Menu

Pohon Sawo di Halaman Rumah Simbah Putri

Pohon sawo itu sekarang sudah tidak ada. Tetapi dulu, dulu sekali, ia adalah magnet yang sangat kuat bagi anak-anak. Begitu kuatnya hingga mencapai taraf menjengkelkan: tak peduli siang, sore, atau malam, anak-anak gemar naik-turun atau bermain di sekitar pohon itu.

Simbah Putri, yang seingatku sudah nyinyir dan suka bergunjing sejak dulu, berkali-kali memarahi anak-anak itu. Tetapi anak-anak tetap keras kepala dan selalu siap mengambil risiko. Mereka hampir selalu berhasil menemukan saat yang tepat untuk bermain di tempat kegemaran mereka.

Sejak hari masih terang tanah, tetapi setelah selesai memasak untuk keluarga, Simbah Putri sudah berangkat ke sawah yang terletak di seberang sungai yang mengalir di utara kampung. Simbah Putri selalu berjalan kaki—beliau tidak pernah naik sepeda, baik mengayuh sendiri maupun di boncengan.

Sawah beliau terletak di dekat kedung tempat sungai itu menikung, cukup jauh dari jembatan. Ketimbang menyusuri jalan tanah ke utara dan menyeberang jembatan, Simbah Putri lebih suka memilih jalan pintas: berjalan ke barat melintasi kampung tetangga lalu menyeberang sungai.

Simbah Putri baru pulang menjelang azan dhuhur, lelah tetapi sudah cukup bersih karena sudah mandi bebek di belik dekat kedung, dan biasanya dengan wajah yang sumringah—entah lantaran tanaman di sawah subur atau puas bergunjing dengan petani lain di sawah.

Pada jam-jam saat Simbah Putri di sawah itulah anak-anak yang belum sekolah atau masih TK menyerbu pohon sawo. Aku pernah membolos dan ke rumah Simbah Putri untuk minta makan, dan melihat mereka bermain: gaduhnya minta ampun.

Mereka berlarian mengitari batang pohon, atau memanjat setinggi mereka mampu. Saat itu kulihat mereka berlomba memanjat paling tinggi. Beberapa anak begitu ambisius hingga menjangkau dan menginjak dahan-dahan yang masih kecil.

Walhasil, dahan-dahan itu pun patah. Daun dan buah sawo, yang kecil maupun besar, berserakan. Untungnya, tidak ada anak yang terjatuh. Tetapi aku yakin, sepulang dari sawah, Simbah Putri tentu mengomel tak putus-putus—mengomel kepada udara karena anak-anak sudah pergi.

Ibu-ibu hanya membiarkan saja anak-anak itu bermain di sekitar pohon sawo karena beban mereka tentu saja berkurang. Tetapi, kalau ada anak yang mulai berkelahi dan menangis, ibu-ibu segera membubarkan mereka dengan ancaman: “Simbah Putri sudah mau pulang.”

Dan bubarlah anak-anak itu. Tetapi ibu-ibu, yang tak ingin membuat masalah dengan Simbah Putri, dan juga sudah hapal dengan kebiasaan Simbah Putri, biasanya membubarkan anak-anak menjelang azan dhuhur.

Tak banyak orang yang bermasalah dengan Simbah Putri. Pernah suatu kali ibu-ibu keasyikan bergunjing sambil memipil jagung tak jauh dari rumah Simbah Putri sehingga lupa membubarkan anak-anak.

Tanpa mereka sadari, tiba-tiba saja Simbah Putri sudah berlari-lari dari barat sambil mengacungkan arit dan memaki-maki. Selelah apa pun, kalau menemukan anak-anak bermain di sekitar pohon sawo, Simbah Putri kembali memperoleh tenaga berlimpah untuk memarahi dan mengusir mereka.

“Kalau mau sawo, sana tanam pohon sawo sendiri! Di pekaranganmu sendiri! Orang kok tidak bisa menghargai jerih payah orang lain! Aku yang menanam pohon sawo ini! Di halamanku sendiri! Sawo masih pentil kok sudah dipetik! Kalau sudah matang toh kalian juga kuberi! Memangnya aku kikir! Kalau main saja boleh, tapi jangan memanjat!”

Anak-anak berlarian sipat kuping mencari perlindungan pada ibu masing-masing. Tetapi ibu-ibu itu pun tak luput dari omelan. Untungnya, belum pernah terjadi Simbah Putri menyabetkan aritnya kepada seseorang.

Beberapa kali pernah ada orang yang mencoba melawan Simbah Putri saat beliau murka seperti itu. Tetapi tenaga beliau terlalu besar, lebih besar ketimbang siapa pun di kampung kami, hingga orang yang nekat meladeni Simbah Putri bertengkar pun biasanya terengah-engah lalu mundur.

“Kalau mau sawo, sana tanam pohon sawo sendiri! Di pekaranganmu sendiri! Orang kok tidak bisa menghargai jerih payah orang lain! Aku yang menanam pohon sawo ini! Di halamanku sendiri! Sawo masih pentil kok sudah dipetik! Kalau sudah matang toh kalian juga kuberi! Memangnya aku kikir! Kalau main saja boleh, tapi jangan memanjat!”

Kalau Simbah Putri sedang enggan bertengkar dengan orang tua anak-anak itu, mungkin karena terlalu lelah atau malas bertengkar, Simbah Putri menyerang dengan cara lain, pada waktu yang lain: beliau akan menggunjingkan si A atau si B yang anak-anaknya tak bisa diatur.

Dan bukan hanya soal ngeyel-nya anak si A atau si B saja yang digunjingkan, tetapi juga keburukan-keburukan si A dan si B. Soal ini, pintar sekali Simbah Putri menirukan omongan-omongan lawannya atau lawan dari lawannya.

Lalu, entah dapat ilham dari mana, suatu hari Simbah Putri melilitkan pring ori—bambu berduri di ruas-ruas batangnya—yang masih kecil pada batang pohon sawo itu. Anak-anak masih datang ke sana, tapi lama-kelamaan pohon sawo itu sepi: permainan tidak seru kalau tidak memanjat.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *