Menu

Pantai Srakung: Sukar Tapi Memuaskan

Pantai Srakung tampaknya memang harus dihapus dari daftar tempat-tempat menarik yang pernah saya kunjungi. Beberapa menit sebelumnya, jalan semen cor yang saya susuri – naik turun dan berkelok-kelok di tengah hamparan ladang dan bukit-bukit kapur yang sepi – habis.

Sebetulnya, saya masih sempat memaksakan diri menyusuri jalan yang telah berubah menjadi jalur berbatu. Tetapi saya menyerah dan membalikkan motor setelah jalur itu berakhir di tepi semak belukar. Setelah itu yang terlihat hanya jalan setapak yang kelihatannya hanya bisa dilalui dengan jalan kaki.

Tetapi di jalan kembali, saya berpapasan dengan seorang ibu tua yang baik hati. Saya menyapa beliau dengan gaya sok akrab dan bertanya. Ibu itu berhenti sejenak di tepi jalan semen cor dan menjawab semua pertanyaan saya tentang Pantai Srakung, atau lebih tepatnya menegaskan bahwa saya memang tidak salah jalan.

Jalan menjelang pantai memang belum digarap. Tetapi jarak dari akhir jalan semen cor sampai pantai tidak lebih dari satu kilometer. Ibu itu juga memberi tahu bahwa pit (maksudnya, sepeda motor) bisa dibawa ke dekat pantai.

Selama memberikan penjelasan, senyum tak pernah meninggalkan wajah tua tetapi hangat itu. Keramahannya membuat saya sedikit memperpanjang obrolan, dan saya menawarkan untuk memboncengkan beliau menuju ngalas yang sedang dituju, tetapi beliau menolak sambil tertawa lepas.

***

Azan subuh baru saja padam ketika saya mulai menyusuri Jawon (Jalan Jogja-Wonosari). Jalan masih sepi dan gelap di bagian yang tak dilengkapi lampu merkuri, termasuk di jalur berbahaya menjelang Bukit Bintang.

Motor melaju santai. Saya memperkirakan akan tiba di Sadeng – pantai dan pelabuhan nelayan paling timur di Kabupaten Gunung Kidul yang sudah lama ingin saya kunjungi – sekitar pukul delapan atau sembilan. Saat itu saya sama sekali belum tahu tentang Pantai Srakung.

Saya sempat mengisi bensin di pom sebelum Tahura (Taman Hutan rakyat) dan mengambil uang tunai di ATM di Kota Wonosari. Gerimis turun cukup deras selepas ibu kota kabupaten itu. Saya terpaksa berteduh di sebuah halte karena kamera aksi tidak dilindungi wadah antiair.

Sekitar pukul tujuh, saya baru bisa melanjutkan perjalanan – dengan kamera aksi terlindung. Sinyal Smart**** hilang-timbul di sepanjang jalan setelah Semanu. Google Maps tidak bisa diandalkan sehingga saya salah mengambil jalan di sebuah pertigaan.

Selepas pertigaan itu, saya sempat melihat plang kecil dengan nama Pantai Srakung. Terpikir untuk ke sana, tetapi saya lewati saja karena melihat jalan yang bercabang dari jalan aspal itu hanya berupa semen cor. Sialnya, jalan aspal di depan saya habis dan berubah menjadi jalur tanah.

Saya sempat berusaha bertanya kepada seorang ibu yang berjalan cepat di jalan tanah itu. Saya sudah berusaha bersikap sesopan mungkin, tetapi ibu itu mengabaikan saya. Terpaksa saya membalikkan motor: saat itu saya yakin bahwa saya memang salah ambil jalan di pertigaan tadi.

Dalam perjalanan kembali ke pertigaan, masih di jalur tanah itu, sempat saya lihat plang dengan nama Pantai Ngungap. Setelah menimbang-nimbang, saya memutuskan untuk mencobanya kali lain saja. Tujuan utama adalah Sadeng, pikir saya.

Mulanya, plang Pantai Srakung itu juga saya lewati. Tetapi entah kenapa saya tiba-tiba saja membalikkan motor dan mulai menyusuri jalan semen cor itu.

***

Banyak perempatan dan pertigaan di jalan semen cor yang melintasi kampung, sawah, dan ladang atau sekadar semak belukar itu. Jalan semen cor itu tidak sepenuhnya mulus, tentu saja. Tanpa saya sadari, kamera aksi di depan dada tiba-tiba saja sudah tertunduk sendiri.

Tidak ada petunjuk jalan ke Pantai Srakung lagi. Google Maps tidak akurat karena jaringan internet Smart**** tidak ada.

Saya hanya bisa mengandalkan naluri dan untung-untungan. Kampung-kampung yang saya lewati, anehnya, tampak sepi. Tak ada orang yang bisa ditanyai. Walhasil, saya salah lagi mengambil jalan di sebuah pertigaan dan jalan semen cor menumbuk pematang ladang.

Untungnya, ada seorang pemuda yang sedang duduk-duduk di sebuah rumah dekat ladang itu. Dengan ramah ia memberikan penjelasan. Sebetulnya dari titik itu pun bisa ke pantai, tetapi harus jalan kaki. Saya memilih membawa motor ke dekat pantai.

Saya membalikkan motor lagi, dan sekali lagi bertanya kepada seorang bapak di dekat sebuah perempatan. Ini kali saya yakin jalan saya sudah benar. Tetapi ternyata jalan semen cor itu berakhir di semak belukar juga, dan saya harus membalikkan motor lagi.

Untunglah, saya bertemu dengan ibu yang baik hati itu.

***

Untuk mencapai area pantai, saya harus memarkir motor di tebing. Tetapi sulitnya perjalanan sungguh terbayar lunas dengan tempat dan suasana Pantai Srakung.

Ladies and gentlemen, this is Pantai Srakung: sebuah pantai sempit berbentuk cekungan seperti huruf U, dengan pasir putih yang bersih dan deru ombak yang senantiasa terdengar, dan tanpa fasilitas sama sekali – tak warung, tak toilet.

pantai srakung

Bersama saya pagi menjelang siang itu hanya ada sekelompok orang yang berkemah. Kami saling menyapa dengan ramah dan berbasa-basi sejenak. Lalu saya duduk di teduhan karang dan mulai mengobrol dengan salah satu dari mereka sambil merokok.

Mereka adalah mahasiswa dari UIN Solo yang sedang liburan. Seluruhnya ada sebelas orang. Salah satu motor mereka bocor dan ditinggalkan begitu saja di ujung jalan semen cor. Pemimpin kelompok, yang gondrong dan tampak seperti anak teater, kelihatannya sudah sering mbolang. Seperti saya juga, dia sering mencari-cari ide di Google Earth.

pantai srakung merokok

Saya mengambil beberapa gambar lalu berpamitan. Sungguh malang saya tidak meminta nomor kontak teman-teman dari Solo itu. Mudah-mudahan kali lain kami bisa berjumpa, dan mudah-mudahan Pantai Srakung tetap menyenangkan seperti ini.

Versi video tersedia dalam video ini.

No Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *