Menu

Akhir Pesta

Oleh Graham Greene

Sumber: Classicshorts.com

Peter Morton tergeragap bangun saat cahaya pertama hari itu terpancar. Hujan mengetuk-ngetuk kaca. Tanggal lima Januari.

Ia memandang seberang meja, tempat sebatang lilin malam telah menjadi genangan air, ke arah tempat tidur lain. Francis Morton masih terlelap, dan Peter berbaring lagi sambil memandangi saudaranya. Ia geli sendiri membayangkan dirinya sendirilah yang sedang dipandanginya, rambut yang sama, mata yang sama, bibir yang sama, dan garis pipi yang sama. Tetapi pikiran itu memudar, dan pikirannya kembali ke kenyataan yang membikin hari itu penting. Hari itu adalah tanggal lima Januari. Ia hampir tidak percaya bahwa setahun telah berlalu sejak Nyonya Henne-Falcon menyelenggarakan pesta terakhir untuk anak-anaknya.

Francis tiba-tiba berbaring dan memalangkan lengan di depan mulut. Jantung Peter mulai berdegup kencang, bukan karena gembira melainkan karena cemas. Ia duduk dan berseru ke seberang meja, “Bangun!”

Bahu Francis berguncang dan ia melambaikan tinju di udara, tetapi matanya tetap terkatup. Bagi Peter Morton, seisi ruangan itu tampak seperti menggelap, dan ia membayangkan ada seekor burung besar yang sedang menukik. Ia berseru lagi, “Bangun”, dan sekali lagi ada cahaya keperakan dan sentuhan hujan di jendela.

Francis menggosok-gosok mata. “Kau tadi berteriak?” ia bertanya.

“Kau mimpi buruk,” kata Peter. Pengalaman telah mengajarkannya seberapa jauh pikiran mereka saling mencerminkan masing-masing. Tetapi ia lebih tua, hanya berselang beberapa menit, dan jeda cahaya berlebih itu, sementara saudaranya masih berjuang dalam rasa sakit dan kegelapan, telah memberinya kepercayaan diri dan naluri melindungi saudaranya yang takut pada begitu banyak hal.

“Aku bermimpi aku mati,” kata Francis.

“Seperti apa rasanya?”‘ tanya Peter.

“Aku tak ingat,” kata Francis.

“Kau bermimpi tentang seekor burung besar.”

“Benarkah?”

Kedua anak itu berbaring tenang di tempat tidur masing-masing dan saling berhadapan, dengan mata hijau yang sama, hidung mancung yang sama, bibir kokoh yang sama, dan model dagu prematur yang sama. Lima Januari, pikir Peter lagi, pikirannya melayang dari gambar kue-kue ke hadiah yang mungkin bisa dimenangkan. Lomba balap telur-dan-sendok, menombak apel dalam baskom air, tutup mata orang buta.

“Aku tak ingin berangkat,” kata Francis tiba-tiba. “Kurasa Joyce akan datang, juga Mabel Warren.” Sungguh ia membenci pikiran bahwa ia harus berbagi pesta dengan kedua anak itu. Mereka lebih tua darinya. Joyce berusia sebelas tahun dan Mabel Warren tiga belas. Rambut kuncir kudanya berayun congkak saat melangkah seperti laki-laki. Dari balik kelopak mata yang tertunduk penuh hinaan, mereka membuatnya terhina sembari memperhatikannya gagal menangkap telur. Dan tahun kemarin ia memalingkan mukanya dari Peter dengan pipi kemerahan.

“Kenapa?” tanya Peter.

“Oh, tidak ada apa-apa. Kurasa aku tidak enak badan. “Aku pilek. Aku tidak boleh ke pesta itu.”

Peter bingung. “Tapi, Francis, apakah pileknya parah?”

“Pileknya parah kalau aku berangkat ke pesta itu. Mungkin aku akan mati.”

“Kalau begitu kau tidak boleh pergi,” kata Peter, siap untuk memecahkan semua kesulitan dengan satu kalimat yang jelas, dan Francis pun menjadi lebih santai, siap untuk menyerahkan semuanya kepada Peter. Tetapi walaupun ia bersyukur, ia tidak memandang wajah saudaranya lagi. Pipinya masih menanggung tanda ingatan memalukan itu, dari permainan petak umpat tahun kemarin di rumah yang gelap, dan bagaimana ia menjerit ketika Mabel Warren tiba-tiba menyentuh lengannya. Ia tidak mendengar gadis itu mendekat. Cewek memang seperti itu. Sepatu mereka tidak pernah mendecit. Lantai papan kayu tidak berderak di bawah tapak kaki mereka. Mereka mengendap-endap seperti kucing dengan cakar tumpul.

Ketika pengasuh masuk membawa air panas, Francis terbaring tenang dan menyerahkan semuanya kepada Peter. Kata Peter, “Pengasuh, Francis pilek.”

Perempuan tinggi berpakaian putih itu meletakkan handuk di baskom dan berkata, tanpa berpaling, “Cucian tidak akan selesai sampai besok. Kau harus meminjaminya beberapa sapu tanganmu.”

“Tapi, Pengasuh,” kata Peter, “apakah tidak sebaiknya dia tetap di tempat tidur?”

“Kita akan mengajak dia jalan-jalan pagi ini,” kata Pengasuh. “Angin akan mengusir kuman. Sekarang kalian berdua bangunlah,” dan Pengasuh menutup pintu.

“Maafkan aku,” kata Peter. “Kenapa kau tidak di tempat tidur saja? Akan kubilang kepada Ibu kalau kau terlalu tidak enak badan untuk bangun.” Tetapi pemberontakan melawan takdir bukanlah kekuatan Francis. Kalau ia tetap di tempat tidur, mereka akan datang dan mengetuk-ngetuk dadanya dan memasukkan termometer ke dalam mulutnya dan memeriksa lidahnya, dan mereka akan mengetahui bahwa ia hanya pura-pura sakit. Memang benar bahwa ia merasa sakit, yaitu berupa sensasi kosong dan mual di perutnya dan jantung yang berdegup kencang, tetapi ia tahu penyebabnya hanya rasa takut, rasa takut pada pesta itu, rasa takut akan disuruh bersembunyi sendirian dalam gelap, tak ditemani Peter dan tanpa lilin malam agar bisa menerobos.

“Tidak, aku akan bangun,” katanya, dan tiba-tiba dengan rasa putus asa yang tiba-tiba, “Tetapi aku tak akan berangkat ke pesta Nyonya Henne-Falcon. Sumpah demi Injil, aku tak akan berangkat.” Sekarang pasti semuanya akan baik-baik saja, pikirnya. Tuhan tidak akan mengizinkannya mengucapkan sumpah yang begitu keramat. Ia akan menunjukkan jalan. Ia masih punya waktu sepanjang pagi itu dan sepanjang sore hingga pukul empat tepat. Tidak perlu cemas kalau rumput masih tajam oleh butir-butir salju. Apa pun bisa terjadi. Ia bisa saja menyayat diri sendiri atau mematahkan kaki atau benar-benar terkena pilek parah. Entah bagaimana, tetapi pasti Tuhan akan mengaturnya.

Ia benar-benar percaya kepada Tuhan sehingga ketika sarapan ibunya berkata, “Kudengar kau pilek, Francis” bebannya menjadi ringan. “Kita akan lihat lagi nanti,” sindir ibunya, “kalau tidak ada pesta malam ini,” dan Francis tersenyum, terpukau dan takut dengan sikap tak acuh ibunya.

Kebahagiaannya akan berlangsung lebih lama kalau, saat keluar untuk berjalan-jalan pagi itu, ia tidak bertemu dengan Joyce. Ia hanya ditemani pengasuhnya karena Peter minta izin untuk merampungkan perangkap kelinci di gudang kayu. Kalau Peter ada di sana, ia tidak akan begitu peduli; pengasuh Peter juga pengasuhnya, tetapi sekarang seolah-olah pengasuh itu hanya bertugas menjaganya karena ia tidak bisa dipercaya untuk berjalan-jalan sendirian. Joyce hanya dua tahun lebih tua dan sendirian.

Gadis itu melangkah mendekati mereka dengan kuncir berayun-ayun. Ia memandang tajam pada Francis dan berbicara dengan berlagak kepada pengasuh. “Halo, Pengasuh. Apakah kau mengantarkan Francis ke pesta malam ini? Mabel dan aku akan datang.” Dan kemudian gadis itu berlalu di jalan menuju rumah Mabel Warren, sangat sadar bahwa ia hanya sendiri di jalan panjang yang kosong itu.

“Gadis yang manis,” kata pengasuh. Tetapi Francis membisu, merasakan lagi degup-degup jantungnya, menyadari betapa cepatnya saat pesta itu tiba. Tuhan tidak melakukan apa pun untuknya, dan menit-menit pun beterbangan.

Terlalu cepat untuk merancang rencana untuk menyingkir, atau bahkan untuk menyiapkan hatinya menghadapi cobaan berat yang akan datang. Panik hampir saja menguasainya ketika, tanpa persiapan, ia menemukan diri sedang berdiri di tangga depan pintu, dengan kerah jaket dinaikkan untuk melawan angin dingin, dan senter listrik pengasuh menyorot, menciptakan jalur pendek menembus kegelapan. Di belakangnya, ada cahaya dari aula dan suara seorang pelayan yang sedang menata meja makan malam, yang akan disantap hanya oleh ayah dan ibunya. Ia hampir saja dikuasai oleh keinginan untuk berlari kembali ke dalam rumah dan berseru kepada ibunya bahwa ia tidak akan berangkat ke pesta itu, bahwa ia tidak berani pergi. Mereka tidak bisa memaksanya berangkat. Ia hampir bisa mendengar dirinya sendiri mengucapkan kata-kata terakhir itu, menerobos untuk selamanya semua perbatasan sikap lugu menyelamatkan pikirannya dari pengetahuan orangtuanya. “Aku takut berangkat. Aku tak akan berangkat. Aku tidak berani berangkat. Mereka akan memaksaku bersembunyi dalam kegelapan, dan aku takut gelap. Aku akan terus menjerit.”

Ia dapat melihat roman muka keheranan pada wajah ibunya, dan kemudian sikap ketus orang dewasa. “Jangan bodoh. Kau harus berangkat. Kita telah menerima undangan Nyonya Henne-Falcon.”

Tetapi mereka tidak bisa memaksanya untuk berangkat; ragu-ragu di tangga depan pintu sementara kaki pengasuh menapaki rumput yang terbalut butiran salju, ia mengetahuinya. Ia akan menjawab: “Ibu bisa bilang kalau aku sakit. Aku tak akan berangkat. Aku takut gelap.” Dan ibunya: “Jangan bodoh. Kau tahu tidak ada yang perlu ditakutkan dalam gelap.” Tetapi ia tahu kesalahan penalaran itu; ia tahu bagaimana mereka diajari juga bahwa tidak ada yang perlu ditakutkan dari kematian, dan betapa mereka ketakutan menghindari gagasan tentang kematian. Tetapi mereka tidak bisa memaksanya berangkat ke pesta itu. “Aku akan menjerit. Aku akan menjerit.”

“Francis, ayo.” Ia mendengar suara pengasuh di seberang pelataran berumput yang remang dan melihat lingkaran kuning senter yang bergulir dari pohon ke semak-semak. “Aku datang,” ia berseru dengan putus asa; ia tidak dapat membujuk dirinya sendiri untuk mengucapkan rahasia dan cadangan terakhirnya antara ibunya dengan dirinya, karena masih ada usaha terakhir berupa permohonan kepada Nyonya Henne-Falcon. Ia menenangkan diri dengan gagasan itu sembari melangkah dengan tetap melintasi aula, yang sangat kecil, ke arah ruangan yang sangat besar. Jantungnya berdegup tak karuan; tetapi sekarang ia bisa mengendalikan suaranya, seraya berkata dengan aksen yang cermat, “Selamat malam, Nyonya Henne-Falcon. Anda baik sekali telah mengundang kami ke pesta Anda.” Dengan wajah tegang di depan lengkungan payudara perempuan itu, dan ucapannya yang sopan, ia seperti orang tua renta. Sebagai anak kembar, dalam banyak aspek ia merupakan anak semata wayang. Berbicara kepada Peter berarti berbicara kepada citranya sendiri di cermin, sebuah citra yang agak berbeda dengan adanya kekurangan pada kaca, sehingga bisa memantulkan kemiripan yang lebih sedikit tentang dirinya yang sebenarnya ketimbang dirinya seperti yang diinginkannya, akan jadi apa dirinya tanpa rasa takut tak beralasan kepada gelap, langkah kaki orang asing, terbangnya kelelawar di kebun yang remang.

“Anak manis,” kata Nyonya Henne-Falcon acuh tak acuh, sebelumnya, seraya mengayunkan lengan, seakan-akan anak-anak itu adalah sekawanan ayam, ia menggiring mereka ke dalam rangkaian daftar acara hiburan: lomba balap telur-dan-sendok, balapan kaki tiga, menombak apel, permainan yang bagi Francis tidak lebih dari hinaan belaka. Dan pada masa-masa jeda yang sering muncul, ketika ia tidak sedang dibutuhkan dan ia dapat berdiri sendirian di sudut sejauh mungkin dari tatapan sengit Mabel Warren, ia bisa menyusun rencana untuk menghindari teror gelap yang mendekat. Ia tahu tidak ada yang perlu ditakutkan hingga setelah minum teh, dan baru setelah ia duduk di sebuah kolam kuning cemerlang yang tersusun dari sepuluh lilin pada kue ulang tahun Colin Henne-Falcon ia menjadi sadar akan kehadiran apa yang sangat ia takuti. Ia mendengar suara melengking Joyce di bawah meja, “Setelah minum teh, kita akan bermain petak umpat dalam gelap.”

“Oh, tidak,” kata Peter, sambil memandang wajah resah Francis, “jangan. Kita bermain itu setiap tahun.”

“Tetapi sudah ada di daftar acara,” seru Mabel Warren. “Aku lihat sendiri. Aku melihat dari balik pundak Nyonya Henne-Falcon. Minum teh pukul lima tepat. Pukul enam kurang seperempat sampai setengah tujuh, petak umpat dalam gelap. Semua tertulis di daftar acara.”

Peter tidak mendebat, karena jika petak umpat telah dimasukkan ke dalam daftar Nyonya Henne-Falcon, apa pun yang dikatakannya tidak akan membatalkan acara itu. Ia meminta potongan kue ulang tahun lagi dan menyeruput tehnya dengan pelan. Mungkin bisa menunda permainan itu hingga seperempat jam, memungkinkan Francis beberapa menit lebih untuk menyusun rencana, tetapi Peter pun gagal karena anak-anak telah meninggalkan meja dalam kelompok berisi dua atau tiga orang. Itu adalah kegagalannya yang ketiga, dan lagi-lagi ia melihat bentangan sayap seekor burung besar menggelapkan wajah saudaranya. Tetapi diam-diam ia mencela diri sendiri karena kebodohannya sendiri, dan menghabiskan kuenya dengan lebih berani karena mengingat ucapan orang dewasa itu, “Tak ada yang perlu ditakutkan dalam kegelapan.” Sebagai yang terakhir meninggalkan meja, sepasang saudara kembar itu bersama-sama melangkah ke aula untuk menjumpai kerumunan dan mata Nyonya Henne-Falcon yang tak sabar.

“Dan sekarang,” kata perempuan itu, “kita akan bermain petak umpat dalam gelap.”

Peter memandang saudaranya dan melihat bibir yang terkatup rapat. Francis, ia tahu, merasa ngeri pada momen ini sejak awal pesta, telah mencoba menghadapinya dengan berani dan membatalkan usaha itu. Ia pasti telah berdoa agar mendapatkan akal untuk menghindari permainan itu, yang sekarang disambut dengan seruan gembira oleh semua anak yang lain. “Oh, ayo mulai.” “Kita harus memilih kelompok.” “Apakah yang markas keluar?”‘ “Di mana markasnya?”‘

“Saya kira,” kata Francis Morton, sambil mendekati Nyonya Henne-Falcon, dengan mata terfokus pada payudara tambun perempuan itu, “saya tidak perlu ikut bermain. Pengasuh saya akan segera menjemput.”

“Oh, tetapi pengasuhmu bisa menunggu, Francis,” kata Nyonya Henne-Falcon, sembari bertepuk tangan untuk mengumpulkan ke sampingnya beberapa anak yang telah berkeliaran di tangga lebar menuju lantai atas. “Ibumu tak akan keberatan.”

Itulah batas akhir siasat Francis. Ia menolak percaya bahwa dalih yang begitu matang dipersiapkan itu bisa gagal. Sekarang, yang dapat diucapkannya, masih dengan nada datar yang dibenci anak-anak yang lain karena dianggap sebagai tanda kecongkakan, adalah, “Saya rasa saya sebaiknya tidak ikut bermain.” Ia berdiri tenang, mempertahankan sosok yang tak bergerak walaupun takut. Tetapi pengetahuannya akan teror, atau cerminan dari teror itu sendiri, mencapai otak saudaranya. Sejenak, Peter Morgan bisa saja menjerit kencang karena takut ketika lampu-lampu yang terang benderang dipadamkan, yang membuatnya sendirian di sebuah pulau kegelapan yang dikelilingi oleh suara tapak kaki yang ganjil. Kemudian ia ingat bahwa rasa takut itu bukan rasa takutnya sendiri melainkan rasa takut saudaranya. Ia berkata secara impulsif kepada Nyonya Henne-Falcon, “Tolong, saya kira Francis tidak usah ikut main. Gelap membuat ia gemetar.” Kata-kata itu sangat kuat. Enam orang anak mulai bernyanyi, “Penakut, penakut, penakut” sambil memperlihatkan wajah yang menyiksa seperti bunga matahari yang terkembang ke arah Francis Morton.

Tanpa memandang saudaranya, Francis berkata, “Tentu saja saya akan bermain. Saya tidak takut, saya hanya mengira saya takut.…” Tetapi ia telah dilupakan oleh para manusia penyiksanya. Anak-anak berkerumun di sekeliling Nyonya Henne-Falcon, suara jeritan mereka mematukinya dengan pertanyaan dan usul.

“Ya, di mana pun di dalam rumah ini. Kita akan memadamkan lampu. Ya, kalian boleh bersembunyi di almari. Kalian harus tetap sembunyi selama mungkin. Tidak akan ada markas.”

Peter menyisih, malu dengan caranya sendiri untuk menolong saudaranya. Sekarang ia dapat merasakan kemarahan Francis karena ia telah sok jagoan, yang merayap ke dalam sudut-sudut pikirannya. Beberapa orang anak lari ke lantai atas, dan lampu di lantai atas padam. Gelap turun seperti sayap-sayap kelelawar dan mendarat di lantai. Yang lainnya mulai memadamkan lampu di tepi aula, hingga anak-anak itu berkumpul semua di tengah cahaya kandil, sementara kelelawar mulai berkeliaran dengan sayap penuh dan menunggu kandil itu juga dipadamkan.

“Kau dan Francis di pihak yang sembunyi,” kata seorang gadis berbadan tinggi, dan kemudian lampu padam, karpet bergelombang di bawah kaki bersama dengan bunyi mendesis tapak kaki, seperti aliran dingin, merayap ke berbagai sudut.

“Di mana Francis?” ia bertanya-tanya. “Kalau aku bersamanya, rasa takutnya pada semua suara-suara ini berkurang.” “Suara-suara ini” adalah selungkup kesunyian: derak papan kayu longgar, pintu lemari yang hati-hati ditutup, bunyi gesekan jari menelusuri papan berpelitur.

Peter berdiri di tengah lantai kosong yang gelap, bukan menyimak melainkan menunggu gagasan tentang posisi saudaranya memasuki pikirannya. Tetapi Francis meringkuk dengan jari menutup telinga, mata yang sia-sia dipejamkan, pikiran yang kebas terhadap semua kesan, dan hanya rasa tegang yang dapat melintasi celah dalam kegelapan. Kemudian sepatah suara berseru “Datang”, dan seakan-akan kesurupan saudaranya itu dipecahkan oleh seruan tiba-tiba itu, Peter Morton melonjak ketakutan. Tetapi rasa takut itu bukan miliknya. Yang merupakan panik yang menyala-nyala dalam pikiran saudaranya adalah emosi altruistis yang tidak memengaruhi akalnya. “Kalau aku Francis, di mana aku akan bersembunyi?” Dan karena, jika ia memang bukan Francis sendiri, ia setidaknya merupakan cerminan saudaranya itu, sehingga jawabannya pun muncul seketika. “Di antara rak buku oak di sebelah kiri pintu ruang belajar, dan sofa kulit.” Di antara anak kembar, pasti tidak ada jargon tentang telepati. Mereka telah bersama-sama dalam kandungan, dan mereka tak terpisahkan.

Peter Morton berjingkat ke arah tempat persembunyian Francis. Sesekali sebilah papan berderak, dan karena ia takut tertangkap oleh pihak pencari dalam kegelapan itu, ia membungkuk dan melonggarkan ikatan tali sepatu. Sesuatu menimpa lantai dan suara logam menyebabkan langkah-langkah kaki menuju ke arahnya. Tetapi pada saat itu, ia hanya tinggal mengenakan kaos kaki dan akan menertawakan perburuan itu kalau tidak ada suara seseorang yang tersandung sepatunya yang membuat jantungnya melompat. Tak ada lagi suara papan yang memberitahukan langkah maju Peter Morton.

Dengan kaki hanya mengenakan kaos kaki, ia bergerak dengan tenang dan lurus ke arah tujuannya. Naluri memberitahunya bahwa ia telah dekat dengan dinding, dan, setelah merentangkan tangan, ia menyentuh wajah saudaranya.

Francis tidak berteriak, tetapi degup jantungnya mengungkapkan kepada Peter seberapa besar rasa ngeri Francis. “Tak apa-apa,” bisik Peter, sambil meraba sosok yang berjongkok itu hingga ia menangkap tangan yang terkepal. “Cuma aku. Aku akan bersamamu.” Dan sambil menggenggam tangan saudaranya dengan erat, ia menyimak suara-suara bisikan yang disebabkan oleh ucapannya itu. Ada tangan yang menyentuh rak buku dekat kepala Peter dan ia menyadari bahwa rasa takut Francis tetap ada walaupun telah ditemani. Ia berharap agar situasi ini menjadi kurang tegang dan dapat lebih ditanggung, tetapi tidak demikian. Ia tahu bahwa rasa takut yang dialaminya itu adalah rasa takut saudaranya dan bukan rasa takutnya. Baginya, kegelapan hanyalah ketiadaan cahaya; rabaan tangan seorang anak yang dikenal akrab. Dengan sabar ia menunggu ditemukan.

Ia tidak berbicara lagi karena antara Francis dan dirinya merupakan komuni yang paling intim. Dengan tangan yang bergandengan, pikiran dapat mengalir lebih cepat ketimbang bibir yang membentuk kata-kata. Ia dapat merasakan seluruh pergerakan emosi saudaranya, dari lompatan kepanikan pada saat sentuhan tak terduga-duga itu hingga degup tetap rasa takut, yang kini terus berdegup seirama detak jantung. Peter Morton berpikir keras, “Aku di sini. Kau tak perlu takut. Lampu akan segera menyala lagi. Suara berdesir itu, gerakan itu, tak perlu ditakuti. Hanya Joyce, hanya Mabel Warren.” Ia menaburi sosok yang berjongkok itu dengan pikiran tentang keselamatan, tetapi ia sadar bahwa rasa takut itu berlanjut. “Mereka mulai berbisik-bisik. Mereka sudah lelah mencari kita. Lampu akan segera menyala lagi. Kita akan menang. Jangan takut. Ada orang di tangga. Aku yakin itu Nyonya Henne-Falcon. Dengar. Mereka meraba-raba untuk menyalakan lampu.” Kaki berkisar di atas karpet, tangan meraba dinding, sehelai tirai tersibak, pegangan logam berbunyi klik, pintu lemari terbuka. Di rak di atas kepala mereka, sebuah buku bergerak karena disentuh. “Cuma Joyce, cuma Mabel Warren, cuma Nyonya Henne-Falcon,” kresendo pikiran yang menenangkan sebelum kandil menyala, seperti pohon buah yang mekar.

Suara anak-anak yang melengking menyambut cahaya terang. “Di mana Peter?”‘ “Sudah kaucari di lantai atas?”‘ “Di mana Francis?”‘ tetapi mereka diam lagi ketika terdengar jeritan Nyonya Henne-Falcon. Tetapi perempuan itu bukan yang pertama menyadari ketenangan Francis Morton, di mana anak itu bersandar pada dinding dalam gandengan saudaranya. Peter terus memegangi tangan terkepal itu dengan rasa duka yang kering dan membingungkan. Bukan semata-mata karena saudaranya telah meninggal. Otaknya, yang terlalu muda untuk menyadari paradoks yang utuh, bertanya-tanya dengan rasa iba yang kabur kenapa denyut rasa takut saudaranya terus saja terasa, ketika Francis kini telah berada di tempat di mana tidak ada lagi teror dan tidak ada lagi—kegelapan.***

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *