Menu

Fotografer Kesunyian

Ia lebih suka memotret bentang alam. Landscaper, menurut istilah populer. Tapi, itu pun tidak tepat benar. Ia lebih suka memandang dirinya sebagai “pemotret kesunyian”.

Foto-foto lanskapnya selama ini memang tak seberapa bagus. Wajar: belum lama ia memegang kamera DSLR, dan ia pun masih belajar — dengan sangat perlahan — untuk memahami cahaya.

Seperti sebuah kebetulan yang menggelisahkan: ketika ia keranjingan fotografi hingga memandang kameranya sebagai kekasih, ia sedang menerjemahkan esai tentang foto juga.

Kebetulan yang bermakna? Boleh jadi. Toh perkenalan pertamanya dengan jagat imajinasi saat kecil dulu adalah dengan dunia visual. Barangkali, alam sedang membimbingnya untuk kembali ke masa awal dulu itu.

Lagi pula, mata adalah salah satu indra yang paling sering dan mudah digunakan. Lain dengan bahasa yang membutuhkan kerja keras untuk mencapai “pemahaman” agar dapat dimengerti.

Karena itulah ia akhirnya tak menolak memotret objek lain: kota, jalan, arsitektur, manusia. Tentu, masih dengan kesunyian yang menguasai setiap jengkal keberadaannya saat ia membidik.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *