Menu

Kastagila: Dhafi dan Kegilaan

Resensi buku kastagila dhafi dan kegilaanJudul: Kastagila
Penulis: Muhammad Qadhafi
Cetakan: 1, Maret 2015
Penerbit: Gambang Buku Budaya
Tebal: 165 halaman

Buku kumpulan cerpen ini tidak disusun secara tematis. Barangkali, buku ini memang dimaksudkan semata-mata sebagai dokumentasi kekaryaan Qadhafi, adik tingkat (jauh) saya di kampus FBS UNY.

Tapi, selesai membacanya, ada satu kesan yang begitu kuat di benak saya. Cerpen pertama dalam buku ini bertajuk “Kastagila” dan yang terakhir “Kematian Si Topi Merah”. Protagonis kedua cerpen ini sama, yaitu bernama “Kastagila”—hampir sama pula perwatakan dan tindakannya.

Ini membuat saya bertanya-tanya. Apakah Dhafi terobsesi dengan kegilaan? Apakah penempatan kedua cerpen yang sedemikian rupa itu merupakan petunjuk tentang obsesinya itu? Bisa jadi demikian, bisa jadi juga tidak.

Pasalnya, cerpen-cerpen lain dalam kumpulan ini (jumlah total 17 judul) tidak melulu mengisahkan tentang protagonis yang kadar gilanya “tidak sepekat” tokoh Kastagila. Tanda petik itu perlu dibubuhkan karena bagaimanapun, protagonis—dan beberapa tokoh lain—bisa dikatakan “gila”.

Tengok, misalnya, tokoh Cipto dalam “Perempuan Maut” (hlm. 53). Tokoh aku bersikeras jatuh cinta kepada Sari walaupun siapa saja yang jatuh cinta dan dekat dengan Sari pasti mati. Di akhir cerita, kita diberi tahu bahwa aku memang akhirnya mati karena dibunuh Cipto.

Kalimat terakhir dalam cerpen itu adalah “Begitulah ganjaran bagi pria yang ingin merebut Sari dariku!”. Cakapan yang diucapkan Cipto ini membikin kita memvonis bahwa Cipto adalah seorang posesif ekstrem yang tega membunuh demi menjaga apa yang dianggap sebagai miliknya—“gila”.

Beberapa cerpen lain sebenarnya bertema sosial. Misalnya, “Putu Mayang” (hlm. 17), yang mengisahkan tentang ingatan dan konflik batin seorang petugas ketertiban kota yang harus menggusur seorang penjual putu mayang, makanan kesukaannya pada masa kanak.

Atau “Negeri Para Dukun” (hlm. 63), sebuah kisah hiperbolis tentang bagaimana negara menerima perdukunan dan mengandalkan diri kepada para dukun. Tentu, ini adalah kritik terhadap opini, tindakan, dan bahkan kebijakan publik yang didasarkan pada pengakuan atas perdukunan.

“Rencana Iblis” (hlm. 105), “Perempuan yang Berjalan di Atas Air” (hlm. 115) dan “Anggur Orang Mati” (hlm. 127) bahkan menguarkan aroma kritik kepada sikap dan praktik religius. Dalam “Anggur Orang Mati”, misalnya, dikisahkan bagaimana takmir masjid yang saleh dan masuk surga mempertanyakan masuknya seorang pemabuk ke surga yang sama.

Tapi tetap saja, bagi saya, cerpen yang meninggalkan kesan kuat adalah cerpen-cerpen yang protagonisnya bermasalah secara psikologis dan terjebak dalam situasi-dalam-cerita yang, katakanlah, “gila” atau, mungkin lebih tepatnya, mengenaskan.

Atau, situasi-dalam-ceritalah yang terkesan “sinting”. Misalnya, dalam “Anjing Kebiri” (hlm. 35), yang sekilas mengingatkan kita pada peringatan yang ada di mana-mana: “Dilarang kencing di sini kecuali anjing”. Dalam cerpen ini, siapa pun yang kencing di suatu tempat akan kehilangan alat kelamin.

Yang juga menarik dari buku ini adalah bahwa sebagian besar dari cerpen-cerpen ini pernah diikutkan lomba atau terbit di media alternatif. Jadi, barangkali dugaan saya di awal itu yang benar: semata-mata sebagai dokumentasi kekaryaan, dan Dhafi tidak mengidap obsesi tentang kegilaan.***

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *