Menu

Deep In Translation

Karena tidak ada job masuk dari agenku, kegiatanku seharian ini adalah campuran antara malas-malasan dan belajar. Bangun jam satu siang, segera kusambar buku Pesona Penyingkap Makna. Buku itu selesai kubaca sekitar jam enam sore. Setelah tidur dan malas-malasan sebentar, kulanjutkan dengan Pedoman bagi Penerjemah karangan Rochayah Machali.

Karena Fahmi datang, aku tak bisa konsentrasi membaca, jadi kuletakkan buku kedua hari ini untuk mengobrol dengan teman karibku ini. Tempo hari Fahmi memotretku di rumah kontrakan Koto yang baru di Wijilan. Sore tadi Fahmi mengantarkan suntingan foto itu. Segera kucetak suntingan itu. Setelah tercetak, baru terlihat bahwa sisi kanan pipiku lebih gelap.

Namun, itu bukan masalah. Toh aku tak pernah berniat menjual tampang (aku sadar diri, kok). Segera kucetak suntingan itu dalam segala ukuran, mulai dari 2 x 3, 3 x 4 hingga 4 x 6. Versi digitalnya kusimpan di folder HPI sebagai persiapan untuk melengkapi persyaratan menjadi anggota HPI. Sewaktu kubaca kembali formulir pendaftaran dari lembaga itu, kujumpai hal yang membuatku merutuk.

Ada dua jenis keanggotaan yang kusasar di HPI, yaitu Anggota Muda dan Anggota Penuh. Fasilitas Anggota Muda sangat terbatas, di antaranya tidak memiliki kesempatan untuk melakukan Tes Sertifikasi Nasional (TSN). Awalnya, aku hanya ingin menjadi Anggota Muda karena aku sama sekali tak punya gelar dan belum pernah ikut tes apapun yang terkait dengan penerjemahan – TOEFL saja belum pernah ikut.

Ketika kubaca lagi formulir pendaftaran itu, kutemukan kata “atau” di akhir setiap persyaratan. Sialan. Berarti, sejak formulir itu kuterima – sekitar tanggal 7 November tahun kemarin – aku salah baca.

Ada empat syarat untuk menjadi Anggota Penuh, yaitu memiliki karya terjemahan pernah diterbitkan penerbit anggota IKAPI, ATAU melampirkan karya terjemahan berisi 150.000 karakter (sekitar 100 halaman), ATAU telah memiliki sertifikat Penerjemah Bersumpah, ATAU melampirkan surat keterangan dari perusahaan atau tiga klien.

Setan mana pula yang merasuki mataku sejak bulan November itu? Gara-gara tak teliti membaca, semangatku runtuh karena kukira aku tidak memenuhi syarat untuk menjadi Anggota Penuh. Uh, untung kali ini aku membaca formulir itu dengan lebih teliti – dan semangatku naik lagi karenanya. Namun, untuk memastikan, kukirim surel lagi kepada sekretariat HPI untuk meminta informasi.

Karena sedang bersemangat, kubongkar lagi berkas-berkas lama di folder terjemahan. Ada beberapa berkas. Kupilih Teori Komunikasi. Sebelumnya, aku tak ingat bahwa aku pernah menerjemahkan buku karangan David Holmes ini. Namun, samar-samar aku ingat, saat di rumah Koto kemarin, aku melihat buku terbitan Jalasutra ini di rak buku JBS.

Setelah berkas persiapan untuk HPI selesai, kulanjutkan membaca Pedoman bagi Penerjemah. Ini buku terbitan Bahtera, blog penggiat bahasa dan terjemahan yang beberapa bulan ini kubaca cukup intensif. Aku membeli buku ini setelah membaca posting di blog ini. Uangku sudah mepet, namun kupikir aku masih bisa menahan lapar dan menghemat rokok sampai saat gajian tiba.

Sesuai arahan di blog itu, aku memesan kepada Mbak Sofia Mansoor (eh, ternyata “Ibu”), penerjemah senior dan pendiri Bahtera. Eh, malah aku ditawari paket berisi empat buku. Dua buku yang lain adalah buku-buku terbitan Bahtera juga. Kuambil semua. Sempat ribet juga urusan membeli buku ini karena masalah ongkos kirim yang lebih besar daripada perkiraan.

Aku berutang sekitar 7 ribuan kepada Mbak Sofia. Karena punya utang itu benar-benar tidak enak, segera kulunasi utangku segera setelah aku punya waktu ke ATM.

Beberapa tulisan dalam Pesona Penyingkap Makna rupanya pernah terbit di internet. Satu yang kubaca di internet adalah tulisan Nursalam AR yang terbit di blognya. Aku ingat bahwa selama ini aku mengenal nama Nursalam AR sebagai penulis sejarah, sastra dan sosial. Setelah membaca-baca blognya, aku baru tahu ternyata fokus Mas Salam malah di penerjemahan – bahkan sekarang bekerja sebagai penerjemah in-house.

Buku kedua belum selesai kubaca, namun pembahasan Bu Rochayah yang sangat saintifik membuatku berpikir lagi tentang penerjemahan yang sedang kualami saat ini. Bu Rochayah begitu ketat, sebagaimana umumnya tulisan akademik, dalam memaparkan tentang dasar-dasar penerjemahan. Banyak hal yang baru aku tahu setelah membaca bagian-bagian awal buku ini.

Misalnya, tentang delapan jenis pendekatan dalam penerjemahan. Sebelumnya aku hanya tahu dua jenis pendekatan, yaitu setia dan saduran. Jenis yang kedua ini malah tidak dibahas Bu Rochayah. Wah, aku jadi tergoda untuk memasukkan diriku sendiri ke dalam kategori penerjemah yang mampu menerjemahkan karena bakat, bukan karena pendidikan – pong pong bolong soal teori penerjemahan. Yaiy.

Setelah Fahmi pulang dan aku tidak bisa tidur walaupun sudah menguap berkali-kali, kepalaku disesaki masalah epistemologi pribadi dalam bidang penerjemahan ini. Jujur saja, motivasi utamaku mendalami penerjemahan selama enam bulan terakhir ini ganda: untuk “melarikan diri” dari impotensi dalam bidang kreatif sekaligus untuk meningkatkan pendapatan.

Setelah menjauhkan diri dari jagat tulis-menulis kreatif empat tahun lalu, aku mendalami penulisan online sebagai copywriter, ghostwriter dan blogger. Pendapatan sangat kecil, tapi cukup untuk bertahan hidup. Lalu, ketika mengalami prahara pribadi satu tahun lalu, aku “melarikan diri” ke Jakarta dan menjadi penerjemah subtitel. Setelah prahara pribadi itu selesai, aku kembali ke Jogja dan kembali kerja serabutan.

Karena tidak punya uang sama sekali, kuhubungi lagi pelanggan-pelanggan lamaku. Lama-lama aku eneg karena menulis itu-itu saja: pariwisata, produk, hotel, pemasaran. Kosakatanya hanya itu-itu saja. Karena semakin eneg, iseng-iseng kuhubungi lagi penerbit yang tiga tahun lalu pernah bekerjasama denganku. Eh, ternyata Mbak Tika, yang berhubungan denganku dulu, memberikan tanggapan positif.

Setelah pendapatan bulanan cukup lancar, iseng-iseng (lagi) kubuka kembali akunku di ProZ dan kubaca-baca artikel di sana. Seingatku, aku juga membuka beberapa situs penerjemahan dan menaruh profilku di sana. Lalu, tiba-tiba, pada bulan September tahun lalu, agenku yang sekarang ini menawariku untuk bergabung dengan mereka.

Awalnya, kukira agen itu mendapatkan profilku dari ProZ.com. Usut punya usut, ternyata mereka mendapatkan profilku dari Translator Town. Aku malah sudah lupa kalau pernah membuat profil di sana. Namun, yang namanya rejeki memang rahasia Gusti Ingkeng Murbeing Dumadi. Yang penting: bagi seorang penerjemah yang sudah terbiasa dengan tarif rendah di Yogya, tarifku di agen ini terbilang besar.

Setelah membaca lebih banyak tentang dunia penerjemahan di internet, aku baru tahu kalau tarifku dengan agenku yang sekarang ini ternyata malah terlalu rendah dan merusak harga pasar. Walah, mana aku tahu? Utas tentang tarif di ProZ.com saat itu hanya terbuka bagi anggota berbayar (sekarang aku sudah menjadi anggota berbayar di sana).

Karena itulah aku berani mengambil langkah dramatis. Aku berdamai dengan diri sendiri dan tidak lagi memaksakan diri untuk menulis tulisan-tulisan kreatif. Toh menerjemahkan pun sebenarnya kreatif. Dan yang pasti: aku sangat menikmatinya, setidaknya untuk saat ini. Selain merasakan kenikmatan ketika bermain-main dengan bahasa, pendapatanku juga naik.

Selain itu, aku melakukan sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya: aku berutang kepada bank. Aku membutuhkan banyak uang untuk melengkapi persenjataanku karena sekarang aku harus lebih metodik dalam bekerja, tidak seperti dulu di mana aku hanya mengandalkan ingatan dan imajinasi serta kamus-kamus online ketika menerjemahkan.

Ya, untuk pertama kalinya dalam usiaku yang sudah kepala tiga ini, aku berutang kepada bank (BRI) dengan jaminan BKPB sepeda motorku. Untunglah permohonan kreditku (KUR = Kredit Usaha Rakyat) diterima. Dengan uang hasil utang itu kulengkapi cangkulku: kamus berbagai bidang, printer, keanggotaan di ProZ.com dan sebagainya.

Dan untuk pertama kalinya juga dalam hidupku aku membeli KBBI (edisi terbaru, Januari 2013). Dan untuk pertama kalinya juga dalam hidupku aku bersusah-payah mencari kamus Oxford betulan. Seumur-umur, bahkan setelah kuliah di Program Studi Sastra Inggris FBS UNY 13 tahun silam, kamus yang pernah kubeli hanya kamus saku Oxford.

Aku belum memperoleh kamus Oxford yang kucari karena di Gramedia tidak ada dan aku malas membeli kamus bekas. Shopping/Taman Pintar tak kuperhitungkan sebagai tempat berburu kamus: aku tak mau tertipu dengan membeli kamus bajakan. Aku ingin kamus edisi terbaru yang asli, kalau bukan Oxford, Merriam-Webster pun boleh. Toh jatahku belanja kamus masih ada.

Dan untuk pertama kalinya juga dalam hidupku aku tahu tentang CAT (disebut si meong atau katul di kalangan penerjemah). Ini yang belum aku punya. Aku hanya punya versi trial memoQ. Namun, menurut tulisan-tulisan yang kubaca di internet, katul yang paling banyak digunakan adalah Trados. Makhluk apa pula ini? Dan harganya mahal pula. Aih. Harus bersabar dan menabung.

Nah, saat menulis tulisan ini, aku baru sadar bahwa penyakitku dalam menulis kambuh lagi setiap kali aku menulis: koherensi. Apa yang sebenarnya akan kutulis di sini? Centang-perenang tidak karuan seperti ini! I need to translate. Hemingway, Hemingway…. Give me your poisonous prose!

 

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *