Menu

Prolog: Penjara

Ruang terlipat di antara keempat tembok ini, tetapi
Segalanya terasa jauh: pagi terakhirku, para kekasih,
Kematian. Dan kurasakan lagi sepi, sepi yang purba,
Mendesau bersama degup darah, mendesau
Seperti angin yang berkelit dari jeruji dan mengulurkan
Jari-jari lapar musim gugur,
Menggapaiku.

Aku menggeleng kepada kelam yang dari jauh
Melambai-lambaikan tangannya: tunggu sejenak, biar
Kukemasi semua yang paling dekat ke hatiku,
Bertumpuk-tumpuk menyesaki penjara ini.
Biar kurasakan lagi pahlawan dalam diriku
Mengenang cerita-cerita gagah itu, dan terhibur:

Di kepagian usia telah kudamik dadaku dengan berani
Kepada sunyi, yang berdiri di ambang pintu, di tengah
Setiap jalan, tegak dan berkacak pinggang, menantangku.
Kutentukan kiblat sendiri dan kuburu.
Kubangun kastil
Di hati dan birahi para kekasih. Dan kemudian mati
Dengan cara begini, oleh peluru, di luar rencana.
Maha Alam yang pongah pun runduk, menghormat padaku.
Tapi masih juga aku sangsi untuk berkata: matiku tak sia-sia.
Masih menggigit kecut itu di hatiku
Karena tak enyah juga ketakutanku akan lupa:
Sebagai bintik hitam dalam dunia
Barangkali aku bakal ditanam tanpa pemberkatan, tanpa nisan,
Terlupakan. Maka kemarilah kertas dan pena.
Akan kutulis berita acara
Pengadilanku atas dunia, yang telah menimpakan siksa
Atasku, namun juga keriangan. (Ada yang berkata lewat sepi kepadaku
Tetapi apakah lagi arti di ruang paling tepi ini
Bagi hatiku yang gentar
Dan tak putus-putus menggigil?)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *