Menu

Tambang Perak

Oleh Selma Lagerlof

Sumber: Ebooks.adelaide.edu.au

Raja Gustav Ketiga melakukan perjalanan yang tergesa-gesa melintasi Dalarna. Walaupun kuda-kuda tampak seperti melayang di atas tanah, Baginda tidak puas. Baginda menyorongkan badan keluar jendela dan terus-menerus menyuruh kusir agar lebih cepat, dan para pengawal menduga bahwa kereta kerajaan atau tali kekang bisa patah kapan saja.

Akhirnya sumbu kereta memang patah. Para pengawal melompat turun dari kereta dan setelah cepat-cepat memeriksa, mereka mengatakan bahwa mustahil untuk melanjutkan perjalanan tanpa terlebih dahulu memperbaiki kereta. Karena mencemaskan hiburan untuk Baginda, mereka bertanya apakah Paduka ingin menghadiri misa di sebuah gereja kecil yang dapat terlihat tidak jauh di depan.

Baginda setuju, dan setelah pindah ke kereta lain, menuju gereja itu. Selama berjam-jam ia telah melintasi hutan-hutan yang luas sehingga ia gembira sekali dapat memandang padang-padang hijau dan dusun-dusun kecil. Dalelven mengalir berkilauan di antara dedalu yang rimbun.

Namun, Baginda tidak bisa menghadiri misa, karena baru saja ia melangkah keluar dari kereta untuk turun ke halaman gereja, koster sedang membunyikan lonceng penutupan. Jemaat sedang berbaris keluar dari gereja. Saat mereka melintasi Baginda, tempat ia berdiri dengan satu kaki di tangga kereta, Baginda terkesan dengan sosok mereka yang tegap dan perawakan mereka yang kokoh dan sehat.

Pada hari sebelumnya, Baginda telah mengungkapkan kepada para pengawalnya tentang kemiskinan daerah perdesaan yang hari itu mereka lintasi. “Sepertinya,” katanya, “sekarang aku sedang melintasi bagian paling melarat di daerah kekuasaanku.” Namun, saat ia melihat orang-orang ini, ia lupa tentang kemiskinan perdesaan itu. Hatinya menjadi hangat dan ia bergumam, “Raja Swedia tidak miskin seperti yang diyakini musuh-musuhnya. Selama kawulaku tetap segar dan sehat seperti ini, aku akan berhasil membela tahta dan negeriku.”

Ia lantas memerintahkan seorang pengawal untuk memberi tahu orang-orang itu bahwa orang asing yang ada di antara mereka ini adalah raja mereka, dan ia ingin mereka berkumpul di sekelilingnya agar ia bisa berpidato kepada mereka.

Ia berbicara kepada mereka, sambil berdiri di jenjang tangga teratas yang mengarah ke ruangan di dekat altar, dan tangga tempat ia berdiri masih dapat dilihat sekarang.

Pertama-tama, Baginda mengungkapkan kepada rakyatnya tentang situasi kerajaan. Swedia diserang oleh Rusia dan Denmark. Dalam keadaan biasa, hal itu tidak akan mengkhawatirkan, tetapi saat ini angkatan perang berisi banyak sekali pengkhianat sehingga sama sekali tidak bisa diandalkan. Karena itu, ia tidak melihat ada pilihan lain kecuali datang sendiri ke kota-kota kecil dan menemui rakyatnya dan bertanya apakah mereka ingin berpihak kepada para pengkhianat atau bersedia membantu Baginda dengan prajurit dan uang untuk menyelamatkan Tanah Air.

Sementara ia mengungkapkan permohonan yang bersungguh-sungguh ini, para petani yang kuat itu berdiri penuh perhatian di hadapannya, tidak berkomentar apa pun, ataupun memberi tanda setuju atau tidak setuju. Baginda merasa gembira dengan kekuatan permohonannya, maka ketika orang-orang itu berdiri membisu, tak mampu memberikan jawaban, ia mengerutkan kening dan memperlihatkan kekecewaan.

Para petani itu mengerti bahwa Baginda tidak sabar menunggu jawaban mereka, dan akhirnya salah satu dari mereka melangkah maju. “Raja Gustav, saya mohon mengertilah,” katanya, “bahwa kami tidak menduga akan dikunjungi raja kami hari ini. Karena itu kami tidak siap untuk menjawab Paduka dengan segera. Saya sarankan Paduka masuk ke altar dan berbicara dengan pendeta kami sementara kami membahas masalah yang Paduka berikan kepada kami ini.”

Baginda, yang mengerti bahwa tidak ada solusi yang lebih baik, memutuskan untuk melaksanakan saran si petani.

Ketika ia memasuki ruangan di dekat altar itu, ia tak menemukan siapa pun di sana kecuali seorang petani tua. Petani itu tinggi dan kasar, dengan tangan besar dan runcing karena kerja keras. Ia tak mengenakan jubah maupun kerah pendeta, hanya celana dan jubah buatan rumah seperti para petani yang lain. Ia bangkit dan membungkuk saat Baginda masuk.

“Kukira aku akan bertemu pendeta di sini,” kata Baginda.

Si petani tua tersipu karena malu, karena ia menyadari bahwa Baginda mungkin akan jengkel kalau diberi tahu bahwa Baginda salah mengira bahwa si petani memang pendeta yang dimaksud.

“Ya,” ia mengakui, “pastor biasanya  ada di sini.”

Baginda duduk di sebuah kursi berlengan besar yang saat itu ada di ruangan, dan yang sekarang masih ada di sana dengan sedikit perubahan; jemaat telah meletakkan sebuah mahkota emas di bagian punggung kursi itu yang dapat dilihat hingga kini.

“Apakah pendeta kalian di sini baik?” tanya Baginda, yang ingin menunjukkan perhatian kepada kesejahteraan rakyatnya.

Ketika Baginda mengajukan pertanyaan itu, si pastor merasa bahwa mustahil untuk mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya. Ia memutuskan bahwa lebih baik Baginda mengira bahwa ia hanyalah seorang petani biasa, maka ia menjawab: “Pendeta di sini adil; ia mengkhotbahkan firman Tuhan yang jelas, dan ia mencoba hidup seperti yang dikhotbahkannya.”

Baginda menganggap jawaban itu sebagai rekomendasi yang baik. Namun, telinganya yang tajam menangkap keraguan dalam nada suara orang itu. Maka, ia berkata, “Tapi, kau terdengar tidak begitu puas dengan pastormu.”

“Mungkin ia agak keras kepala,” jawab si pendeta, sambil berpikir, “Kalau Baginda nanti mengetahui siapa aku sebenarnya, ia akan menyadari bahwa aku telah memuji diriku sendiri.” Maka, ia memutuskan untuk sedikit memberikan kritik. “Ada beberapa orang yang mengatakan bahwa pastor kami ini ingin menjadi penguasa di dusun ini,” lanjutnya.

“Kalau begitu, ia pasti telah mengarahkan dan mengelola segala sesuatu dengan sebaik-baiknya,” kata Baginda. Ia tidak senang karena ada petani yang menyalahkan seseorang yang ditempatkan di atas petani itu. “Bagiku, semua yang ada di sini tampak diatur dengan kebiasaan baik dan kesederhanaan gaya lama.”

“Rakyat di sini baik,” kata si pendeta, “karena mereka hidup di sebuah tempat terpencil dan dalam kemiskinan. Rakyat di sini mungkin tidak akan lebih baik dari di tempat lain kalau ujian dan godaan dunia ini lebih dekat dengan mereka.”

“Kecil sekali kemungkinan hal itu akan terjadi,” kata Baginda sambil mengangkat bahu.

Ia tidak mengatakan apa-apa lagi tetapi mulai mengetuk-ngetukkan jari pada meja. Ia merasa bahwa ia sudah cukup bercakap-cakap dengan petani ini, dan bertanya-tanya apakah rakyat di luar sudah siap dengan jawaban.

“Para petani itu tidak begitu berhasrat untuk membantu raja mereka,” pikirnya. “Kalau keretaku sudah siap, aku akan menjauh dari mereka dan pertimbangan masak-masak mereka.”

Si pendeta, yang sangat gelisah, berjuang untuk mencari cara untuk menanggapi pertanyaan yang harus segera dijawab. Ia merasa gembira karena ia tidak memberi tahu Baginda tentang siapa dirinya sebenarnya, karena sekarang ia bisa membahas masalah-masalah yang jika tidak demikian tidak akan bisa diungkapkannya.

Setelah beberapa saat, ia memecahkan keheningan itu dengan menanyakan apakah memang benar musuh-musuh sedang mengepung mereka dan kerajaan sedang terancam.

Baginda, yang merasa bahwa orang tua itu seharusnya cukup waras untuk tidak mengganggunya, memandangnya selama beberapa saat tanpa menjawab.

“Saya bertanya karena, ketika berdiri di dalam ruangan ini, saya tidak bisa menyimak apa yang Paduka katakan kepada orang-orang di luar. Tetapi kalau memang benar, saya ingin menyatakan bahwa pastor paroki ini mungkin berada dalam posisi untuk memberikan uang sebanyak yang diinginkan Paduka.”

“Kukira kau tadi bilang bahwa semua orang di sini miskin,” kata Baginda, yang menganggap bahwa petani tua itu tidak memahami apa yang sedang dikatakannya.

“Ya, memang benar,” sang pastor setuju, “dan pendeta sama melaratnya dengan yang lain. Tetapi bila Paduka bersedia mendengarkan saya, saya akan menjelaskan kenapa pendeta punya kekuatan untuk membantu.”

“Kau boleh bicara,” kata Raja Gustav. “Kau tampaknya lebih mudah mengungkapkan diri daripada teman-teman dan tetanggamu di luar, yang tidak akan pernah siap dengan jawaban mereka.”

“Menjawab seorang raja bukan masalah yang gampang. Saya takut, pada akhirnya, bahwa sang pendeta sendiri yang harus berbicara mewakili mereka.”

Baginda menyilangkan kaki, melipat lengan, dan tertunduk. “Mulailah,” katanya, dengan roman wajah siap tertidur.

“Syahdan pastor dan empat laki-laki dari parokinya pergi berburu rusa,” si pendeta memulai. “Selain pastor, ada dua prajurit, yaitu Olaf dan Erik Svard, tuan tanah di desa, dan seorang petani bernama Isræls Pers Persson.”

“Tidak perlu menyebutkan begitu banyak nama,” gerutu Baginda sembari sedikit menggeser kepala.

“Mereka adalah pemburu yang baik dan biasanya beruntung, tetapi pada hari itu mereka telah berjalan jauh tanpa menangkap hewan apa pun. Akhirnya, mereka menyerah dan duduk di tanah untuk berbincang-bincang. Mereka memperhatikan kenyataan yang sangat aneh bahwa tanah yang begitu luas itu tidak cocok untuk pertanian. Semuanya batu, bukit, atau rawa belaka.

“‘Tuhan Kita tidak adil kepada kita karena memberikan tanah yang begitu miskin untuk dihuni,’ kata salah satu dari mereka. ‘Di daerah lain, orang punya kekayaan dan kelebihan, tetapi di sini, walaupun kita telah bekerja keras, kita masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.’”

Pendeta berhenti sejenak seakan-akan tidak yakin apakah Baginda menyimaknya. Namun, Baginda menggerakkan kelingkingnya sebagai tanda bahwa ia masih terjaga.

“Ketika para pemburu itu membicarakan nasib malang mereka, si pendeta memperhatikan ada yang berkilauan saat ia membalik selembar lumut dengan sepatunya. ‘Ini pegunungan yang luar biasa,’ pikirnya. Setelah membalik lebih banyak lumut dan mengambil sebongkah batu yang menggelantung pada lumut itu, ia berseru, ‘Apakah mungkin ini bijih timah!’

“Yang lainnya cepat-cepat mendekati si pendeta dan mulai mencungkili batu-batu itu dengan popor senapan. Maka kemudian mereka membuka lapisan mineral yang luas di sisi pegunungan itu.

“‘Menurutmu ini apa?’ tanya si pendeta.

“Tiap orang memecahkan sekeping batu dan, setelah menggigitnya untuk menguji secara kasar, mengatakan bahwa ia mengira batu itu setidaknya adalah timah sari atau timah.

“‘Dan seluruh pegunungan ini terisi dengan itu,’ ucap tuan tanah.”

Ketika pendeta mencapai tahap cerita ini, Baginda agak mengangkat kepala dan membuka salah satu mata.

“Apakah kau tahu bahwa di antara orang-orang ini ada yang punya pengetahuan tentang mineral atau geologi?”

“Tidak, tidak ada,” jawab si pendeta. Mendengar itu, kepala Baginda tertunduk lagi dan matanya terkatup.

“Si pendeta dan mereka yang menyertainya sangat gembira,” lanjut si pendeta, tak terganggu oleh ketakacuhan Baginda. “Mereka percaya bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang akan membikin kaya bukan hanya diri mereka sendiri, tetapi juga kemakmuran mereka.

“‘Aku tak akan perlu bekerja lagi,’ kata salah satunya dari mereka. ‘Aku tidak akan melakukan apa-apa sepanjang minggu dan pada hari Minggu aku akan berangkat ke gereja naik kereta emas.’

“Mereka ini biasanya orang yang waras pikirannya, tetapi penemuan besar mereka telah merasuki pikiran mereka sehingga kini mereka bicara seperti anak-anak saja. Namun, akal mereka masih ada dan mereka meletakkan kembali lumut itu di tempat semula untuk menyembunyikan bentangan mineral itu. Kemudian, setelah menandai dengan baik lokasi itu, mereka berjalan pulang.

“Sebelum berpisah, mereka sepakat bahwa si pendeta harus berangkat ke Falun dan menanyakan kepada ahli mineral jenis bijih apa yang mereka temukan itu. Ia harus kembali secepatnya, dan hingga saat itu mereka mengucapkan sumpah bahwa mereka tidak akan memberitahukan kepada siapa pun lokasi bijih itu.”

Baginda sedikit mengangkat kepala tetapi tidak menyela cerita. Tampaknya ia mulai percaya bahwa orang itu benar-benar punya sesuatu yang penting untuk diceritakan, walaupun ia sendiri tidak mengizinkan dirinya sendiri untuk mencampakkan sikap tak acuhnya.

“Si pendeta berangkat membawa beberapa contoh bijih dalam sakunya. Ia sangat gembira karena membayangkan akan menjadi kaya raya sebagaimana yang lain juga akan demikian. Ia membayangkan bagaimana ia akan memperbaiki kediaman pastor yang sekarang tidak lebih dari sebuah pondok; dan bagaimana ia bisa menikahi putri uskup, yang sudah sangat lama diinginkannya. Jika tidak, ia harus menunggu wanita itu bertahun-tahun lagi, karena ia miskin papa dan tidak terkenal, dan ia tahu masih akan lama lagi sebelum ia ditugaskan ke sebuah tempat yang akan memungkinkannya untuk menikahi gadis pilihannya.

“Perjalanan si pendeta ke Falun membutuhkan waktu dua hari. Di sana, ia harus menunggu sehari lagi sebelum si ahli mineral pulang. Ketika ia akhirnya menunjukkan contoh bijih itu, si ahli mineral mengambilnya, memandanginya, dan kemudian memandang si pendeta. Si pendeta mengisahkan cerita bagaimana ia menemukan contoh-contoh itu di lingkungan dekat rumahnya, dan menanyakan apakah bijih itu timah.

“Bukan, ini bukan timah.’

“‘Kalau begitu, timah sari?’ kata si pendeta terpatah-patah.

“‘Bukan, ini juga bukan timah sari.’

“Seluruh harapan tenggelam di dada si pendeta. Belum pernah ia merasa begitu hancur.

“‘Apakah ada banyak batu seperti ini di desamu?’ tanya si ahli mineral.

“‘Ada segunung penuh,’ jawab si pendeta.

“Kemudian, si ahli mineral melangkah mendekati si pendeta dan menepuk bahunya dan berkata, ‘Mudah-mudahan kau menggunakannya dengan baik sehingga membawa kebaikan bagimu dan bagi Kerajaan kita, karena kau telah menemukan perak.’”

“‘Benarkah?’ kata si pendeta agak terpana; ‘jadi ini perak?’

“Si ahli mineral menjelaskan kepadanya bagaimana cara memperoleh hak hukum atas tambang itu, dan juga memberinya banyak saran. Namun, si pendeta berdiri kebingungan dan tak mendengar sepatah kata pun. Ia hanya memikirkan kabar baik bahwa di rumahnya, di desa yang miskin itu, terletak segunung bijih perak yang menantinya.”

Baginda mengangkat kepala begitu tiba-tiba hingga si pendeta menghentikan ceritanya. “Kuduga ketika si pendeta pulang dan mulai mengerjakan tambang itu, ternyata si ahli mineral salah memberikan informasi.”

“Tidak,” kata si pendeta, “memang benar yang dikatakan ahli mineral itu.”

“Lanjutkan,” dan Baginda duduk lagi untuk menyimak.

“Ketika si pendeta tiba di rumah, hal pertama yang dilakukannya adalah mulai menceritakan kepada teman-temannya tentang nilai temuan mereka. Ketika ia menuju ke rumah tuan tanah Stensson, tempat ia bermaksud berkunjung dan memberi tahu temannya bahwa mereka telah menemukan perak, ia berhenti di gerbang, karena ia melihat kain putih digantungkan di depan jendela dan jalur lebar yang diapit dahan cemara memanjang hingga pintu masuk.”

“‘Siapa yang meninggal di sini?’ tanya si pendeta kepada seorang bocah yang berdiri bersandar di pagar.

“‘Tuan tanah.’ Kemudian, si bocah menceritakan kepada si pendeta bahwa selama seminggu terakhir, si tuan tanah minum begitu banyak minuman keras, hingga akhirnya mabuk sepanjang waktu.

“‘Kenapa bisa begitu?’ tanya sang pastor. ‘Tuan tanah tidak pernah minum berlebihan.’

“‘Begini,’ kata si bocah, ‘ia minum karena ia kerasukan gagasan aneh bahwa ia telah menemukan sebuah tambang. Katanya, ia sangat kaya hingga ia tidak perlu melakukan apa pun selain mabuk. Semalam ia keluar, mabuk seperti biasa, dan jatuh dari kereta dan mati.’

“Setelah si pendeta mendengar cerita itu, ia melangkah pulang, berduka mendengar cerita itu. Padahal, beberapa saat sebelumnya ia begitu gembira dengan kabar baik yang akan diberitahukannya kepada teman-temannya.

“Ketika si pendeta telah cukup jauh, ia bertemu dengan Isræls Pers Persson yang menyusuri jalan. Isræls tampak seperti biasa dan si pendeta gembira karena nasib baik mereka tidak membuat orang itu gila. Ia ingin segera membikin orang itu gembira dengan kabar baik bahwa orang itu sekarang adalah orang kaya.

“‘Selamat siang!’ kata si pendeta.

“‘Anda baru datang dari Falun?’

“‘Ya, dan ternyata situasinya lebih baik daripada yang kita kira. Ahli mineral mengatakan bahwa bijih itu bijih perak.’

“Pers Persson tampak seolah-olah bumi terbelah untuk menelannya. ‘Apa katamu? Perak?’

“‘Ya, sekarang kita akan kaya raya dan hidup seperti raja.’

“‘Oh, perak?’ ulang Pers Persson, dengan masih sangat kesal.

“‘Memang perak,’ kata si pendeta. ‘Jangan kira aku akan menipumu. Kau tidak perlu takut untuk merasa senang.’

“‘Senang!’ kata Pers Persson, ‘apakah aku harus senang? Kukira itu hanya emas palsu, jadi sebaiknya kupastikan apa yang tidak pasti itu. Kujual bagianku dalam tambang itu kepada Olaf Svard dengan harga seratus dolar.’

“Ia tampak sangat kecewa, dan si pendeta meninggalkannya berdiri di sana sambil bercucuran air mata.

“Ketika si pendeta tiba di rumah, ia mengirim seorang pelayan kepada Olaf Svard dan saudaranya untuk meminta mereka datang ke rumahnya sehingga bisa memberi tahu mereka tentang penemuan mereka. Ia merasa bahwa ia telah cukup lelah menyebarkan kabar baik itu sendiri.

“Tetapi petang itu, ketika si pendeta duduk sendirian, hatinya kembali bahagia. Ia keluar dan berdiri di bukit kecil tempat ia memutuskan untuk membangun rumah pendeta yang baru. Tentu, rumah ini harus sangat megah, semegah rumah uskup. Lagi pula, ia tidak puas dengan gagasan untuk memperbaiki gereja yang tua. Terpikir olehnya bahwa, karena dusun itu begitu makmur, banyak orang yang akan menemukan jalan untuk ke sana, hingga akhirnya sebuah kota besar mungkin akan dibangun di sekitar tambang. Ia berpikir bahwa kemudian perlu dibangun sebuah gereja baru untuk menggantikan yang lama, yang akan menyerap sebagian besar dari kekayaannya. Ia tidak bisa menghentikan hal ini dalam mimpinya sekalipun, karena ia berpikir bahwa ketika tiba saatnya untuk mempersembahkan gereja baru yang megah ini, Raja dan banyak uskup akan datang. Raja akan gembira dengan gereja semacam itu, tetapi akan menganggap tidak cukup tersedia akomodasi di kota itu. Maka, perlu dibangun sebuah kastil di dalam kota.”

Di titik ini, para pengawal Baginda membuka pintu ruangan dan mengumumkan bahwa kereta Paduka telah selesai diperbaiki.

Awalnya, Baginda berpikir bahwa ia akan segera berangkat, tetapi, setelah menimbang-nimbang, ia berkata kepada si pendeta, “Kau boleh melanjutkan ceritamu sampai selesai, tapi bikin lebih singkat. Kita tahu bagaimana orang itu bermimpi dan berpikir; sekarang kita ingin tahu apa yang dilakukannya.”

“Sementara si pendeta duduk sambil terhanyut dalam mimpinya,” lanjut si pendeta, “ia mendengar kabar bahwa Isræls Pers Perrson telah bunuh diri. Ia tidak dapat menanggung beban kebodohannya karena telah menjual jatah tambangnya. Ia merasa tidak akan mampu hidup lagi dan setiap hari melihat orang lain menikmati kemakmuran yang seharusnya bisa menjadi miliknya.”

Baginda bergerak sedikit di kursi. Sekarang kedua matanya terbuka lebar. “Menurutku,” katanya, “kalau aku menjadi pendeta itu, cukup aku saja yang memiliki tambang itu.”

“Raja adalah orang yang kaya; setidaknya Paduka punya banyak harta. Tidak demikian halnya dengan si pendeta, yang tidak punya apa-apa. Orang miskin ini, ketika ia melihat berkat Tuhan turun tanpa memerlukan usaha, berpikir: ‘Aku tidak akan bermimpi lagi tentang betapa diriku akan menjadi makmur dan berguna dengan kekayaan ini. Namun, aku tidak bisa membiarkan tambang perak itu tersembunyi begitu saja di dalam tanah; aku harus menggali bijih itu demi orang miskin dan yang membutuhkan. Aku akan mengerjakan tambang perak itu untuk membantu agar seluruh masyarakat bisa berdiri tegak.’

“Pada suatu hari, si pendeta mengunjungi rumah Olaf Svard untuk berbicara dengannya dan saudaranya tentang cara terbaik untuk mengelola tambang itu. Ketika ia hampir tiba di rumah si prajurit, ia berpapasan dengan sebuah pedati yang dikelilingi para petani yang ketakutan. Di dalam kereta itu, tergeletak seorang laki-laki, kakinya terikat tali dan tangannya terbelenggu di balik punggungnya.

“Ketika si pendeta melintas, pedati berhenti, memberi si pendeta kesempatan untuk mengamati tahanan itu lebih dekat. Kepalanya miring sehingga sulit melihatnya, tetapi si pendeta mengira ia mengenali Olaf Svard. Ia mendengar tahanan itu memohon kepada para penjaga untuk mengizinkannya berbicara dengan si pendeta.

“Ketika si pendeta mendekati pedati, si tahanan menoleh ke arahnya, dan berkata, ‘Kau akan segera menjadi satu-satunya orang yang tahu di mana tambang perak itu berada.’

“‘Apa katamu, Olaf?’

“‘Begini, pastor, karena kami mendengar bahwa yang kita temukan itu adalah sebuah tambang perak, saudaraku dan aku tidak lagi menjadi teman baik seperti dulu. Kami sering bertengkar, dan tadi malam kami bertengkar tentang siapa yang pertama kali menemukan tambang itu. Kami kemudian saling memukul, dan aku membunuh saudaraku dan ia memukul keningku. Sekarang aku akan digantung dan kemudian kau akan menjadi satu-satunya orang yang mengetahui tempat tambang itu. Aku ingin meminta sesuatu darimu.’

“‘Bicaralah,’ kata si pastor. ‘Akan kulakukan semampuku.’

“‘Kau tahu aku akan meninggalkan beberapa orang anak kecil,’ kata si prajurit.

“‘Sejauh terkait dengan itu,’ sela si pendeta, ‘kau tak perlu khawatir. Bagianmu akan kuberikan kepada mereka.’

“‘Tidak,’ kata Olaf, ‘ada hal lain yang ingin kuminta darimu. Jangan biarkan mereka memiliki sedikit pun jatahku di tambang itu.’

“Si pendeta tersentak, kemudian tetap tidak bergerak, tak mampu menjawab.

“‘Kalau kau tak bisa menjanjikan ini, aku tak akan mati dengan damai.’

“Si pendeta akhirnya berjanji dengan enggan, dan pedati itu melanjutkan perjalanan, membawa si pembunuh menemui nasib.

“Si pendeta berdiri di jalan itu, menimbang-nimbang apakah ia akan menjaga janji yang baru saja diucapkannya. Sepanjang jalan pulang, ia memikirkan kembali kekayaan yang diharapkannya akan membawa begitu banyak kebahagiaan.

“‘Kalau memang ini adalah bukti,’ renungnya, ‘bahwa orang-orang di paroki ini tidak mampu menanggung kemakmuran, karena sudah ada empat orang kuat dan berpikiran praktis yang mati, apakah tidak sebaiknya kubatalkan gagasan untuk mengerjakan tambang itu?’ Ia membayangkan seluruh parokinya akan hancur karena perak itu. Apakah benar jika ia, yang ditempatkan sebagai penjaga jiwa orang-orang miskin ini, membimbing tangan mereka untuk menggenggam sesuatu yang mungkin akan mencelakakan mereka?”

Baginda duduk tegak di kursi dan melotot kepada si pendeta. “Bisa kubilang kau ingin aku mengerti bahwa pastor masyarakat terpencil ini adalah orang yang benar-benar nyata.”

“Tetapi saya belum ceritakan semua,” lanjut si pendeta, “karena segera setelah berita tentang tambang itu menyebar di paroki, para pekerja berhenti bekerja dan berkeliaran begitu saja, menunggu saat kekayaan itu ditaburkan kepada mereka. Semua penganggur itu bergentayangan ke dalam dusun ini. Mabuk, pertengkaran, dan perkelahian menjadi masalah abadi yang harus dipecahkan si pendeta. Banyak orang yang tidak melakukan apa-apa selain mencari-cari tambang itu di padang dan hutan. Si pendeta juga memperhatikan, bahwa segera setelah ia meninggalkan rumah, orang-orang memata-matainya untuk melihat apakah ia mendatangi tambang perak itu, sehingga mereka dapat mencuri rahasia tentang lokasi itu darinya.

“Ketika situasi kian buruk, si pendeta mengumpulkan para petani. Ia mengingatkan mereka tentang banyaknya tragedi yang diakibatkan oleh penemuan tambang perak itu yang telah menimpa masyarakat dan bertanya apakah mereka mengizinkan diri mereka binasa atau apakah mereka ingin menyelamatkan diri. Dan kemudian ia bertanya apakah mereka ingin agar ia, pastor mereka, berperan dalam kehancuran itu. Ia sendiri telah memutuskan bahwa ia tidak akan mengungkapkan kepada siapa pun lokasi tambang itu maupun mengambil keuntungan dari sana.

“Kemudian, ia bertanya kepada para petani bagaimana mereka akan memilih masa depan. Kalau mereka ingin terus mencari tambang itu dan menunggu kekayaan, ia ingin pergi sejauh-jauhnya dari mereka sehingga tak akan pernah mendengar berita tentang penderitaan mereka. Di sisi lain, kalau mereka akan menghilangkan pikiran tentang tambang perak itu, ia akan tetap tinggal bersama mereka. ‘Tetapi apa pun pilihan kalian,’ ulang si pendeta, ‘ingatlah bahwa tidak ada yang akan pernah mendengar dariku informasi apa pun tentang lokasi tambang perak itu.’”

“Jadi,” kata Baginda, “apa yang diputuskan oleh para petani itu?”

“Mereka memutuskan seperti yang diinginkan oleh si pendeta. Mereka memahami bahwa ia berniat baik kepada mereka ketika ia tetap bersedia miskin demi mereka. Mereka mendorongnya untuk pergi ke hutan dan menyembunyikan tambang itu dengan cermat sehingga tidak ada yang akan menemukannya.”

“Sejak saat itu, si pendeta tetap miskin seperti yang lain?”

“Ya, miskin seperti yang lain.”

“Apakah ia menikah dan membangun rumah pendeta yang baru?”

“Tidak, ia tidak punya alat untuk itu. Ia masih tinggal di tempat yang lama.”

“Cerita yang indah,” kata Baginda sambil mendongak.

Si pendeta berdiri tenang di hadapan Baginda. Beberapa menit kemudian, Baginda melanjutkan: “Apakah memang tambang perak itu yang kaumaksud ketika kau mengatakan bahwa pendeta di sini dapat memberiku uang sebanyak yang kubutuhkan?”

“Ya,” kata si pendeta.

“Tetapi aku tidak bisa memaksanya; dan bagaimana aku bisa membuat orang seperti dia menunjukkan kepadaku di mana tambang itu—seseorang yang telah mengorbankan semua yang disayanginya dan semua berkah duniawi itu?”

“Itu masalah lain,” kata si pendeta. “Kalau Tanah Air yang membutuhkan bantuan, tentu ia tak akan ragu untuk memberitahukan rahasia itu.”

“Apakah kau bisa memastikannya?”

“Ya, saya akan pastikan itu.”

“Lalu, apakah ia tidak peduli dengan apa yang akan terjadi dengan jemaatnya?”

“Semua itu tergantung kepada Tuhan.”

Baginda bangkit dari kursi dan melangkah ke jendela. Ia berdiri selama beberapa saat dan mengamati orang-orang di luar. Kian lama ia berdiri, kian berkilat-kilat matanya yang besar itu. Sosoknya seperti membesar.

“Kau boleh mengungkapkan pujianku kepada pendeta paroki ini,” kata Baginda, “dan katakan kepadanya bahwa tidak ada pemandangan yang lebih indah bagi Raja Swedia daripada melihat orang-orang seperti ini.”

Setelah itu, Baginda berpaling dari jendela dan memandang si pendeta sambil tersenyum. “Apakah benar bahwa pendeta paroki ini begitu miskin hingga ia menanggalkan jubah hitamnya segera setelah misa selesai dan kemudian mengenakan pakaian seperti para petani itu?”

“Ya, ia memang miskin seperti itu,” kata si pendeta, dan rona merah bertebaran di seluruh wajahnya yang kasar tetapi mulia.

Baginda melangkah lagi ke jendela. Suasana hatinya jelas sedang sangat gembira. Semua yang agung dan mulia dalam dirinya telah bangkit. “Ia tidak akan mengganggu tambang perak itu. Karena sepanjang hidupnya ia kelaparan dan bekerja untuk menyempurnakan orang-orang seperti ini, ia akan diizinkan untuk tetap menjaga mereka seperti ini.”

“Tetapi jika kerajaan dalam bahaya——”

“Kerajaan ini lebih baik dilayani oleh manusia daripada uang.” Ketika mengucapkan kata-kata ini, Baginda menjabat tangan si pendeta dan melangkah keluar dari ruangan.

Di luar, orang-orang masih berdiri, tenang seperti saat Baginda masuk ke ruangan tadi. Tetapi ketika Baginda menuruni tangga, salah satu dari mereka mendekat.

“Sudahkah Paduka berbicara dengan pendeta kami?”

“Ya, aku sudah berbicara dengannya.”

“Jadi Paduka telah menerima jawaban dari kami,” kata petani itu.

“Ya, aku telah menerima jawaban kalian.”***

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *