Menu

Desperado

Jip militer itu berlari tanpa hambatan di jalan Yogya-Wonosari yang baru saja disiram hujan. Jarum di spidometernya membidik angka 50. Kendaraan-kendaraan yang searah dan berpapasan telah menyerahkan seluruh jalan kepadanya setelah melihat warna hijau dan lampu depannya yang menyala.

Sopir jip itu, seorang tentara muda dengan sebuah balok kuning di seragamnya, berkali-kali mengeraskan rahang untuk menahan tangan-tangan kantuk yang memaksanya menguap. Ia berkali-kali melirik penumpang di sampingnya, seorang laki-laki berkemeja putih yang tidur pulas dan menyemburkan bunyi mendengkur yang kerasnya meningkahi bunyi mesin. Penumpang itu terus tidur, bahkan ketika jip melonjak-lonjak seperti bayi kegirangan ketika melintasi bagian jalan yang berlubang.

Selepas sebuah tikungan tajam, si penumpang membuka mata. Ia menggeliat kuat-kuat hingga tampak seperti hampir jatuh dari jip. Sopir jip kembali meliriknya, kali ini dengan tatapan seorang penjagal di rumah pemotongan hewan. Penumpang itu tahu sopir sedang memperhatikannya, dan ia semakin memamerkan kenyamanannya. Ia mengambil sebungkus rokok dari tas kain yang tambun di pangkuannya dan sebentar kemudian telah bermain-main dengan asap. Laki-laki berkemeja putih itu kemudian mengangkat tangan kirinya dengan gerakan berlebihan dan melihat jam. Jam lima sore lebih dua puluh.

Sopir dapat melihat dengan jelas jam tangan itu, sebuah jam tangan dengan merk yang terkenal dan sabuk yang terbuat dari perak asli. Harganya kira-kira sama dengan satu tahun gaji tentara dan pegawai negeri.

Yang empunya jam melirik sopir dan tersenyum puas. Tak banyak orang yang punya jam semahal itu dan ia pikir ia punya alasan untuk merasa menang atas sopir itu, seorang tentara, bagian dari mereka yang pernah menghancurkan hidupnya. Lagipula, ia mendapatkan jam tangan itu dengan cukup mudah. Seorang wartawan asing yang mewawancarainya di kamp memberikan jam tangan itu sebagai kenang-kenangan setelah sebuah wawancara yang singkat.

Ia kembali tersenyum ketika teringat bahwa wartawan itu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sudah diperkirakan para penjaga kamp—ia, sebagaimana ribuan tahanan lain di kamp, telah hapal jawaban yang mesti diberikan kepada setiap wartawan dan pengawas pembebasan. Namun, ketika ia menurunkan lengannya, rasa nyeri mendera ulu hatinya dengan tiba-tiba. Semua yang bersangkut paut dengan jam tangan itu adalah adalah bagian dari sebuah mimpi buruk yang ingin ia lupakan, masa lalu yang ingin ia musnahkan tanpa sisa dari ingatannya.

Ia melemparkan rokoknya yang baru terbakar setengah, sambil membayangkan bahwa yang ia lemparkan adalah sepuluh tahun kepedihan yang telah dihabiskannya di kamp. Ia menoleh untuk melihat angin basah menyambar dan memburaikan puntung itu. Kemudian ia memperhatikan sekeliling. Aspal jalan tampak lebih hitam dari biasanya. Kabut tipis seperti selimut besar yang dibentangkan di atas sawah-sawah yang tergenang. Nun jauh di timur, pegunungan kapur terbalut warna hijau gelap pepohonan dan tampak seperti dinding raksasa yang selalu mundur dan menjauh setiap kali didekati.

Laki-laki itu tahu ia sedang dalam perjalanan pulang. Ia kenal jalan itu. Tidak banyak yang berubah setelah sepuluh tahun. Inilah yang selalu ia mimpikan. Rasa nyeri menikam ulu hatinya lagi. Selama sepuluh tahun yang mengerikan itu, kepulangan telah menjadi sesuatu yang terasa asing dan jauh, seasing dan sejauh jarak antara pulau pembuangan dan tempat yang ia sebut rumah—selalu dengan penuh getar dan kesangsian. Berkali-kali, saat semuanya tampak seperti akan berakhir, ia berusaha menghilangkan pikiran dan ingatan tentang rumah yang kini sedang ia tuju.

Pikirannya terputus karena jip berhenti tak jauh dari gereja “Yohanes Pembaptis” dan sopir turun. Ia memperhatikan punggung tentara muda itu hingga menghilang di balik sebatang pohon asam besar di seberang jalan. Kemudian ia memakukan tatapannya di kaca depan yang kabur, tanpa melihat apa-apa. Sejenak kemudian ia turun dari jip dan duduk di sepatbor depan. Ketika sopir muncul lagi, ia membujuk tentara muda itu untuk menurunkannya saat itu juga.

Tentara muda itu melotot kepadanya dan memaki-maki. Tidak bisa. Perintah dari atasan adalah semua bekas tapol harus diantar ke Koramil setempat dan kemudian diantarkan dengan selamat sampai di rumah masing-masing. Dan tentara pengawal harus kembali bersama dengan surat-surat yang ditandatangani komandan Koramil, lurah dan camat. Titik. Ia mendebat bahwa ia bisa saja turun dan berjalan kaki ke rumahnya. Toh jaraknya tak seberapa jauh. Jip bisa terus ke Koramil. Ia akan datang ke Koramil esok paginya dan melapor. Ia tentu tak bisa lari ke mana-mana. Kalau masih tak percaya, nanti malam tentara boleh datang ke rumahnya dan memeriksa.

Tentara muda itu berpikir sejenak dan kemudian melirik jam tangan laki-laki berkemeja putih itu. Ia kemudian menggeleng dan berkata dengan tegas, “Tidak bisa.”

Laki-laki berkemeja putih itu mendesah dan melakukan upaya terakhirnya. Ia menanggalkan jam tangan bersabuk perak di tangannya dan mengulurkannya kepada tentara muda itu. Ia mengangguk dan berkata bahwa semua akan baik-baik saja. Esok pagi ia akan datang melapor ke Koramil dan mengikuti semua formalitas.

Sopir melirik jam tangan itu dan membuang muka.

***

Ia memandang jip itu hingga menghilang di kejauhan. Matahari telah menghilang di balik tabir kelabu di Barat, tetapi masih ada sedikit cahaya yang tersisa untuk menandakan bahwa hari masih sore. Dingin lebih dulu datang sebelum kegelapan malam.

Ia mengenakan jaket, memanggul tas kainnya, dan mulai berjalan dengan langkah-langkah ringkas. Ia ingin sampai di rumahnya cepat-cepat. Namun, di depan gereja langkahnya melambat dan akhirnya berhenti. Ia menoleh dan menyapukan pandangannya pada bangunan itu. Pandangannya terpaku pada salib besi yang mencucuk Langit. Suara-suara lain mendadak padam dan ia seperti mendengar kepak sayap ribuan merpati di sekelilingnya. Lamat-lamat ia merasakan hawa dingin mencengkeram tubuhnya seperti belenggu. Kesepian yang dalam. Rasa kerdil yang membikin ia menggigil. Kemudian potongan-potongan gambar yang jernih dan terang silih berganti terpapar di hadapannya.

Ia ingat, di halaman gereja itu dulu ia sering duduk-duduk di bangku kayu di bawah pohon talok yang rimbun daunnya, menyimak cerita-cerita misteri yang dikisahkan Pastur atau belajar menghapal doa-doa. Di situ pula ia pertama kali mendengar cerita-cerita mengerikan tentang para rasul, yang selalu lapar dan diludahi, yang bergaul dengan para pelacur dan pencuri, yang diburu dan dibantai tirani.

Ia tumbuh besar dengan cerita-cerita itu. Bertahun-tahun kemudian, setelah ia mulai berani berpikir sendiri, cerita-cerita Pastur itu ia rangkai-rangkai lagi dan ia menyimpulkan bahwa para nabi dan rasul sebenarnya dikirimkan hanya kepada orang-orang yang lapar, tertindas, miskin dan dihinakan, agar mereka bangkit. Ia merasa tak bersalah ketika ia percaya kepada orang-orang yang dulu datang kepadanya dengan menyerukan ajakan itu: “Bangkitlah kaum yang tertindas, bangkitlah kaum yang lapar….!”

Kini ia merasa bahwa ia telah menjalani nasib yang salah. Ia seharusnya tak pernah menjalani sepuluh tahun yang mengerikan itu. Ia merasa tak pernah menjadi apa yang dulu dituduhkan oleh para penangkapnya.

***

Tentara muda itu bersandar tanpa daya seperti orang lumpuh di dinding kantor Koramil. Hawa dingin menduduki setiap jengkal udara, tetapi keringat berleleran di tubuh prajurit yang bertelanjang dada itu. Ia baru saja selesai menjalani hukuman yang ditimpakan oleh komandan Koramil: push-up limapuluh kali, sit-up limapuluh kali, jalan katak keliling kantor Koramil duapuluh kali. Hawa panas masih terasa membakar pipinya yang memar-memar setelah ditampari puluhan kali oleh komandan Koramil. Ketika sehembus angin bertiup, prajurit itu menggigil. Memar di pipinya membesar dan membiru dalam sapuan angin.

Komandan Koramil menghampiri prajurit itu dan memerintahkannya bersiap. Setelah prajurit itu berhasil berdiri dengan sempoyongan, Komandan meneriakkan lagi kesalahan-kesalahan si terhukum. Prajurit muda itu seharusnya mengantarkan bekas tapol yang dikawalnya sampai di Koramil dan bukannya sembarangan menurunkan bekas tapol itu di jalan. Bekas tapol itu seharusnya menginap dulu di Koramil karena besok pagi ada belasan wartawan asing dan dalam negeri serta aktivis Amnesty Internasional dan setengah lusin organisasi internasional lain yang akan menyaksikan dan memastikan bahwa bekas tapol itu telah tiba kembali di tempat asalnya.

Apa yang harus dikatakan Koramil kalau bekas tapol itu tidak ada? Bekas tapol itu sangat penting karena ia akan menjadi bukti bahwa pemerintah memperlakukan tahanan politik dengan manusiawi dan bahkan kemudian membebaskan mereka, sekalipun mereka termasuk dalam golongan B—golongan anggota partai atau simpatisan aktif yang dianggap berbahaya.

Belum pulih tenaga tentara itu ketika sebuah truk militer memuntahkan sepasukan tentara di halaman kantor Koramil. Seorang tentara melapor kepada Komandan bahwa bekas tapol itu tidak ada di rumahnya. Keluarganya bersaksi bahwa mereka belum bertemu dengannya. Komandan melotot kepada tentara muda yang baru saja dihukum. Kemudian ia mengajak tentara muda itu masuk ke dalam kantor.

Di dalam ruangan kantor yang hangat, tentara muda itu menceritakan lagi kejadian sesore tadi, yang sudah ia ceritakan berulang kali kepada Komandan, bahwa bekas tapol itu menawarkan sebuah jam tangan mahal kepadanya dan ia menurunkan orang itu sebelum gereja. Ceritanya terputus karena seorang aktivis Amnesty Internasional mengetuk pintu dan meminta izin bertemu dengan Komandan. Komandan menemui aktivis itu dan berbicara sebentar, kemudian menutup pintu.

Kepanikan menggurat wajah Komandan. Ia memberitahu tentara muda di hadapannya bahwa berita hilangnya bekas tapol itu sudah bocor. Yang akan ditegur Panglima tentu bukan hanya tentara muda itu, melainkan juga seluruh personel Koramil. Maka, mereka berdua harus bekerja keras menemukan bekas tapol itu sebelum besok pagi.

Tiba-tiba Komandan terdiam. Sesuatu melintas dalam pikirannya. Ia yakin bahwa ia tahu di mana bekas tapol itu kini berada. Tetapi ia menggelengkan kepalanya karena tak percaya bahwa seorang merah mau berada di sana.

***

Mereka menemukannya di bawah pohon talok yang rimbun di halaman gereja “Yohanes Pembaptis”. Laki-laki itu duduk di sebuah bangku kayu dalam keremangan bersama Pastur. Para tentara meminta Pastur masuk ke rumahnya di belakang gereja dan berjanji bahwa mereka tidak akan menggangu bekas tapol itu.

Tentara muda itu menyipitkan mata dan berusaha memperhatikan bekas tapol itu. Sedikit cahaya lampu di depan pintu gereja menyinari orang itu dan memperlihatkan wajah yang penuh keriput dan tampak tua. Tidak ada yang mengajak bicara bekas tapol itu. Ia hanya duduk dan menatap sesuatu yang jauh. Rasa marah dalam diri tentara muda itu musnah dan ia merasa iba kepada orang yang telah membuatnya dihukum itu.

Komandan mendekat dan meminta bekas tapol itu berdiri. Mereka akan mengantarnya pulang ke rumahnya di sebuah dusun kecil di kaki pegunungan kapur. Bekas tapol itu menggeleng dan berkata bahwa ia sudah pulang. Semua yang mendengar berkerut kening. Bekas tapol itu berkata bahwa rumahnya yang sekarang adalah gereja itu.

Komandan menggelengkan kepala dan menyilangkan telunjuknya di dahi. Beberapa tentara menahan tawa. Komandan memerintahkan anak buahnya untuk berjaga di gereja itu sampai besok pagi. Kemudian ia mendekati aktivis Amnesty Internasional yang menunggu di gerbang gereja dan menceritakan bahwa bekas tapol itu meminta diturunkan di gereja karena ingin menginap di sana. Aktivis itu tersenyum dan lalu menyertai Komandan menuju jip yang menunggu di pinggir jalan.***

Yogya-Jakarta-Bandung-Bali, 2007  

Catatan: cerpen ini pernah dipublikasikan di Sinar Harapan, 5 Januari 2008 dan sebagian dari novel yang belum diterbitkan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *