Menu

Serigala Betina

Oleh HH Monro (Saki)

Sumber: Ebooks.adelaide.edu.au

Leonard Bilsiter merupakan jenis orang yang tidak bisa menganggap dunia ini memikat atau menarik, yang kemudian mencari kompensasi dalam sebuah “dunia tak kasat mata” dari pengalamannya sendiri atau imajinasi — atau invensi. Anak-anak berhasil melakukan semacam itu, tetapi anak-anak puas dengan sekadar meyakinkan diri sendiri, dan tidak membikin vulgar keyakinan mereka dengan mencoba meyakinkan orang lain. Keyakinan Leonard Bilsiter ditujukan untuk “sedikit orang”, artinya, siapa saja yang bersedia mendengarkannya.

Keisengannya dalam hal yang tak kasat mata mungkin tidak akan membawanya melampaui kata-kata hampa seorang visioner di ruang keluarga kalau kecelakaan tidak membikin cerita-cerita mistisnya lebih kokoh. Ditemani seorang kawan, yang berminat dengan masalah penambangan Ural, ia melakukan perjalanan melintasi Eropa Timur pada saat pemogokan kereta api Rusia yang agung sedang berkembang dari ancaman menjadi kenyataan; pemogokan itu menyebabkan ia terjebak dalam perjalanan pulang, di suatu tempat di sisi Perm yang jauh, dan saat menunggu beberapa hari di sebuah stasiun tepi jalan di sebuah negara bagian yang menunda lokomotif, ia berkenalan dengan seorang penjual kekang dan peralatan logam, yang mengisi waktu menunggu yang panjang itu dengan menceritakan kepada teman seperjalanannya sebuah fragmen dari jalinan cerita rakyat yang didengarnya dari para pedagang dan penduduk pribumi Trans-Baikal. Leonard kembali ke lingkaran rumahnya dan banyak bercerita tentang pengalaman mogok di Rusia, tetapi sangat segan bercerita tentang misteri-misteri gelap tertentu, yang diberinya judul termasyhur sebagai Ilmu Gaib Siberia. Rasa segan itu memudar setelah satu atau dua minggu lantaran kurangnya rasa penasaran secara umum, dan Leonard mulai memberikan kiasan lebih terperinci tentang kekuatan sangat besar dari daya esoteris baru ini, menurut sebutannya sendiri untuk daya itu, yang diberikan kepada sedikit orang yang tahu cara menempanya. Bibinya, Cecilia Hoops, yang mungkin lebih menyukai sensasi ketimbang kebenaran, memberinya iklan yang riuh dengan mengedarkan cerita bagaimana Leonard mengubah ranting sayuran menjadi merpati kayu di depan mata sang bibi. Di beberapa tempat, cerita tentang daya supernatural itu diabaikan mengingat daya imajinasi Nyonya Hoops.

Betapapun terbelahnya opini tentang status Leonard sebagai pembuat keajaiban atau duku, ia jelas tiba di pesta Mary Hampton dengan reputasi tenar di dalam salah satu dari kedua profesi itu, dan ia tidak bisa mengelak dari ketenaran yang menimpanya itu. Daya esoteris dan daya luar biasa mengisi percakapan apa pun yang melibatkan Leonard maupun bibinya, dan penampilannya sendiri, baik yang telah maupun kemungkinan akan terjadi, menjadi pokok dalam berbagai isyarat misterius dan pengakuan yang kejam.

“Seandainya saja Anda bisa mengubah saya menjadi seekor serigala, Tuan Bilsiter,” kata tuan rumah dalam makan siang pada hari setelah ia tiba.

“Mary-ku sayang,” kata Kolonel Hampton, “Aku tak tahu kalau kau sangat punya kecenderungan ke arah itu.”

“Serigala betina, tentu saja,” lanjut Nyonya Hampton; “akan terlalu membingungkan kalau mengubah jenis kelamin sekaligus spesies dalam sekejap.”

“Saya kira kita tidak boleh berolok-olok dalam pokok semacam ini,” kata Leonard.

“Saya tidak sedang berolok-olok, saya cukup serius, sungguh. Tapi jangan lakukan hari ini; kita hanya ada delapan pemain bridge yang siap, dan itu bisa merusak salah satu kelompok. Besok akan ada pesta yang lebih besar. Besok malam, setelah makan malam—”

“Dalam pemahaman kita yang tidak sempurna tentang daya tersembunyi ini, saya kira kita harus mendekatinya dengan kerendahan hati ketimbang sikap mengejek,” kata Leonard, dengan nada ketus yang membuat pokok itu tak dibahas lagi.

Clovis Sangrail anehnya duduk diam selama pembahasan tentang berbagai kemungkinan Sihir Siberia itu; setelah makan siang, ia menyeret Lord Pabham untuk menyendiri di ruang bilyar dan mengajukan sebuah pertanyaan yang menyelidik.

“Anda punya seragala betina semacam itu di dalam koleksi hewan liar Anda? Seekor serigala betina yang cukup jinak?”

Lord Pabham menimbang-nimbang. “Ada Loiusa,” katanya, “spesimen serigala hutan yang wataknya cukup baik. Saya menangkapnya dua tahun lalu ditukar dengan dengan beberapa ekor rumah Arktik. Kebanyakan hewan saya cukup jinak sebelum bersama saya; saya kira bisa dibilang Louisa berwatak seperti malaikat, untuk ukuran serigala betina. Kenapa Anda bertanya?”

“Saya ingin tahu apakah Anda bisa meminjamkannya kepada saya besok malam,” dengan nada tak acuh seseorang yang meminjam kancing kalung hewan atau raket tenis.

“Besok malam?”

“Ya, serigala ada hewan yang hidup pada malam hari, jadi larut malam tidak akan berbahaya untuknya,” kata Clovis, dengan roman muka seseorang yang telah mempertimbangkan segala sesuatunya; “salah satu anakn buah Anda bisa membawanya dari Pabham Park setelah petang, dan dengan sedikit bantuan ia bisa diselundupkan ke dalam ruang musik pada saat Mary Hampton keluar tanpa keributan.”

Lord Pabham melotot kepada Clovis selama sesaat dengan bingung; kemudian wajahnya berubah menjadi jaringan kerut-merut yang dibentuk oleh tawa.

“Oh, jadi begitu permainan Anda, ya? Anda akan melakukan Sihir Siberia sendiri. Dan apakah Nyonya Hampton bersedia menjadi sekutu sekongkol?”

“Mary berjanji akan mendukung saya sampai selesai, kalau Anda bisa menjamin watak Louisa.”

“Aku akan menjamin Louisa,” kata Lord Pabham.

Pada keesokan harinya, pesta rumah itu berkembang menjadi lebih ramai, dan naluri Bilsiter untuk mengiklankan diri juga turut berkembang lantaran rangsangan audiens yang semakin meningkat. Dalam makan malam pada petang itu, ia memaparkan panjang lebar tentang daya tak kasat mata dan daya yang belum teruji, dan kefasihannya yang mangalir lancar itu tak mereda hingga kopi disajikan di ruang duduk sebagai persiapan untuk perpindahan besar-besaran ke ruang bermain kartu.

Bibinya menyimak tuturannya, tetapi jiwa sang bibi yang menyukai sensasi berminat pada sesuatu yang lebih dramatis ketimbang sekadar demonstrasi vokal.

“Apakah kau tak mau melakukan sesuatu untuk meyakinkan mereka tentang kekuatanmu, Leonard?” pinta sang bibi; “ubahlah sesuatu menjadi bentuk lain. Kalian tahu, ia memang bisa, hanya kalau ia ingin saja,” ia memberi tahu teman-temannya.

“Oh, lakukanlah,” kata Mavis Pellington dengan sungguh-sunguh, dan permintaannya digemakan oleh hampir semua orang yang hadir. Bahkan mereka yang tidak begitu percaya pun ngin sekali dihibur dengan pertunjukan sulap amatir itu.

Leonard merasa bahwa mereka menunggu sesuatu yang kasat mata darinya.

“Apakah para hadirin,” ia bertanya, “punya koin tiga peni atau benda kecil yang tidak bernilai mahal—?”

“Anda tentu tak akan menghilangkan koin, atau sesuatu yang primitif semacam itu, kan?” tanya Clovis dengan nada menghina.

“Saya rasa Anda sangat tidak berbaik hati kepada usulan saya untuk mengubah saya menjadi seekor serigala,” kata Mary Hampton, sembari melintasi ruang musik untuk memberi makan kakatua dengan sisa-sisa makanan dari piring.

“Saya sudah memperingatkan Anda bahayanya memperolok kekuatan ini,” kata Leonard dengan khidmat.

“Saya tidak yakin Anda bisa melakukannya,” kata Mary sambil tertawa dengan nada provokatif dari dalam ruang musik; “Saya menantang Anda jika memang bisa. Saya menantang Anda untuk mengubah saya menjadi serigala.”

Sambil berkata demikian, Mary menghilang di balik serumpun azalea.

“Nyonya Hampton —” Leonard memulai dengan nada lebih khidmat, tetapi kemudian terhenti.
Seembus angin dingin seperti bertiup ke dalam ruangan, dan pada saat sama kakatua menjerit dengan suara yang membikin pekak telinga.

“Ada apa dengan burung memalukan itu, Mary?” seru Kolonel Hampton; pada saat yang sama, jeritan Mavis Pellington yang lebih melengking membikin hadirin melompat dari kursi. Dengan berbagai sikap ngeri tanpa daya atau bertahan secara naluriah, mereka menghadapi seekor hewan buas kelabu yang tampak begis yang memandang mereka dari balik rumpun pakis dan azalea.

Nyonya Hoops adalah yang pertama pulih dari rasa takut dan bingung.

“Leonard!” ia membentak keponakannya, “ubah kembali dia menjadi Nyonya Hampton sekarang juga! Dia bisa menerkam kita kapan saja. Kembalikan!”

“Aku— Aku tidak tahu caranya,” terbata-bata menjawab Leonard, yang tampak ketakutan dan terkejut lebih dari siapa pun.

“Apa!” seru Kolonel Hampton, “kau telah diberi kebebasan terkutuk untuk mengubah istriku menjadi serigala, dan sekarang kau hanya berdiri diam dan bilang kau tak bisa mengubahnya lagi!”

Agar adil bagi Leonard, ketenangan bukanlah sikapnya yang menyolok pada saat itu.

“Sungguh, saya tidak mengubah Nyonya Hampton menjadi serigala; saya sama sekali tidak bermaksud begitu,” protesnya.

“Kalau begitu di mana dia, dan bagaimana hewan itu bisa masuk ke dalam sini?” desak Sang Kolonel.

“Tentu kita harus memperoleh jaminan Anda bahwa Anda mengubah Nyonya Hampton menjadi serigala,” kata Clovis, “tetapi Anda harus setuju bahwa sepertinya memang Andalah yang bersalah.”

“Apa kita hanya akan saling tuduh seperti ini sementara hewan buas itu berdiri di sana, siap untuk menerkam kita?” Mavis meratap dengan marah.

“Lord Pabham, Anda tahu banyak tentang hewan buas liar —” tukas Kolonel Hampton.

“Hewan buas yang biasa berhubungan saya,” kata Lord Pabham, :berasal dari penjual terkenal dengan sertifikat yang patut, atau diternakkan di kandang saya sendiri. Sebelumnya saya belum pernah berhadap dengan seekor hewan yang berjalan keluar dari rimbunan azalea, yang kemudian dianggap sebagai tuan rumah yang memikat dan populer. Sejauh dilihat dari ciri luar,” ia melanjutkan, “hewan ini punya perawakan serigala hutan betina yang berkembang di Amerika Utara, varietas dari spesies umum canis lupus.”

“Oh, lupakan nama latinnya,” seru Mavis, ketika hewan itu mendekat beberapa langkah di dalam ruangan; “bisakah Anda memikatnya dengan makanan, dan mengurungnya di suatu tempat sehingga tidak membahayakan?”

“Kalau memang ini Nyonya Hampton, yang baru saja menyantap makan malam yang lezat, saya kira makanan tidak akan cukup menggodanya,” kata Clovis.

“Leonard,” pinta Nyonya Hoops bercucuran air mata, “walaupun bukan kau yang melakukannya, bisakah kau menggunakan kekuatan hebatmu untukmengubah hewan mengerikan ini menjadi sesuatu yang tidak berbahaya sebelum dia menggigit kita semua — seekor kelinci atau lainnya?”

“Saya kira Kolonel Hampton tidak ingin istrinya diubah berganti-ganti menjadi hewan-hewan aneh seakan-akan kita sedang mempermainkannya,” sela Clovis.

“Kularang keras,” bentak Sang Kolonel.

“Sebagian besar serigala yang pernah saya lihat sangat suka dengan gula,” kata Lord Pabham; “jika Anda mau, saya akan mencobanya pada yang satu ini.”

Ia mengambil sebongkah gula dari tatakan cangkir kopinya dan melemparkannya kepada Louisa yang sudah menunggu, yang segera menyambar gula itu di udara. Hadirin mendesah lega; seekor serigala yang memakan gula padahal bisa saja mencabik-cabik kakatua tidak lagi tampak mengerikan.
Desahan menjadi ucapan terima kasih ketika Lord Pabham memancing hewan itu keluar dari ruangan dengan gula lebih besar yang dilemparkan lebih jauh. Hadirin cepat-cepat keluar dari ruang musik. Tidak ada jejak Nyonya Hampton kecuali piring berisi makanan si kakatua.

“Pintu terkunci dari dalam!” seru Clovis, yang dengan tangkas telah memutar anak kunci saat berpura-pura memeriksa.

Semua orang memandang Bilsiter.

“Kalau kau tidak mengubah istriku menjadi serigala,” kata Kolonel Hampton, “maukah kau menjelaskan ke mana dia menghilang karena jelas tidak bisa keluar melalui pintu yang terkunci? Aku tidak akan memaksamu untuk menjelaskan bagaimana seekor serigala hutan Amerika Utara tiba-tiba muncul di ruang musik, tetapi kurasa aku berhak menyelidiki apa yang telah terjadi dengan Nyonya Hampton.”

Penolakan ulang Bilsiter ditanggapi dengan gumaman tidak percaya.

“Aku menolak tinggal lebih lama di rumah ini,” kata Mavis Pellington.

“Kalau tuan rumah kita memang telah kehilangan bentuk manusia,” kata Nyonya Hoops, “tak satu pun dari wanita di sini yang akan tinggal. Aku menolak tegas dijaga oleh seekor serigala!”

“Itu serigala betina,” kata Clovis dengan nada membujuk.

Etiket yang benar dalam situasi biasa itu tidak perlu diuraikan lagi. Masuknya Mary Hampton secara tiba-tiba membuat pembahasan itu tidak menarik lagi.

“Ada yang menghipnotisku,” ia berseru dengan ketus; “aku tiba-tiba berada di tempat penyimpanan makanan untuk hewan ternak, dberi makan oleh Lord Pabham. Aku tidak suka dihipnotis, dan dokter melarangku menyentuh gula.”

Masalah itu pun diterangkan kepadanya, kalau memang bisa disebut keterangan.

“Jadi Anda benar-benar mengubah saya menjadi seekor serigala, Tuan Bilsiter?” ia berseru gembira.

Tetapi Leonard telah membakar kapal yang seharusnya bisa membuat ia berjaya di lautan saat ini. Ia hanya bisa menggeleng lemah.

“Sayalah yang melakukannya,” kata Clovis; “begini, saya kebetulan tinggal selama beberapa tahun di Rusia Timur Laut, dan saya punya pengalaman lebih dari sekadar turis dengan ilmuhitam di kawasan itu. Orang memang tidak peduli dengan kekuatan aneh ini, tetapi entah bagaimana, ketika kita mendengar banyak omong kosong tentangnya, kita tergoda untuk memperlihatkan apa yang bisa dilakukan dengan sihir Siberia oleh orang yang benar-benar memahaminya. Saya menyerah kepada godaan itu. Boleh saya minum brendi? Usaha tadi membuat saya agak lemas.”

Kalau Leonard Bilsiter pada saat itu bisa mengubah Clovis menjadi seekor kecoak dan kemudian menginjak kecoak itu, ia akan dengan senang hati melakukan keduanya.***

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *