Menu

Perang Buku

Detik-detik yang Menentukan (BJ Habibie) dan Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando (Sintong Panjaitan) sebenarnya bisa menjadi awalan bagus untuk memulai sebuah “perang buku”. Sayangnya, posisi dan person yang “diserang” oleh kedua buku tersebut tidak bersedia memberikan tanggapan atau “serangan balik” melalui buku juga. Pak Prabowo lebih sering menanggapinya secara verbal dan tidak menuliskannya dalam bentuk buku. Alhasil, tidak terjadi “perang buku”, yang tentunya jauh lebih konstruktif daripada saling serang melalui pemberitaan media dan pengerahan massa.

“Perang Buku” adalah sebuah tradisi intelektual yang telah lama dipraktekkan oleh elit terdidik dalam masyarakat di nusantara. “Perang buku” terjadi ketika sebuah buku memperoleh tanggapan dari buku lain, yang dapat berupa kritik atau serangan terhadap proposisi dan asumsi yang diajukan oleh buku yang pertama. Pada masa lalu, “perang buku” seringkali merupakan wujud lain dari peperangan sebenarnya yang dilakukan dengan senjata di antara pihak-pihak yang saling memperjuangkan kepentingan masing-masing. “Perang buku”, tentu saja, jauh lebih beradab daripada saling bantai di medan laga.

Detik-detik yang Menentukan

Dalam kesusastraan Melayu Lama, “perang buku” yang pertama kali tercatat adalah antara Hikayat Raja Pasai dan Sejarah Melayu. Hikayat Raja Pasai diperkirakan telah disusun pada akhir abad ke-15 walaupun manuskripnya baru dipublikasikan secara luas pada paruh kedua abad ke-18. Sedangkan Sejarah Melayu diyakini telah disusun setelah 1511 karena telah mengandung narasi tentang jatuhnya kota Malaka ke tangan Portugis. Sementara Hikayat Raja Pasai tidak mencantumkan nama dan identitas pengarang, sebagian besar manuskrip Sejarah Melayu mencantumkan nama pengarang, yaitu Tun Seri Lanang, Bendahara Kesultanan Malaka.

Walaupun pengarang Hikayat Raja Pasai anonim, namun narasi karya ini jelas ingin menampilkan keunggulan dan gengsi Kesultanan Pasai atas Kesultanan Malaka. Misalnya, kisah pengislaman Malaka yang dilakukan langsung oleh Nabi Muhammad melalui mimpi Marah Silu. Dalam mimpi itu, Nabi Muhammad meludahi Marah Silu sehingga Marah Silu dapat membaca Al-Qur’an tanpa harus belajar terlebih dulu. Marah Silu inilah yang kelak menjadi raja Islam pertama di Indonesia dengan gelar Sultan Malikus Saleh. Selain itu, ada episode ketika utusan dari Malaka datang ke Pasai untuk menanyakan tentang suatu soal teologis kepada ulama di Pasai, yang memperlihatkan bahwa ulama Pasai lebih pandai daripada ulama Malaka. 

Sejarah Melayu mengambil alih cerita pengislaman di Pasai tersebut dengan menceritakan bahwa yang diislamkan langsung oleh Nabi Muhammad melalui mimpi adalah Sultan Muhammad Syah, raja Islam pertama Kesultanan Malaka. Sedangkan Pasai diislamkan “hanya” oleh seorang fakir yang mendapatkan petunjuk dari Nabi Muhammad. Tun Seri Lanang juga menceritakan bahwa Kesultanan Pasai ditaklukkan oleh Kerajaan Siam dan raja Pasai dijadikan sebagai budak pemelihara ayam di istana raja Siam, yang kemudian dibebaskan oleh pasukan Malaka. Ini memperlihatkan bahwa derajat Pasai lebih rendah daripada Malaka. Sementara itu, walaupun Sejarah Melayu juga menceritakan tentang kedatangan ulama Malaka ke Pasai, namun kedatangan itu dilakukan dengan tujuan untuk menguji pengetahuan keislaman para ulama Pasai, bukan untuk mengakui bahwa ulama Pasai lebih pandai daripada ulama Malaka.

Karya sastra Melayu lain yang menggelorakan “tantangan perang” adalah karyatama Hikayat Hang Tuah yang diyakini selesai disusun pada abad ke-18. Para pakar menyepakati bahwa karya ini adalah karya sastra Melayu yang paling “anti-Jawa”. Dalam karya ini, Hang Tuah dilukiskan sebagai laksamana Melayu yang tak terkalahkan dan moralnya tinggi, berlawanan dengan Betara Majapahit dan Patih Gajah Mada yang suka “bermain”. Hang Tuah dilukiskan sanggup mengalahkan Taming Sari, prajurit tua Majapahit yang sakti mandraguna, dan memperoleh keris lawannya itu—yang hingga kini diyakini diwariskan kepada orang Melayu sebagai Keris Taming Sari, salah satu simbol yang wajib ada dalam upacara-upacara resmi UMNO di Malaysia.

Tentu saja para pengarang Jawa tidak tinggal diam ketika diserang. Bahkan, serangan balik para pengarang Jawa jauh lebih besar dan bertubi-tubi daripada serangan pengarang Melayu yang hanya menyerang melalui Hikayat Hang Tuah saja. Sejak zaman kolonial hingga kemerdekaan, tak terhitung lagi buku-buku karya para pengarang Jawa yang hendak memperlihatkan keunggulan Majapahit atau Jawa atas etnis-etnis lain. Begitu besarnya serangan balik ini, sehingga M. Yamin pun, seorang bapak bangsa yang beretnis Melayu, “mengakui” keunggulan Majapahit/Jawa dalam buku babonnya 1000 Tahun Sang Saka Merah Putih. Selain itu, hingga kini pun penulisan dan pendidikan sejarah di lembaga-lembaga pendidikan kita begitu Jawa-sentris. Bahkan, para peneliti dari luar negeri pun mendukung penonjolan Jawa ini, antara lain Denys Lombard dengan Nusa Jawa Silang Budaya-nya yang legendaris itu.

“Tantangan perang” melalui buku lainnya ditabuh oleh Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer yang menyerang sejarah nasional Indonesia modern yang meletakkan Boedi Oetomo sebagai pelopor kebangkitan nasional Indonesia. Sejarah nasional itu, kita tahu, dikawal oleh berbagai buku besar, antara lain Sejarah Nasional Indonesia karya Marwati Djoenoed Purwonegoro dan Nugroho Notosusanto. Di dalam keempat novel itu, Pram mengajukan RM Tirto Adhi Soerjo dan surat kabar Medan Prijaji sebagai pemula pergerakan kebangsaan Indonesia. “Peperangan” ini tidak konklusif walaupun pada tahun 2007 Presiden SBY telah menetapkan RM Tirto Adhi Soerjo sebagai Pahlawan Nasional. Pasalnya, seperti yang terbaca dalam kurikulum, pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah masih mengunggulkan Boedi Oetomo atas Medan Prijaji.

“Perang buku” besar yang paling mutakhir adalah antara Kesastraan Melayu Tionghoa (Gramedia) “melawan” lusinan buku sejarah sastra Indonesia modern seperti Pujangga Baru Prosa dan Puisi, Angkatan 66, Kapankah Kesusastraan Indonesia Lahir? dan sebagainya. Kesastraan Melayu Tionghoa menentang buku-buku kanon sejarah sastra tersebut karena dianggap mengabaikan karya-karya sastra yang dihasilkan oleh para pengarang Indonesia yang beretnis Tionghoa. “Peperangan” ini tampaknya masih akan berlangsung lama karena dari 25 jilid yang direncanakan, Kesastraan Melayu Tionghoa hingga tahun ini baru mencapai 10 jilid.

Jika peperangan menggunakan senjata pembunuh terbukti hanya memberikan kesengsaraan kepada bangsa kita dan juga umat manusia seluruhnya, “perang buku” terbukti jauh lebih konstruktif dan telah memperkaya kehidupan rohani bangsa Indonesia. Jadi, jika suatu saat nanti muncul sebuah buku bermutu yang menyerukan “tantangan perang”, adalah masuk akal jika kita mengharapkan adanya “serangan balik” dari pihak yang diserang oleh buku tersebut. Tentu kita akan menyambut “perang buku” tersebut dengan gembira.***

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *