Menu

Matras

Matras TNI hitam itu sudah beberapa waktu hanya teronggok di sudut kamar. Ia sedang ditimbuni pekerjaan dan ambisi sehingga belum sempat lagi berkemah dan tidur di luar ruangan. Kadang-kadang, di sela pekerjaan, ia merasa takut bahwa badannya menjadi begitu terbiasa dengan kenyamanan kasur sehingga menolak tidur lagi di atas matras itu.

Tetapi sebenarnya matras itu cukup nyaman. Ia suka menggelar matras itu dengan bagian kasar yang bergalur di bagian bawah, bersentuhan langsung dengan tanah, kerikil, atau rumput, lalu duduk atau tidur di bagian yang lembut. Digelar dengan cara begitu, matras itu terasa hangat dan empuk, sungguh membantu meredam ambeien yang sering kambuh.

Ia tak tahu pasti bagaimana cara menggelar matras yang benar. Ia pernah melihat beberapa orang menggelar matras dengan cara terbalik: bagian yang bergalur itu di bagian atas. Tetapi, kalau digelar seperti itu, ia merasa pantatnya atau tulangnya beradu dengan tempat yang keras, dan itu bisa memperparah berbagai penyakit dan ketidaknyamanan.

Karena sudah cukup sering dipakai, matras itu tak lagi mulus. Lubang-lubang bekas rokok berserakan di sana-sini. Sisa-sisa tanah atau pasir juga bisa ditemukan di antara galur-galur, bahkan ada juga yang menghuni bagian yang halus, terlewatkan begitu saja saat dibersihkan setelah dipakai. Baru sekali ia mencuci matras itu, dan malas mencucinya lagi.

Kalau nanti beban pekerjaan sudah habis, atau setidaknya berkurang — karena tentu ia harus terus bekerja — maka ia akan menggulung lagi matras itu, menyelipkannya di tas ransel, lalu menggelarnya di atas tanah, rumput, atau pasir, dan menikmati ruang berdinding udara di semua penjuru yang lega.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *