Menu

Kemah Sendiri di Pantai Pok Tunggal

Aku baru saja membeli beberapa peralatan alam terbuka baru dan ingin mencobanya. Karena tenda dome baruku hanya lapis tunggal (single layer), maka hanya cocok untuk lingkungan pesisir.

Jadi, aku harus ke pantai. Peralatan lainnya terbilang standar: tas paha yang juga dapat berfungsi sebagai tas selempang kecil, semi-carrier Eiger Squad kapasitas 35 liter, kompor lapangan, dan alat masak untuk dua orang.
Entah kenapa Pok Tunggal yang kujadikan tujuan. Kukira, karena seorang teman pernah bercerita kepadaku tentang pantai itu.
Sebagai orang yang sangat ingin tahu, kuputuskan untuk ke sana. Awalnya, aku sama sekali tak tahu letak pantai itu.
Aku hanya tahu bahwa Pok Tunggal terletak di suatu tempat di daerah Gunung Kidul.
Untungnya, GPS bawaan tertanam di ponselku yang sederhana, dan juga ada Google Maps.
Setelah mencari tahu kesana kemari di internet, aku berangkat mengendarai sepeda motorku dan mengambil rute selatan. Entah “rute selatan” ini ada atau tidak secara resmi karena aku sendiri yang menciptakan dan menamainya.
Jadi, kita berangkat dari titik mana saja di Kota Yogya, ambil arah ke Makam Raja-raja Imogiri. Dari sini, kita belok ke kiri dan mendaki jalan ke arah Kecamatan Panggang.
Jalan di rute ini berkelok-kelok, tapi cukup lebar dan halus dengan marka jalan yang jelas walaupun menghilang di beberapa ruas.
Aku melintasi desa-desa kecil, rumah-rumah yang bertebaran, dan ladang-ladang. Lanskap didominasi warna hijau dan paru-paruku terisi udara segar yang sangat kubutuhkan.
Sinyal komunikasi menghilang di beberapa tempat, tapi aku dapat mengingat titik-titik penting.
Kuikuti rute ini hingga mencapai pintu masuk barat Kawasan Wisata Pantai Baron. Peta memberitahuku untuk berjalan terus melintasi barisan pantai-pantai (Krakal, Kukup, Drini, Sepanjang, dan Indrayanti).
Tapi, aku tak begitu yakin jalan mana yang harus kutempuh setelah aku mendekati Pok Tunggal. Peta memberi tahu untuk terus ke arah Pantai Wediombo.
Jauh sekali ke Wediombo, yang relatif dekat dengan perbatasan dengan Jawa Timur. Aku harus berbalik arah satu kali sebelum menemukan pintu masuk yang benar,
Kubayar biaya “sukarela” di pintu masuk, yang dijaga oleh empat orang pemuda kumal. Jalan menuju pantai cukup menantang. Jalan ini terbuat dari sepasang jalur semen yang sempit.
Jalan ke Pok Tunggal.
Biaya parkir berbeda untuk pengunjung yang ingin menginap. Aku membyaar lima ribu rupiah.
Pok Tunggal adalah pantai yang pendek dan curam. Dilarang keras mandi di sini. Tapi pasirnya bersih dan kuning.
Ada beberapa payung warna-warni yang ditempati pasangan-pasangan. Pasangan lain atau kelompok-kelompok anak muda bermain dekat atau di air.
Kuhabiskan beberapa saat untuk duduk dan menulis catatan sambil sesekali memandang ombak dan mengamati pantai dengan tenang.
Ada sebuah mata air di sisi barat, di depan tebing batu karang yang diselimuti rerimbunan hijau. Airnya diisap oleh pompa. Mandi dan mencuci juga dilarang di sini.
Pukul empat sore, kudirikan tenda dekat mata air walaupun ada peraturan bahwa pengunjung baru boleh membuka tenda setelah pukul lima. Pengunjung di dekatku, sepasang kekasih, telah lebih dulu mendirikan tenda.
Baru kemudian kulihat bahwa beberapa warung di sini juga menyewakan tenda dome.
Persewaan tenda.
Aku berasil menyelesaikan pekerjaan terakhir minggu itu (aku juga membawa laptopku) sebelum malam turun. Sekitar pukul delapan malam, pantai telah sunyi. Aku hanya bisa mendengar gemuruh ombak yang menakutkan.
Sekelilingku gelap karena warung-warung di dekat tendaku sudah tutup.
Aku tak tahan mendengar suara laut hingga kukemasi tas-tasku dan kupindahkan tendaku lebih dekat dengan mata air, di antara dua tenda lain.
Tapi rasa takutku kepada laut saat mendengar suaranya semakin dalam seiring malam yang semakin larut. Sekali lagi kupindahkan tendaku, ini kali lebih dekat dengan sebuah warung. Segera saja aku berbincang-bincang dengan ibu penjual warung.
Posisi tenda orang yang takut mendengar gemuruh laut malam hari.
Menurut ibu itu, baru kemarin ombak tinggi menerjang hingga barisan warung, yang cukup jauh dari garis air.
Baru setelah pulang aku tahu bahwa cuaca memang sedang memburuk di laut: ombak tinggi, hingga tujuh meter, menerjang seluruh pesisir selatan (Samudera Indonesia) selama hampir dua minggu dan merusak pantai-pantai wisata.
Tapi, pagi keesokan harinya, sama sekali tak tampak tanda bahaya. Kulihat lebih banyak orang-orang mulai berdatangan, berseru-seru gembira dan berfoto selfie.
Pagi segar di Pantai Pok Tunggal.
Aku pun menikmati pemandangan pagi yang segar di pantai. Gemuruh laut terdengar kurang menakutkan ketika hari terang.
Sekitar pukul delapan, kukemasi barang-barangku, yang terbukti tangguh menghadapi pasir dan udara dingin, dan pulang. Tapi, aku berjanji akan kembali ke sini suatu saat nanti.Versi Bahasa Inggris pos blog ini diterbitkan di sini.

No Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *