Menu

Mengantar Pulang

Pada waktu itu hanya ada satu masjid untuk dua desa, dan semua orang dari semua usia yang ingin salat berjamaah datang ke masjid ini. Masjid ini paling ramai saat salat magrib dan isya karena sejak pagi buta hingga sore hari orang-orang lebih disibukkan dengan pekerjaan dan tugas yang lebih bersifat duniawi. Bahkan orang yang rumahnya paling jauh dari masjid pun menyempatkan diri untuk berjamaah pada kedua salat yang waktunya berdekatan itu.

Setelah salat magrib, biasanya para pemuda dan pemudi tidak langsung pulang. Mereka membaca iqra atau, jika sudah mahir, mengaji Alquran, walaupun ada juga yang hanya duduk-duduk di teras dan sekadar mengobrol. Kalau ada rapat organisasi remaja masjid atau pengajian khusus remaja – yang pesertanya dari dua desa itu juga – setelah isya, mereka baru pulang setelah acara selesai sekitar pukul sembilan malam.

Harga lampu listrik masih terasa mahal pada masa itu sehingga penerangan jalan, yang saat itu masih tanah belum diaspal, tidak memadai. Tentu, tidak semua orang, apalagi gadis-gadis remaja, berani berjalan pulang sendiri sehingga harus diantar, terutama mereka yang rumahnya cukup jauh dari masjid. Tetapi ada seorang gadis yang tidak pernah minta diantar, padahal rumahnya dekat kuburan desa – mungkin karena ia sudah terbiasa dengan jalan sepi yang melewati kuburan.

Pemuda yang sudah lama menyukai gadis itu menunggu-nunggu saat gadis itu, yang lebih tua dua tahun darinya, untuk meminta diantar pulang. Ia selalu membayangkan, kalau ia bisa berduaan saja dengan gadis itu, ia bisa menyatakan perasaannya tanpa harus merasa malu karena disaksikan orang lain – selama ini, selalu ada orang lain saat ia bersama dengan gadis itu karena mereka hanya bertemu pada saat magrib dan isya di masjid, yang tentu saja ramai.

Ia juga telah merencanakan rute yang akan dilalui saat mengantar gadis itu pulang. Gadis itu tinggal di desa yang lain, dan desa mereka hampir terlihat sebagai satu desa karena hanya terpisah oleh jalan tanah utama yang cukup lebar dan lebih terang ketimbang jalan dan gang lain. Tentu mustahil mengungkapkan perasaan di jalan utama itu. Jadi, entah bagaimana caranya ia harus membelokkan perjalanan mereka ke salah satu gang yang lebih sepi dan remang.

Ia bahkan telah merancang ungkapan cintanya, dan berkali-kali mengubahnya hingga menemukan kalimat yang dirasa paling pas mewakili isi hatinya: “Mbak, aku suka kamu”. Ia membayangkan gadis itu akan menanggapi dengan mengucapkan “terima kasih” – artinya, gadis itu menolak hubungan yang lebih jauh dari sekadar teman biasa. Tentu, ia berharap gadis itu memberikan jawaban yang akan memberinya seluruh langit dan bumi: “Aku juga suka kamu”.

Tetapi gadis itu tidak pernah minta diantar pulang, bahkan saat rapat atau pengajian berakhir lebih malam ketimbang biasanya, dan pemuda itu hanya bisa asyik dengan angan-angannya sendiri. Lalu pemuda itu benar-benar menyerah ketika, dalam sebuah pengajian, ustad yang diundang dari sebuah kampus di kota menyatakan dengan tegas bahwa pacaran, sebagaimana mengucapkan selamat untuk hari besar pemeluk agama lain, adalah haram.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *