Menu

Pantai Krokoh, Gunung Kidul, Yogyakarta

Pantai Krokoh tentu akan tetap tersembunyi kalau tidak ada Google Maps. Untunglah, peta daring itu cukup akurat sehingga beberapa traveler bisa datang ke sini, mengapresiasi pesonanya, dan membaginya kepada khalayak.

 

Pantai Krokoh Gunung Kidul DIY

Termasuk kepada saya. Saat melihat Pantai Krokoh di Google Maps dan Google Earth, saya sudah tertarik. Tetapi, dua kali usaha saya gagal untuk “menemukan” tempat ini, dan justru tersesat lebih jauh ke Pantai Sembukan.

Kali ketiga, saya bersama dua orang teman bertekad untuk menemukan Pantai Krokoh. Berbekal keyakinan dan rasa ingin tahu bercampur penasaran akut, kami memulai perjalanan dari Jogja sekitar pukul sebelas siang.

Matahari mulai menyengat saat kami tiba di Wonosari, ibu kota Kabupaten Gunung Kidul. Setelah beristirahat sejenak di rumah seorang teman, kami melanjutkan melewati rute Wonosari-Rongkop-Sadeng.

Di Pelabuhan Sadeng, kami berhenti untuk mengisi perut dan mulai bertanya kepada warga. Rute menuju Pantai Krokoh berawal dari jalan makadam yang menanjak cukup terjal di sebelah timur dermaga Sadeng.

Beberapa kali kami berhenti untuk memastikan jalan dengan bertanya kepada warga yang selalu ramah memberikan keterangan. Jalan kemudian berubah menjadi jalan setapak dengan batu-batu telanjang mencuat tinggi.

Di sebuah tikungan yang menurun curam, motor hanya bisa berjalan setapak demi setapak. Tangan menjadi pegal luar biasa dan napas terengah-engah. Tetapi rupanya turunan itu adalah turunan terakhir menjelang Pantai Krokoh.

Garis laut yang gelap terlihat melintang di antara pohon-pohon pandan saat kami memasuki area parkir. Terlihat seseorang berdiri di agak ke tengah sambil melempar-lempakan batang pancing.

pantai-krokoh-pagi-hari-1

pantai-krokoh-pagi-hari-2

 

pantai-krokoh-pagi-hari-3pantai-krokoh-pagi-hari-bulan-di-atas-kelapa

Sekitar pukul empat sore di Pantai Krokoh, hanya ada kami bertiga dan pemancing itu. Setelah meletakkan ransel dan semua barang bawaan, kami berjalan-jalan memeriksa pantai sepi itu.

Pantai Krokoh terletak di sebuah teluk yang cukup besar dengan dua tebing besar membatasi kedua sisinya. Bentangan pasir cokelat yang cerah memanjang sekitar satu kilometer dari timur ke barat.

Bentangan pasir itu cukup landai. Di area yang selalu terkena air laut, tampak batu-batu karang yang tidak tajam. Teman saya berjalan telanjang kaki dan sebentar kemudian telah mengobrol dengan pemancing itu.

Rupanya, pemancing itu adalah warga setempat yang datang untuk memancing ikan teri. Semakin sore, beberapa orang lain pun datang, termasuk anak-anak, dan mulai memancing. Teman saya pun menyiapkan pancing yang dibawanya.

Sembari menunggu ikan, kedua teman saya tiduran di pasir dan sebentar kemudian telah mendengkur. Saya sendiri asyik berjalan ke sana kemari untuk melihat-lihat tebing dan batu-batu karang serta merasakan pasir lembut di telapak kaki.

Malam tiba. Kami pun mendirikan tenda. Saat sibuk membantu teman saya mendirikan tenda, tiba-tiba terasa ingin pipis. Gawat: tidak ada kamar mandi di sini. Alhasil, saya mlipir ke tepi sebuah ladang dan memberi pupuk pada sebatang pohon pisang — tentu setelah “minta izin”.

Langit cerah di atas kami. Biasanya, kalau berkemah di pantai, kami tidak tidur hingga pagi. Tapi entah kenapa di Pantai Krokoh ini saya sudah meringkuk di dalam tenda sekitar pukul sembilan malam dan baru bangun sekitar pukul empat subuh.

Tidur saya tak pulas. Sedikit merinding teringat kelakukan saya sore tadi — tapi saya sudah pasrah: kalau memang yang tunggu pohon pisang tidak terima, saya rela sekalipun dia menampakkan diri. Toh saya tak bisa lari — di hadapan saya laut, dan lari naik jalan masuk ke Pantai Krokoh ini tentu gelap.

Tengah malam, di antara jaga dan lelap. saya melirik lewat pintu tenda yang terbuka. Ada sosok putih besar bergerak-gerak di luar. Jantung berdegup kencang, tetapi kemudian saya mengenali sosok itu: aduh, ternyata teman saya sendiri, yang melongok ke tebing rendah untuk memeriksa air.

Dini hari, saya bangun paling awal dan segera menyeduh kopi dan merokok. Bintang-bintang cemerlang. Bulan berkilauan menyegarkan mata. Debur ombak terus terdengar. Kalau saja di sini ada toilet dan warung atau bahkan penginapan!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *