Menu

Innuendo

Sejak pagi parak, langit di atas kota itu terus muntah dan membentak-bentak. Udara lebam-lebam dihajari guntur dan halilintar dan jalan-jalan berubah menjadi kali deras penuh sampah. Dingin ada di mana-mana.
Di depan sebuah toko tutup, seorang tukang pos bertopi biru mengangkat lengan kiri dan melihat jam. Delapan pagi, geramnya. Hujan menderas. Ketika terdengar suara melolong di kejauhan, tukang pos itu memaki dalam hatióangin kencang akan segera sampai dan mengubah hujan menjadi badai. 
Ia berjingkat mundur untuk menghindari tempias yang mengganas. Ia rapatkan punggung di dinding di belakangnya, tetapi sebentar kemudian ia terlonjak dan menjerit. Punggungnya terasa panas, seolah-olah ia baru saja bersandar pada sebuah dinding api. Dengan gusar ia berbalik dan memeriksa. Dinding itu tampak compang-camping dan catnya sudah terkelupas di sana sini. Ia meraba dinding itu dan seketika menarik jari-jarinya -ia seperti baru saja memasukkan tangannya ke dalam unggunan bara. Tiba-tiba ia menggigil dan rasanya ia mendengar suara berderak-derak.
Ia menoleh ke arah jalan dan mencari-cari sumber suara itu. Lalu ia sadari bahwa suara itu adalah suara gigi-giginya sendiri yang saling beradu. Berapa suhu udara saat ini, kenapa dingin sekali, ia bertanya-tanya dalam hati. Lalu ia teringat pada termometer yang selalu ia bawa di dalam tas kerja.
Segera ia keluarkan benda itu. Tak ada air raksa berwarna merah di dalam pipa kaca itu, juga di bulatan kecil di dasarnya. Termometer itu telah rusak, tak sanggup lagi menera berapa derajat dingin. Dengan kesal ia membuang benda itu ke jalan. Ia terkesima melihat betapa cepat benda itu lenyap dari pandangannya -dalam sekejap, air telah menyambar dan menghanyutkannya.
Ia melihat jam tangan lagi dan bergegas menurunkan lengan. Napasnya tersengal. Barusan tadi ia seperti melihat sepasang taring tajam menyeringai di jam yang melingkar di pergelangan tangan. Dan ia merasa takut.
Ia terus berdiri dengan badan kaku seperti tiang bendera, tak berani bergerak atau berusaha merapatkan mantel meski angin kencang menerpanya. Beberapa jenak kemudian, ia menunduk dengan pelan, sedikit mengangkat lengan kirinya, dan melirik jam tangan itu. Setan, makinya. Sepasang taring itu masih di sana, bahkan sepasang taring itu kini meneteskan darah. Cepat-cepat ia masukkan tangannya ke dalam saku luar mantel. Lalu ia menoleh karena mendengar sayup-sayup seriosa dari arah jalan. Seketika mulutnya ternganga.
Di hadapannya, di jalan yang telah berubah menjadi kali itu, ia melihat sebuah perahu kecil mengikut arus yang semakin galak. Seorang laki-laki bertopi jerami berpakaian serbaputih basah kuyup berdiri di buritan. Laki-laki itu memegang sebatang galah panjang. Ketika perahu itu menghilang di balik sebuah tikungan, tukang pos itu mencubit kedua pipinya. Terasa sakit. Bukan mimpi, batinnya.
Lalu ia menoleh lagi ketika terdengar suara berderak-derak. Kali ini, ia melihat sebuah kapal besar. Badan kapal itu memenuhi lebar kali, dan lajunya tertatih-tatih. Tiang-tiangnya patah semua. Kain-kain layarnya berkibaran dalam embusan angin kencang. Seorang laki-laki tua berjenggot tebal berdiri di balik pagar kapal, menatapnya tanpa berkedip. Ia tak suka dengan tatapan laki-laki tua itu karena tampak seperti tatapan mengasihani. Rasa-rasanya ia juga melihat beberapa kepala hewan menyembul dari balik pagar kapal. Ia menduga-duga: mungkin kepala tikus, babi, anjing, atau kucing. Ia tak yakin benar.
Ketika kapal besar itu menghilang, segulung topan berlari dari kejauhan dan melabrak semua yang berdiri. Tiang-tiang listrik dan papan-papan iklan bertemperasan dengan suara-suara yang bersaingan dengan bentakan-bentakan guntur. Gedung-gedung gemetar lalu runtuh. Percikan api tampak di mana-mana tetapi segera dipadamkan air hujan. Mobil, kereta, semua yang bergerak di Bumi, burung-burung, ternak dan binatang liar dan segala binatang merayap, yang berkeriapan di bumi, semua beterbangan di udara. Seakan-akan matilah segala yang ada nafas hidup dalam hidungnya dan segala yang ada di darat.
Ia menggigil. Kiamat! Kiamat! Ia ingin berteriak, tetapi mulutnya tetap bungkam. Ia begitu ketakutan hingga ia rasanya mau mencari maut, rasanya ia ingin mati, agar terbebas dari ketakutan tak tertanggungkan itu. Tetapi maut seperti lari darinya. Lalu ia merasa sesuatu yang berat menimpa kepalanya. Setelah itu ia lupa segala-galanya.
***
TELINGANYA berdenging. Ia menunggu sejenak. Ketika dengingan itu padam, hanya sayup-sayup lulung angin di kejauhan yang kedengaran olehnya. Ia berusaha berdiri, tetapi badannya tertimbun reruntuhan. Dengan susah payah, ia berhasil membebaskan diri dari reruntuhan. Kemudian ia menatap berkeliling.
Ia terpesona. Seluruh penjuru kota telah runtuh. Ke mana pun ia memandang, yang tampak hanya tumpukan puing-puing yang tinggi. Hanya di timur yang jauh tampak sebuah pancang hitam tegak menjulang. Tetapi hujan telah reda. Air telah surut. Yang tersisa hanya genangan-genangan di bekas jalan, bekas rumah, bekas lapangan. Beberapa ekor ikan bergeleparan di genangan di dekatnya. Di udara tercium aroma musim semi yang segar, dan tanpa ia sadari ia telah menghirup udara dalam-dalam. Sesaat, ia merasakan ketenangan yang luar biasa -ketenangan tiada tara yang menyusul setelah badai reda. Ia membatin, kalau setiap usai badai ada ketenangan seperti ini, rasanya ia mau saja setiap hari ada badai di kota ini.
Tetapi ketika melihat berkeliling, ke seluruh penjuru yang telah menjadi puing-puing, ia termangu. Tidak, batinnya, kedamaian yang sejati tentu tak bisa didapat dari penghancuran. Kemudian ia mendengar seseorang bersorak.
Ia mencari-cari di udara yang merona keemasan. Rasa-rasanya ia melihat sosok seorang laki-laki terbang berjumpalitan di udara. Laki-laki itu mengenakan sebuah mahkota emas, dan tangannya bergerak-gerak dengan gemulai, seperti penari. Sebuah dugaan terbit perlahan di benaknya. Ya, ia yakin betul bahwa laki-laki terbang itu adalah Midas. Midas tak merasa cukup dengan benda-benda emas di istananya dan kini ia hendak mengubah Langit menjadi emas pula.
Lalu ia teringat pada hartanya sendiri: surat-surat di dalam tas kerjanya. Tas itu masih terselempang di bahunya. Ia bergegas membuka tas dan memeriksa surat-surat yang mesti diantarkannya hari itu. Lengkap. Ada enam surat dari pengadilan yang harus ia kirimkan. Mungkin berisi vonis atau panggilan, batinnya. Tetapi ia ragu apakah alamat pada sampul surat-surat itu masih ada -bukankah seluruh kota telah runtuh? Dan apakah orang-orang itu masih ada?
Ia mengambil sepucuk surat dan membaca baik-baik alamat tujuan. Ia heran karena alamat itu dekat dengan tempat tinggalnya. Ia teringat bahwa nama pada alamat itu adalah nama seorang anak yang baru saja dilahirkan. Anak tetangganya. Aneh rasanya seorang bayi baru lahir mendapatkan kiriman sepucuk surat dari pengadilan.
Tiba-tiba dahinya basah. Benaknya kepayahan membendung rasa penasaran: ia ingin membuka surat itu dan mengetahui isinya -perbuatan tercela bagi seorang tukang pos. Ia menoleh ke kanan kiri, berharap agar tak ada orang di sekitarnya.
Lalu, dengan gerakan terburu-buru, ia menyobek sampul surat itu. Sesaat setelah ia membuka surat itu, ia kehilangan tenaga dan harapan. Surat dari pengadilan itu terlepas dari tangan dan jatuh ke sebuah genangan. Kenapa, kenapa bisa begitu, ia mulai meracau. Surat pengadilan itu berisi pemberitahuan bahwa bayi anak tetangganya itu telah dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan. Vonis itu pasti akan dilaksanakan, tetapi tanggalnya entah kapan.
Terhuyung-huyung, ia menghampiri topi birunya yang tertindih sebongkah bata. Ia bersihkan topi kebanggaannya itu dengan hati-hati, lalu dikenakannya. Ia tatap lanskap rumpang di sekelilingnya sambil menangis. Lalu ia mendongak: Midas tak ada lagi. Lalu ia berbalik dan meninggalkan tempat itu.
***
KINI ia sibuk mencari-cari sumber bunyi piano yang terdengar sejak ia meninggalkan daerah pinggiran kota. Semakin jauh ia meninggalkan kota, denting itu terdengar semakin keras. Ia berusaha berjalan dengan hati-hati di antara reruntuhan. Namun, ia tetap saja terantuk-antuk patahan kayu, potongan badan manusia atau serakan batu bata, dan ia tak kunjung menemukan sumber bunyi itu. Sesekali ia berhenti sebentar dan mengorek-ngorek lubang telinganya untuk memastikan bahwa denting itu memang benar-benar ada. Dan denting itu selalu terdengar dan membuat ia merasa lega -paling tidak, ia tak sendirian di kota puing-puing itu.
Ke arah timur ia lemparkan pandangannya, ke arah pancang hitam yang kini semakin jelas bentuknya -sebuah katedral tinggi dan ramping berwarna batu. Ia takjub. Bagaimana mungkin katedral itu masih kukuh, sedang semua yang lain sudah runtuh, ia bertanya-tanya dalam hati. Tetapi suara piano semakin jelas terdengar dari arah itu, dan ia pun meringkas langkah.
Seraya berjalan, ia keluarkan sedikit tangannya dari saku mantel dan melirik jam dengan cepat -sepasang taring berdarah itu masih ada di sana. Jam setengah enam sore. Ia menoleh ke barat. Langit bersemu merah seperti pipi pengantin. Matahari mengapung di atas garis langit yang jauh, tampak seperti bendera bundar tembaga yang gemetaran. Ketika ia menatap bulatan tembaga itu, kesedihan berhamburan ke dadanya. Ia merasa seperti sedang melihat lambai perpisahan seorang sahabat. Ia merasa ditinggalkan.
Ia berbalik dan meneruskan perjalanannya dengan langkah gontai. Melewati jalan yang berkelok-kelok, ia pun sampai. Dan ia mengucapkan syukur. Di halaman katedral, tampak seorang gadis sedang memainkan piano. Gadis itu bergaun putih dan matanya terbalut kain kafan, tetapi ia memainkan piano dengan keajaiban seorang virtuoso.
Ia melepaskan topinya dan mengangguk kepada gadis itu, meski ia tak yakin gadis itu akan melihatnya. Namun, gadis itu berhenti bermain, menoleh kepadanya dan tersenyum. Lalu gadis itu menunjuk pintu katedral dan berkata kepadanya dengan suara menggelegar seperti guntur yang membikin ia tersentak hingga topi di tangannya terlepas: “Engkau sudah ditunggu.”
Gadis itu bangkit, meraih tangannya, dan membimbingnya ke depan pintu katedral. Gadis itu menyuruhnya membaca tulisan di pintu. Ia menggeleng. Tidak, tidak mungkin, batinnya. Aku tak punya hubungan apapun dengan katedral.
Tulisan itu memberitahukan bahwa pintu katedral itu disediakan untuknya. Hanya ia yang boleh dan bisa membuka pintu itu. Tukang pos itu terpana ketika pintu katedral perlahan terbuka. Terdengar gema yang memberdirikan bulu tengkuknya.
Ia masih terpana ketika gadis itu melangkah masuk. Setiba di dalam, gadis itu berkata: “Pintu ini khusus untukmu. Hanya kau yang bisa membukanya. Tetapi kau tak pernah berusaha membukanya. Kau bahkan tak pernah kemari. Sekarang pintu itu akan kututup.”
Tukang pos itu ingin berteriak, ingin memanggil gadis itu agar tak meninggalkannya. Tetapi ia hanya bisa terpaku. Di hadapannya, pintu katedral tertutup dan gadis itu tak tampak lagi. Ia berbalik dan menghampiri topi birunya. Ketika menatap lanskap remang di kejauhan, ia merasa yakin bahwa seluruh dunia yang pernah ia kenal itu telah hancur.
Ia menoleh lagi ke arah katedral. Tidak, batinnya. Daripada terkurung di sana, lebih baik aku ke reruntuhan kota saja. Toh katedral bukan satu-satunya tempat yang aman. Siapa tahu masih ada orang hidup di bekas kota. Ia baru saja hendak beranjak ketika terdengar gemuruh guntur. Sesaat kemudian ia telah terkepung angin kencang. Lalu ia berbalik dan berlari sekencang ia mampu ke arah katedral.
Sumber gambar: bigfanboy.com Cerpen ini dipublikasikan di Suara Merdeka, 30 Juli 2007

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *