Menu

Puncak Bucu: Pemandangan Senja ke Arah Jogja

Puncak Bucu Memandang Ke BaratPuncak Bucu menawarkan pemandangan kota Yogyakarta dan kawasan pinggiran timur dan selatannya.

Walaupun tak setinggi Bukit Bintang atau Watu Amben, pemandangan ke arah matahari terbenam tak terhalang apa pun.

Kalau Anda penggemar momen pergantian hari seperti saya, suasana sunset Puncak Bucu layak dicoba.

Pandangan dari ketinggian yang bebas dari halangan itu bukan hanya menyajikan tata warna senja yang aduhai, tetapi juga lanskap yang sedang berubah di bagian bawah.

Ya. Bentangan tanah di bawah sana merupakan bagian dari kawasan industri Piyungan.

Dapat terlihat beberapa bangunan pabrik di sana, berselang-seling dengan pepohonan, sawah, rumah, jalan, dan Kali Opak.

Dulunya tentu pemandangan di bawah sana itu lebih menyenangkan mata.

Tidak ada pabrik karena lahan itu dulu ditanami tebu yang setahu saya disetor ke pabrik gula Madukismo di Kasihan, Bantul.

Kalau sedang rembang (panen tebu), tentu bisa terlihat truk-truk dan para pekerja yang sibuk.

Walaupun sudah mulai diselingi pabrik, pemandangan Puncak Bucu secara keseluruhan tetap recommended, terutama pada sore dan saat-saat sekitar matahari terbenam.

Puncak Bucu termasuk dalam wilayah Kelurahan Srimulyo, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Provinsi DIY.

Puncak Bucu sebaiknya ditempuh melalui Jawon (Jalan Wonosari-Jogja). Lalu, belok kanan di perempatan SMPN 1 Piyungan — ada papan petunjuk jelas di perempatan ini.

Setelah berliku-liku naik-turun menyusuri jalan aspal yang lumayan mulus, kita berbelok kanan di sebuah pertigaan.

Mulai dari sini, perjalanan menjadi cukup sulit. Jalannya berupa semen cor yang sebagian besar sudah rusak.

Kalau musim kemarau, debu beterbangan sehingga masker wajib dikenakan. Kalau musim hujan, jalan jadi becek dan licin.

Tapi, kesulitan di jalan akan ditebus dengan pemandangan menarik sepanjang perjalanan. Saat saya ke sana Agustus tahun ini, musimnya masih kemarau.

Saat itu sekitar pukul empat sore. Dahan-dahan pepohonan jati yang telanjang dan tampak runcing seperti mencakari langit. Sesekali saya berhenti dan memotret.

Motor saya parkir di dekat pintu masuk yang tak dijaga siapa pun. Warung-warung tutup. Jalan naik ke Puncak Bucu dipahat pada batu putih, diapit gundukan batu kapur besar-besar.

Ada sebuah tangga disandarkan pada salah satu batu, mungkin akses untuk pengunjung yang ingin swafoto.

Kabel listrik menjulur di sepanjang jalan menanjak yang hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Tapi saya tak melihat ada bohlam lampu di fitting.

Setiba di puncak, kita akan disambut pemandangan tanpa halangan ke arah barat. Di arah utara, pemandangan sedikit terhalang oleh Song Kamal dan Bukit Pangol.

Sebuah bukit menjorok ke arah barat daya, menghalangi pandangan ke arah selatan.

Lantai Puncak Bucu dari batu putih. Tapi, ada beberapa pohon kecil tumbuh di sela-selanya. Pagar berwarna biru membatasi tebing curam di sisi barat.

Sebuah menara pandang permanen terletak di sisi selatan. Sehelai bendera berkibar tanpa jemu diembus angin.

Gardu Pandang Puncak Bucu

Saya siapkan kamera dan menebarkan pandangan ke segala arah. Saya belum mahir menggunakan DSLR ataupun memahami fase-fase pergantian hari. Tapi, saya nekat menunggu saat-saat sunset tiba.

Beberapa saat sebelum azan magrib, semua warna seolah dipamerkan di langit sebelah barat sana. Sayangnya, pesona yang dilihat mata saya tak bisa sepenuhnya saya ulang dengan mata kamera. Entah berapa ratus kali saya memijit tombol shutter.

Azan magrib akhirnya berkumandang. Langit kian redup. Matahari tak kelihatan lagi. Angin berembus lebih kencang, menebar-nebarkan dingin dan, menurut perasaan saya, suara-suara orang berbicara yang sayup.

Saya bergegas mengemasi kamera dan meninggalkan Puncak Bucu. Jalan tangga batu menurun sudah gelap total. Saya terpaksa menyalakan senter di ponsel.

Keremangan tak mencegah saya berhenti sebentar saat menyusur jalan pulang untuk memotret lagi.

Beberapa waktu kemudian, seorang teman bercerita pernah ke Puncak Bucu ramai-ramai dengan teman-temannya. Saat itu sudah malam dan mereka berfoto-foto. Kata teman saya, dalam hasil foto, ada sosok putih yang bukan salah satu dari mereka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *