Menu

Kemah di Pantai Wohkudu: Capek Sedikit Ya!

Tak satu pun dari kami yang tahu letak pasti Pantai Wohkudu. Saya, yang dipercaya menjadi pemandu, hanya ingat bahwa Pantai Wohkudu terletak di sebelah barat Pantai Gesing dan rutenya sama dengan rute Pantai Kesirat. Masalahnya, saya belum pernah sampai Pantai Kesirat. Saya dulu memang pernah menyusuri jalan menuju Pantai Kesirat, tetapi balik kanan setelah rem motor tua saya berdecit keras sekali di sebuah turunan curam.

pantai-wohkudu

Alhasil, perjalanan yang semula diperkirakan hanya butuh satu setengah jam baru benar-benar mencapai tujuan setelah dua jam. Kami bahkan sempat tersesat hingga Jalan Panggang-Wonosari yang lebar dan mulus. Apalagi, koneksi internet timbul tenggelam di daerah itu. Belum lagi beberapa teman yang terlalu cepat atau terlalu lambat sehingga ketinggalan — salah satu kerepotan kalau dolan beramai-ramai, beda dengan saat kemah sendirian.

Yang paling parah adalah saat kami melintasi sebuah proyek perbaikan jalan. Karena jalan sempit, diberlakukan sistem buka-tutup. Tanpa diduga-duga, salah satu motor anggota rombongan kami “menggila” — jumping dan ngebut — hingga hampir menabrak motor-motor lain dari arah berlawanan dan para pekerja membentak: “Pecicilan!” Entah apa yang dipikirkan teman kami itu!

Kami tak tahu harus berkata apa, tapi teman kami yang “menggila” itu, yang kami kira tersesat jauh, justru mengirim pesan lewat Whatsapp bahwa mereka sudah di depan TPR Pantai Wohkudu dan mengirim lokasinya. Untunglah, koneksi internet masih cukup kuat membuka Google Maps. Menjelang magrib, rombongan pertama yang terdiri dari sembilan motor tiba di TPR. Jalan yang sempit, berliku-liku, dan naik-turun sudah gelap.

Saya persilakan yang lain jalan lebih dulu. Mata saya yang sudah minus hampir empat tak berdaya melawan kegelapan jalan.

pantai wohkudu yogyakarta

Kami membagi rombongan keberangkatan menjadi dua karena ada sebagian teman yang baru pulang kerja menjelang magrib. Rombongan kedua tiba saat rombongan pertama sedang sibuk mendirikan tenda di atas pasir. Mereka membual bahwa mereka hanya butuh satu jam dari Jogja untuk mencapai Pantai Wohkudu. Saya tersenyum kecut, tetapi tetap lega karena akhirnya sekitar dua puluh dua orang peserta sudah berkumpul semua.

Saya sempat kecewa karena malam itu Pantai Wohkudu cukup ramai. Sebenarnya, ini di luar perkiraan. Saya kira Pantai Wohkudu cukup tersembunyi sehingga bebas dari weekend camper. Ternyata tidak: sudah cukup banyak tenda kelompok lain yang berdiri saat rombongan pertama kami tiba. Tapi, kekecewaan itu sirna saat mendengar suara debur ombak sepanjang waktu dalam kegelapan yang bertingkahan dengan samar-samar suara pengunjung.

Kami memperoleh tempat paling dekat dengan air. Cukup banyak alat penerangan yang kami bawa sehingga mata saya tidak begitu menderita. Sebelum tengah malam, dua puluh dua orang peserta duduk-duduk, mengobrol, dan menyanyi sekenanya di atas terpal yang digelar di depan tenda. Sekitar pukul sembilan, cahaya bulan dari sisi timur perlahan-lahan mulai menerangi tebing di sisi barat.

Pantai Wohkudu adalah salah satu pantai yang sedang naik daun di Kabupaten Gunung Kidul, DIY. Belum seramai Pantai Baron, memang, dan mungkin tak akan seramai pantai-pantai lain karena bentuknya yang cenderung sempit. Lagi pula, pantai ini tidak bisa dipakai untuk berenang: dasarnya adalah karang yang keras, ombaknya besar, dan karang-karang yang menjulang dari air besar-besar.

Selain itu, untuk mencapai pantai ini, kita harus menyusuri jalur trekking yang berawal dari tempat parkir lalu menurun melewati hutan kecil sekitar empat ratus meter. Jalur ini masih berupa batu kapur dan tanah yang cenderung curam, tanpa pagar atau penerangan. Belum lagi fasilitas yang terbilang sangat sederhana. Kamar kecilnya, misalnya, hanya ada satu, dengan dinding papan mirip gubuk darurat di proyek pembangunan.

Sikap pengelola, yang setahu saya menurut perkiraan saya adalah penduduk setempat, juga masih kurang akomodatif. Misalnya, pada saat saya berkemah di sini, kamar mandi satu-satunya itu dikunci dengan gembok. Ibu-ibu yang menjaga kamar mandi itu beralasan bahwa air habis, dan bersedia membuka kunci gembok kalau kami mau membeli sebotol air di warungnya untuk keperluan di dalam kamar mandi.

Bagaimana pengunjung bisa tahu bahwa pungutan itu bukan pungutan liar?

Saking kesalnya dengan sikap penjaga kamar mandi itu, beberapa orang teman saya memilih menyusuri trek menanjak ke tempat parkir dan menggunakan kamar mandi yang ada di atas sana. Artinya, harus berjalan naik-turun dengan jarak total sekitar satu kilometer sambil menahan pipis. Kalau saja pantai sedang tidak ramai, tentu cara pendaki gunung bisa digunakan.

Pada saat kami sibuk mendirikan tenda pun, seorang bapak-bapak menghampiri dan meminta “uang administrasi” sebesar sepuluh ribu untuk tiap tenda. Tidak ada bukti pembayaran yang diberikan kepada kami. Bagaimana pengunjung bisa tahu bahwa pungutan itu bukan pungutan liar? Seorang teman sempat curiga bahwa bapak-bapak itu hanya orang yang sekadar mencari uang saja dengan cara yang kurang menyenangkan.

Kalau saja pengelolaannya bisa lebih profesional, ada aturan yang jelas, dan fasilitas lebih baik, tentu Pantai Wohkudu bisa sangat menyenangkan. Memang, pantai ini tidak lagi se-terpencil foto-foto yang ada di Google Maps, yang memperlihatkan hanya ada sebuah dangau di area pantai, karena sekarang sudah ada warung dan kamar mandi. Tapi, pasir, tebing, karang, dan ombaknya sungguh menjadi variasi yang menyenangkan untuk pandangan.

Tetapi berbagai ketidaknyamanan seperti itu tidak mengurangi rasa senang karena akhirnya kami bisa dolan bareng dan berkemah di Pantai Wohkudu. Apalagi setelah api unggun menyala, indomie dan kopi panas dinikmati, dan gitar dimainkan. Beberapa pasangan mulai menghilang tanpa perlu dikhawatirkan walaupun ada beberapa ekor anjing liar yang berkeliaran di area pantai.

Menjelang tengah malam, teman-teman saya sudah masuk tenda. Beberapa orang, termasuk saya, masih bertahan di luar hingga subuh. Udara malam itu luar biasa dinginnya sehingga saya terpaksa mengenakan jaket dan merapat ke sisa-sisa api unggun. Untunglah, rokok dan kopi masih sangat banyak. Sesekali saya mendekat ke air untuk menikmati rasa kerdil di hadapan suara ombak yang terdengar semakin keras.

Ketika hari terang tanah, dan tenda-tenda sudah mulai agak longgar — hanya ada tiga tenda untuk dua puluh dua orang — saya baru tidur. Saya baru bangun saat udara dalam tenda mulai terasa gerah dan pantai mulai ramai dengan suara pengunjung. Ah, rupanya sudah cukup banyak yang tahu tentang Pantai Wohkudu sehingga menjadikannya sebagai tujuan untuk wisata hari Minggu.

Sekitar pukul sembilan, kami mengemasi tenda dan peralatan, lalu menuju Pantai Butuh, tujuan yang baru ditetapkan secara spontan setelah kami meninggalkan Pantai Wohkudu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *