Menu

Pantai Sembukan, Wonogiri, Jawa Tengah

Pantai Sembukan tentu akan membikin ngeri pengunjung, setidaknya sekilas saat melihat ujung tebing sisi kanan.

pantai-sembukan-dari-tebing-sisi-kiri

Pantai ini berbentuk cekungan sempit. Tebing di sisi kiri memang cukup aman karena tidak terlalu curam.

Tetapi tebing di sisi kanan lebih panjang dan lebih tinggi dari sisi kiri. Di ujung tebing itulah ombak besar tak bosan-bosannya memecah dan mendebur.

Dasar sisi kanan itu pun berongga, dikikis ombak Laut Selatan yang ganas. Tetapi semua kengerian yang dipamerkan alam itu sekaligus juga memancarkan keindahan.

Dan ketika pengunjung melihat lebih tinggi dari dasar tebing sisi kanan itu, pengunjung tentu ingin meniti tangga cor hingga mencapai papan nama “Sembukan”.

Saya tiba di Pantai Sembukan setelah gagal mencapai Pantai Krokoh.

Sinyal internet memang tidak begitu kuat dan Google Maps tidak begitu akurat di sekitar jalan perbatasan Provinsi DIY dan Jateng itu. Wajar jika saya tersesat.

Tapi saya dapat gantinya. Jalan aspal yang naik turun dan berliku-liku menembus perdesaan, kebun, dan ladang sangat menyegarkan mood yang terbiasa dengan hiruk pikuk Jogja.

Sebelum tiba di Pantai Sembukan, saya sempat melihat penunjuk arah ke Pantai Njojokan di sisi kanan jalan. Saya belum pernah dengar nama itu sehingga saya pun tergoda.

Pantai Sembukan terhalang truk ke Pantai Njojokan

Terhalang truk di jalan menuju Pantai Njojokan.

Saya susuri jalan ke Pantai Njojokan itu, melewati desa-desa dengan penduduk yang ramah dan memberi tahu arah. Jalan berbatu sebagian sudah rusak dan motor tua saya kemrosak.

Setelah melewati kebun-kebun sepi, jalan menurun dan berubah menjadi tanah becek. Lebarnya hanya cukup dilalui satu mobil.

Setelah sebuah tikungan, di jalur yang menurun, saya terpaksa berhenti. Sebuah truk menghadang saya, tak menyisakan sedikit pun ruang untuk lewat.

Para pekerja sibuk mengunggah kayu ke atas bak truk. Seorang pekerja menyisihkan batang kayu berat dari samping truk untuk memberi jalan.

Setengah berteriak, saya katakan bahwa saya akan berbalik saja. Setelah kembali ke jalan aspal, saya memutuskan untuk tidak tergoda lagi.

Tidak ada petugas di pos retribusi tetapi portal jalan terbuka. Saya memarkir motor di dekat pendopo, membayar biaya parkir lima ribu rupiah, lalu ke toilet.

Pantai Sembukan dilihat dari arah tangga.

Pantai Sembukan dilihat dari arah tangga.

Jalan masuk ke area pantai berbentuk tangga. Beberapa Batang pohon yang masih kecil batangnya berjajar di dekat warung di sisi kanan dan memberi teduhan.

Bentangan pasir di Pantai Sembukan memang tak seberapa lebar tetapi pasirnya bersih. Batu-batu karang mencuat dari dasar tebing sisi kiri.

Ombak yang sampai ke pasir pun masih tampak besar. Jadi, masuk akal kalau siapa pun harus memperhatikan peringatan penting itu di sini: dilarang mandi.

Tetapi Pantai Sembukan jelas tempat yang seru untuk berfoto.

Pantai-Sembukan-foto-pengunjung

Tangga semen berliku-liku menyusuri bukit mengarah ke puncak tebing sisi kanan yang tinggi. Terlihat siluet orang mengacungkan tongkat swafoto di atas sana.

Setelah beristirahat sebentar, saya menyusuri tangga semen. Tapi saya berhenti setelah separuh jalan, sebagian karena paru-paru hampir putus, sebagian karena mendung.

Tidak ada penginapan di Pantai Sembukan. Kembali ke Jogja tentu berbahaya karena badan mulai menuntut istirahat lebih lama.

Lagi pula, langit sudah tak berwarna biru lagi. Dan ketika saya tiba di pendopo, gerimis berubah menjadi hujan deras. Sekitar pukul empat, saya tinggalkan Pantai Sembukan.

Saya berharap ada penginapan di Pantai Nampu, pantai wisata terdekat dengan Pantai Sembukan.

No Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *