Menu

Parang Tak Berulu: tentang Rumah

Orang boleh merantau sampai jauh, tetapi kampung halaman akan senantiasa mengikutinya ke mana pun pergi. Di tangan seorang penulis cerita pendek, seperti penulis Parang Tak Berulu ini, yang selalu menyertainya itu menjadi mata air inspirasi yang tak habis-habis.

Saya pertama kali mengenal Raudal Tanjung Banua pada dasawarsa 2000-an melalui media massa nasional dan lokal. Cerpen-cerpennya kebanyakan memang bercerita dengan latar budaya Padang. Ada beberapa yang tidak demikian memang, tetapi proporsinya tidak signifikan.

Sejak itu, saya selalu mengaitkan Raudal dengan karya sastra berlatar budaya Padang. Parang Tak Berulu seperti mengonfirmasi hal ini: latar tempat dan budaya cerita di dalam kesebelas cerpen di dalamnya adalah Padang (Minang).

Saat membaca daftar isi, samar-samar saya ingat pernah membaca beberapa di antaranya di media massa. Daftar sumber publikasi membenarkan: Perempuan yang Jatuh dari Pohon pernah dimuat di Kompas dan Tubuh yang Bersekutu di Koran Tempo.

Saat antologi cerpen ini dipublikasikan (Mei 2005), cerpen terakhir belum diterbitkan, tetapi saya ingat betul Rumah-rumah Menghadap Jalan pernah diterbitkan di Jawa Pos – saya lupa tanggal pastinya.

***

Latar budaya Padang segera tercium pada judul antologi. Kenapa Raudal memilih “Berulu” ketimbang “Berhulu”? Saya menduga, “ulu” adalah kosakata Bahasa Minang tulen. Kebetulan saja, maknanya sama dengan kata “ulu”/”hulu” dalam Bahasa Melayu.

Kosakata Bahasa Minang, yang sangat dengan Bahasa Melayu, memang bertebaran di dalam kesebelas cerpen ini. Beberapa di antaranya memerlukan catatan kaki karena tidak elok jika dituliskan padanannya dalam Bahasa Indonesia. Misal, baparanak jawi dalam Tubuh yang Bersekutu.

Terlepas dari kosakata, Raudal bertutur seakan sedang bercerita di hadapan pendengar di warung kopi. Nafas ceritanya panjang. Terkadang, ada saat kita khawatir ceritanya akan melantur, tetapi hal-hal yang pada awalnya tampak tidak berkaitan itu ternyata bertalian erat dengan struktur cerita.

Gaya bertutur semacam ini, menurut Raudal dalam catatan kaki untuk Ladang Terhijau Saat Kemarau, adalah gaya bertutur tukang kaba atau tukang cerita yang biasanya diiringi alat musik. Karena itu bisa dimengerti bahwa tidak terdapat begitu banyak dialog.

Narasi memang lebih dominan pada kesebelas cerpen ini. Pembaca yang terbiasa dengan plot thriller harus menyesuaikan diri dengan narasi yang eksploratif dan alur yang cenderung lambat. Tentu, sebagai karya cerpen yang baik, cerpen-cerpen tetap ini memiliki elemen kejutan.

Dominasi narasi mensyaratkan penguasaan tata bahasa yang baik. Ada beberapa kesalahan tata bahasa yang cukup mengganggu, terutama bagi mata penerjemah saya. Namun, substansinya tetap sampai, yaitu kisah dengan dimensi kemanusiaan berlatar budaya Padang.

Tema yang diangkat dalam kesebelas cerpen Parang Tak Berulu ini adalah tema sosial seperti adat perkawinan, tradisi merantau, norma sosial terkait perilaku, dan norma seksual. Melalui cerita-cerita ini, pembaca non-Padang mengenal kehidupan orang Padang di kampung halamannya lebih dekat.

Dalam beberapa cerpen, kita melihat kebiasaan petani di perdesaan Minang yang tinggal di ladang yang diolah. Hidup sehari-hari lekat dengan hutan, sungai, dan laut. Kita juga melihat bagaimana keputusan untuk merantau memberikan pengaruh paling besar dalam perubahan kampung Minang.

***

Saya meminjam buku Parang Tak Berulu ini dari Mas Joni Ariadinata. Buku ini termasuk dalam daftar rekomendasi buku yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris untuk Frankfurt Book Fair 2015. Kebetulan, saya dihubungi pihak penerbit untuk menerjemahkannya.

Membaca kembali beberapa cerpen yang pernah saya baca di media massa, dan ditambah dengan beberapa cerpen yang sebelumnya belum pernah saya baca, mengingatkan saya bahwa saya sendiri punya kampung halaman yang mengasyikkan untuk diceritakan!***

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *