepada rakyat Hindia Belanda atas sumbangan yang sangat besar bagi perekonomian Belanda. Cara kerja seperti ini adalah cara kerja yang khas bagi apa yang mungkin patut disebut sebagai sejarah kolonial: sebuah penciptaan karya sejarah yang menitikberatkan pada hubungan antara negeri pengkoloni dengan negeri yang dikoloni dan kurang memberikan tekanan pada konteks-konteks di luar hubungan itu.

Setelah kemerdekaan, penulisan sejarah di Indonesia memberikan tekanan yang berbeda, yaitu menggunakan pendekatan sejarah nasional yang dipopulerkan oleh Nugroho Notosusanto dan Sartono Kartodirdjo. Ini kali, tekanan diberikan pada perkembangan historis yang berlangsung dalam konteks nasional Indonesia. Dengan cara kerja seperti ini, konteks-konteks di luar bingkai nasional kurang mendapatkan penekanan. Pendekatan sejarah nasional ini sangat dominan hingga dekade 1970-an, mungkin karena para sejarawan dibenani tugas untuk mengukuhkan nation building.
Menjelang awal 1980-an, muncul perspektif baru yang mungkin patut disebut sebagai sejarah pascakolonial atau sejarah poskolonial. Sejarah poskolonial adalah sebuah pendekatan kesejarahan yang hendak menjelaskan pengaruh-pengaruh masa kolonial (baca: penjajahan) bagi negara-bangsa baru yang terbentuk setelah proklamasi.
Kedua pendekatan kesejarahan itu, yaitu sejarah nasional dan sejarah poskolonial, dengan ciri khas dan penekanan masing-masing, menjadi dua perspektif yang dominan di kalangan para sejarawan kita hingga saat ini. Pertanyaannya adalah: apakah kedua pendekatan itu akan tetap menjadi perspektif-perspektif dominan pada masa mendatang?
Jika kita melihat konteks akademis dan sosio-politis yang melingkungi masing-masing perspektif itu, cukup masuk akal bahwa akan muncul suatu pendekatan atau perspektif kesejarahan baru yang menggeser dominasi kedua perspektif tersebut. Ingat: sejarah kolonial diciptakan dalam lingkungan kolonial yang sangat kuat sementara sejarah nasional dan sejarah poskolonial diciptakan dalam lingkungan nasional yang juga sangat kuat.
Jika Anthony Giddens memang benar, yaitu bahwa negara-bangsa dalam “era” globalisasi akan melemah dan digantikan oleh kekuatan-kekuatan supranasional – gabungan dari beberapa negara-bangsa yang tidak harus bertetangga secara geopolitis – maka ada kemungkinan bahwa para sejarawan juga akan menyesuaikan diri dengan lingkungan supranasional itu. Jadi, akan ada karya-karya sejarah yang diciptakan dengan perspektif yang mungkin patut disebut sebagai sejarah supranasional.
Sejarah supranasional ini akan memberikan tantangan baru karena harus menjelaskan hubungan-hubungan yang terjalin di antara negara-negara bangsa yang setara, tidak seperti sejarah kolonial yang menjelaskan hubungan timpang antara negara pengkoloni dan negara yang dikoloni.
Namun, mungkin akan ada satu perspektif lagi yang masih akan muncul. Persepktif ini mungkin patut disebut sebagai sejarah global. Perspektif ini akan digunakan untuk menjelaskan fenomena-fenomena kesejarahan yang berlangsung dalam lingkungan akademis dan sosio-politis global di mana entitas-entitas negara-bangsa dan masyarakat sipil dari berbagai lokasi geopolitis akan saling bertemu, berinteraksi, dan menggerakkan perubahan.

Lingkungan ini, seperti yang dapat kita lihat dengan mudah pada masa kini, telah terbentuk berkat laju perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang diperlancar oleh internet. Tentu akan sangat menarik membayangkan, misalnya, bagaimana para sejarawan di masa depan menerangkan peristiwa penemuan internet oleh para pakar komputer di Amerika Serikat pada pertengahan 1970-an bagi konteks sosio-politis global yang dicirikan oleh kedekatan virtual.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *