Menu

Bulan Sabit

Berabad-abad lalu, gambar bulan sabit pada kain yang berkibaran sanggup mengalirkan keyakinan dan semangat yang tak terbendung oleh salah satu benteng paling kuat pada Abad Pertengahan: Byzantium, pusat Eropa Timur saat itu, takluk di bawah kibaran bendera bulan sabit.

Ia membayangkan betapa lawan-lawan itu dulu, sambil berdiri di balik parapet yang tinggi, gemetar menyongsong air bah pedang dan tombak dari timur. Tapi, mereka pun mendamik dada, dan telah lama siap berkalang tanah demi kemerdekaan — dan ia terharu karena sebagian besar dari mereka tetap merdeka dalam kematian.

Kini pun ia menyaksikan bulan sabit, yang tampak lebih besar dari biasanya selepas tengah malam itu. Tapi, cahayanya hanya sanggup menyebar hingga beberapa jengkal saja dari tepiannya, dan setelahnya adalah wilayah kegelapan yang hanya diselingi kerdip bintang di sana sini.

Tetap saja, ia merasa sedikit gentar melihat bulan sabit itu, dan menyempatkan diri untuk berdiri sejenak, memandangi sabit kuning redup di langit itu, dan bersyukur — entah kepada siapa — karena masih bisa merasakan sesuatu.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *