Menu

Mengingat dan Memulai

Pekerjaan terakhir dari agennya datang sekitar dua minggu yang lalu sehingga dia punya cukup waktu untuk pekerjaan dari Penerbit D, yaitu novel anumerta Ernest Hemingway. Judul novel itu The Garden of Eden dan dia belum pernah menerjemahkan novel Hemingway dan dia mengerjakannya sungguh-sungguh seperti kalau dia menulis novel atau puisinya sendiri.

Dia membawa novel itu ke mana-mana: kos, kamar mandi, rumah orangtuanya, rumah temannya, warung kopi tempat dia duduk-duduk memandangi sawah, di jalan, di malam-malam jemu, di dini hari senyap. Dia begitu menyukai novel itu sampai-sampai gaya Hemingway yang begitu mahir menyusun kalimat-kalimat panjang namun jernih memengaruhinya.
Selama dua hari ini di kepalanya berputar kalimat-kalimat panjang yang penuh kata “dan”, “lalu”, dan “kemudian” dan jarang menggunakan koma. Dia tahu dia boleh menikmatinya sebelum melanjutkan dengan tulisan atau terjemahan lain. Pengaruh itu tidak hilang walaupun dia menulis sebuah cerita yang diniatkannya sebagai cerita bergaya populer.
Kini pengaruh itu meredup. Namun, pengaruh itu tidak akan pernah hilang, sama seperti saat dia dulu membaca For Whom The Bell Tolls yang membuatnya percaya cerita realis memiliki keunggulannya sendiri. Dia bahkan membuka-buka lagi cerpen-cerpennya yang belum jadi dan berusaha memoles-moles di sana-sini dengan gaya Hemingway.
Poles-memoles itu membuat dia merasa belum habis sama sekali. Dia masih punya harapan dapat menulis cerita-cerita baru yang lain daripada cerita-cerita yang pernah ditulisnya dulu walaupun sampai kini dia belum tahu akan seperti apa cerita-ceritanya itu. Realisme gaya Hemingway adalah salah satu kemungkinan.Tak lama setelah dia mengirimkan naskah terjemahan yang telah diedit dan dipruf, dia mengirim SMS kepada editornya untuk meminta izin mengepruf hasil layout. Editornya mengatakan dia sendiri yang akan mengepruf hasil layout itu agar “kami” tahu isinya. Hingga kini dia bertanya-tanya kenapa editornya itu menggunakan kata ganti “kami” dan bukan “saya” seperti biasa.

Cerita novel itu memang menarik. Pasangan bulan madu David dan Catherine Bourne terlibat dalam sebuah permainan psikologis (“pertempuran”, menurut Marita) di antara mereka sendiri. Catherine berpura-pura menjadi laki-laki dan berpenampilan dan berperilaku seperti laki-laki.

Catherine melakukan “permainan” itu karena dia sangat mencintai David sehingga dia cemburu kepada karir kepenulisan dan karya-karya David. David, dengan ukurannya sendiri, menyadari bahwa dia sangat mencintai Catherine sehingga dia bersedia mengikuti permainan itu walaupun dia menyadari bahwa mereka berdua akan hancur karenanya.

Dalam perjalanan bulan madu di sebuah kota pantai di Perancis selatan, keluarga muda ini bertemu dengan Marita yang jatuh cinta kepada David dan Catherine sekaligus lalu bergabung dengan mereka di hotel tempat mereka meningap dan melibatkan diri dalam permainan yang dirancang Catherine.

Catherine setuju saat Marita menawarkan diri untuk menjadi kekasih wanita Catherine. Kemudian Catherine juga memutuskan bahwa mereka berdua akan “berbagi suami”. Selama dua hari David akan menjadi suami Marita dan dua hari berikutnya David menjadi suami Catherine. David tetap mengikuti permainan itu walaupun dia semakin sadar bahwa Catherine telah “gila”.

Suatu saat, Catherine yang sangat cemburu kepada karya-karya David membakar cerita-cerita pendek yang baru saja selesai ditulis David. Catherine menginginkan David menyelesaikan terlebih dulu narasi yang menceritakan perjalanan bulan madu mereka berdua dan memasukkan Marita ke dalam narasi itu.

Dengan alasan ingin memberikan ganti rugi finansial atas karya-karya David yang telah dibakarnya, Catherine pergi ke Paris tanpa kepastian akan kembali atau tidak ke hotel itu. Setelah Catherine pergi, David menyadari dia juga telah mencintai Marita sebagaimana dia mencintai Catherine.

Novel ini diakhiri dengan David yang sedang bekerja dengan gembira menyelesaikan sebuah cerita pendek yang telah lama dia tunda penulisannya karena selalu merasa kesulitan untuk menuliskannya. Saat cerita berakhir di bagian ini pembaca akan merasa permainan yang dirancang Catherine belum selesai – cerita dalam novel ini belum selesai.

Menurut pengantar singkat di naskah aslinya, cerita novel ini memang dapat dianggap belum selesai. Penerbit dan ahli waris Hemingway sendiri kesulitan menemukan lanjutan dari novel ini sehingga penerbit menerbitkannya dengan kesadaran bahwa novel ini adalah novel yang belum selesai.

The Garden of Eden akan tetap bersamanya, entah dia sadari atau tidak, entah dia inginkan atau tidak. Namun, dia telah memutuskan untuk mengakhiri masa menganggur selama dua hari kemarin. Dia harus terus bergerak. Dia harus mengucapkan selamat tinggal kepada Hemingway dan mulai bersahabat dengan Heart of Darkness.

Sudah sejak lima tahun lalu dia berniat menerjemahkan karya Joseph Conrad itu. Heart of Darkness adalah salah satu karyatama dalam kesusastraan Inggris. Sepanjang pengetahuannya, novel pendek ini belum pernah diterjemahkan secara utuh. Dia hanya sempat melihat versi yang telah dipersingkat di rak sastra di Social Agency.

Tentu dia telah membaca esai Chinue Achebe yang menelanjangi asumsi xenofobis Conrad dalam Heart of Darkness. Dia sepakat, sebuah karya sastra yang ditahbiskan sebagai karyatama dalam khasanah suatu kesusastraan seharusnya merupakan karya yang memihak kemanusiaan dan bukannya menegaskan penindasan atas manusia.

Namun, dia berpendapat, pembaca tidak boleh bertindak bodoh seperti Orde Baru yang melarang pengajaran komunisme karena dianggap sebagai musuh negara. Logikanya sederhana: kau tidak bisa melawan musuhmu kalau kau tidak tahu seperti apa musuhmu itu. Untuk mengetahui apa yang dilawan oleh Things Fall Apart, kau harus tahu membaca Heart of Darkness.

Dia berharap, terjemahannya atas Heart of Darkness akan memberikan akses bacaan kepada pembaca yang kurang lancar membaca karya sastra dalam bahasa Inggris walaupun dia sendiri sudah kebingungan di langkah awal karena harus memilih padanan yang paling tepat untuk Heart dalam Heart of Darkness itu: hati atau jantung?

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *