Menu

Fictious

The style is the man. Style yang tampak pada suatu tulisan adalah perwujudan kepribadian sang penulis.  Jika suatu teks menguarkan nuansa sarkastis, kemungkinan besar demikianlah kepribadian penulisnya. Atau, paling tidak, demikianlah cara berpikir sang penulis pada saat ia menuliskan teksnya — dan karena itu menjadi koreksi untuk adagium the style is the man itu: pada momen yang lain, bisa jadi si penulis tidak berpikir dengan cara demikian.

Saya cenderung percaya pada koreksi itu. Di dalam lingkungan pergaulan saya, yang sempit dan didominasi para penulis profesional (baca: menulis — apa saja — sebagai mata pencaharian), saya menjumpai pribadi-pribadi yang, saya tahu betul, memiliki dan mempraktikkan cara berpikir yang luar biasa mengagumkan pada saat mereka menulis sesuatu yang sifatnya personal dan intelektual. Misalnya, puisi, cerpen atau opini. Namun, saya juga tahu, mereka yang berasal dari kategori ini bisa berpikir dengan cara yang berbeda.
Yup, saya sedang berbicara tentang teman-teman penulis naskah-naskah “serius” yang “nyambi” sebagai penulis naskah-naskah “tidak serius” (atau “main-main”?). Saya selalu mengagumi para penulis yang bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan bahan. Jika bahan yang harus ditulis memang “serius”, mereka bisa berpikir dan menghasilkan tulisan yang juga “serius”. Jika bahan menuntut mereka menulis bahan yang “tidak serius”, mereka dengan mudah melakukannya.
Saya percaya mereka adalah orang-orang yang “lentur” dan “praktis”. Mereka telah begitu terampil dalam keterampilan dasar sehingga dapat berakrobat dengan sangat lentur dan mempraktikkan berbagai teknik penulisan agar menghasilkan teks sebagaimana yang dituntut oleh bahan. Mereka “praktis”, yang sangat dibutuhkan di dunia ini dan terbukti telah memberikan kemajuan bagi AS, karena menyadari, jika terus-terusan menulis “serius”, mereka tidak akan ke mana-mana.
Saya sudah pernah mencoba seperti mereka dan ternyata saya gagal. Bukan, bukan karena masalah idealisme murni, tetapi lebih cenderung karena masalah keterampilan: saya telah terbiasa menulis secara “serius” sehingga sungguh kerepotan ketika menulis teks yang “tidak serius”. Saya sadar, cara berpikir saya sudah terlalu mengakar sehingga sulit sekali untuk diubah. Memang, saya bisa melakukan sedikit “akrobat” tetapi hasilnya sungguh tidak graceful.
Karena itulah, untuk teks yang “tidak serius”, paling banter saya hanya percaya diri dengan naskah terjemahan “tidak serius”. Memang, saya juga menyadari bahwa ini hanya masalah latihan menajamkan keterampilan menulis, tetapi saya tidak punya waktu banyak untuk belajar menulis dengan teknik lain. Saya punya ide-ide lain yang harus diberi perhatian di tengah berton-ton beban yang kian hari kian menghimpit dan semakin banyak saja rasanya.
Hanya saja, rasa ingin tahu saya terlalu besar sehingga saya tetap ingin belajar menulis dengan teknik lain itu. Mungkin untuk teks yang “tidak serius”, mungkin yang “setengah serius”, mungkin yang hanya “asal njeplak”. Nah, karena sekitar dua atau tiga tahun yang lalu saya adalah seorang bloger, saya tahu pasti apa yang dapat dilakukan oleh internet: anonimity. Tak peduli siapa pun orangnya, ia tetap bisa bergentayangan di internet tanpa nama aslinya diketahui orang yang berinteraksi dengannya.
Tentu kita pernah mendengar atau bahkan tahu kasus-kasus di mana satu orang memiliki banyak akun pribadi, baik yang “beneran” maupun abal-abal. Orang-orang yang usil menggunakan akun abal-abal untuk “ngerjain” orang lain. Anda pernah melakukannya? Saya pernah melakukannya dan tidak pernah melakukannya lagi karena saya pikir, akun abal-abal untuk “ngerjain” orang lain itu adalah ungkapan jiwa  “sakit” yang tidak dapat menahan diri dan justru diungkapkan secara tidak sehat.
Saya berencana membuat satu atau dua akun abal-abal tetapi tidak digunakan untuk “ngerjain” orang lain. Tidak juga untuk keperluan SEO yang dulu menjadi obsesi saya setiap hari — saat saya masih aktif sebagai bloger. Akun abal-abal ini murni rekaan dan saya buat karena tuntutan praktis (saya telah belajar untuk berkompromi dalam beberapa hal). Sejak awal, saya sudah berjanji untuk tidak akan menyelewengkan akun abal-abal ini.
Saya adalah orang yang cepat bosan. Layar Microsoft Word tidak menarik bagi mata saya setelah dua jam. Platform blogspot atau WordPress atau platform lain yang menyediakan ruang gratis untuk menulis lebih panjang memungkinkan saya untuk melihat interface yang baru. Karena interface baru itu bermanfaat untuk membangun mood, saya memutuskan untuk memanfaatkannya. Dus, akun abal-abal saya itu murni berplatform online. Saya tidak menyimpan file offline di komputer saya.
Saya tahu cara ini berisiko karena, sekali koneksi internet mati — dan setiap saat saya menghadapi risiko itu — maka tulisan akan hilang ke dalam ketiadaan. Tapi toh masalah teknis seperti ini bisa diakali juga: copy paste untuk sementara di Notepad, sekadar untuk berjaga-jaga. Anonimity juga tidak saya dapatkan seutuhnya karena operator penyedia jasa layanan bisa melacak IP address saya. Dalam hal ini, saya hanya berharap tidak ada hacker yang usil ingin tahu pemilik sebenarnya dari akun abal-abal itu.
Fictious. Lima tahun silam, terakhir kali saya menciptakan dunia dan orang-orang fictious secara bertanggung jawab. Kini, saya pun akan tetap bertanggung jawab. Akun abal-abal ini tidak akan pernah digunakan untuk “ngerjain” orang lain atau menyebarkan keburukan dan kejahatan di internet. Two fingers crossed!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *