Menu

Buku Tentang Kucing: Memoar Kucing

Buku Tentang Kucing ini diluncurkan secara resmi menjelang tahun baru 2017. Tepatnya, pada hari pertama dalam rangkaian acara yang digelar oleh Jual Buku Sastra untuk menyambut peralihan tahun. Saya sekaligus diminta berbicara bersama Nurul Hanafi—seorang penerjemah yang tekun—yang menerjemahkan kumpulan cerita karya Oscar Wilde.

Saya, tentu saja, berbicara tentang buku Tentang Kucing yang saya terjemahkan. Juga, buku Membeli Batang Pancing untuk Kakekku karya Nobelis Gao Xingjian.

Dalam sesi diskusi, Rozi Kembara selaku moderator mengajukan pertanyaan yang mengoyak zona aman saya. Apakah ini memoar tentang Doris Lessing, peraih Nobel Sastra 2007? Soalnya, subjudul buku ini adalah “Sebuah Memoar”.

Sungguh, saya tak menyangka bahwa subjudul buku Tentang Kucing itu bisa menimbulkan anggapan bahwa buku ini membahas tentang Doris Lessing. Saya tak membubuhkannya dalam naskah Word yang saya kirim ke penerbit.

Sama sekali tidak, jawab saya. Buku ini berpusar di sekitar kucing-kucing yang pernah dekat dengan sang Nobelis. Walaupun kucing-kucing itu dihidupkan melalui sudut pandang narator, tetapi narator seolah-olah menyerahkan seluruh panggung kepada tokoh-tokoh utama—kucing-kucing itu.

Alhasil, buku ini memang dapat dikatakan sebagai semacam “memoar”, tetapi dengan tokoh utama beberapa ekor kucing.

***

Jujur saja, saya sendiri masih kebingungan kalau harus menempatkan buku Tentang Kucing ini dalam klasifikasi—kebiasaan akademik yang belum sepenuhnya lenyap.

Sebelum mulai menerjemahkan, saya sudah membaca resensi buku ini di Guardian dan beberapa media otoritatif lain, termasuk diskusi di Goodreads. Namun, saya tidak berani memastikan apakah karya ini adalah rekaan tulen atau cerita yang benar-benar terjadi dalam dunia nyata.

Novel? Fiksi? Untuk saat ini, digolongkan sebagai “memoar” saja sudah cukup.

Yang juga cukup membingungkan adalah naskah asli. Naskah sumber yang saya terjemahkan terbagi dalam tiga cerita, yang sedikit-banyak masih berkelanjutan. Tetapi dalam sumber lain yang saya dapat di internet, ternyata masih ada cerita-cerita lain.

Karena penerjemahan buku ini adalah penugasan dari penerbit, saya ikut saja naskah yang diberikan oleh pihak penerbit. Saya kira, naskah sumber versi penerbit pun sangat patut karena, bagi saya, ketiga cerita itu “senada seirama”.

Lagi pula, Saya juga diminta menambahkan pidato penerimaan Nobel oleh Doris Lessing, yang dengan senang hati saya kerjakan. Mungkin karena mempertimbangkan jumlah halaman.

***

Sekitar awal 2000-an dulu, saya ingat pernah membaca beberapa karya Lessing di Perpustakaan Pusat UNY. Tetapi, mungkin karena saat itu saya belum begitu “paham”, hanya nama Doris Lessing saja yang teringat oleh saja.

Kini, menjumpai nama itu lagi setelah sepuluh tahun lebih, saya merasa cukup menyesal. Kenapa dulu saya tidak mempelajari karya-karya Lessing dengan lebih cermat?

Tapi saat itu memang saya sedang terpesona pada Shelley, Shakespeare, dan Thomas Hardy (Jude the Obscure!). Jadi, bisa dipahami jika karya modern seperti karya Lessing tidak menimbulkan kesan yang kuat dalam benak dan ingatan saya. Begitu juga dengan para penulis setelah 1945.

Terlebih lagi, narasi Lessing sungguh menghanyutkan—meskipun saya masih kesulitan menerjemahkan pasase panjang dengan titik koma dalam naskah sumber—seperti nukilan ini:

Keesokan harinya, ketika kami makan siang, si abu-abu berlari masuk ke dalam ruangan dengan seekor anak kucing, sambil melempar-lemparkan anak itu di mulutnya. Ia meletakkan anak kucing di tengah lantai, dan pergi untuk mengambil yang lain. Ia membawa keempat anak kucing itu turun, satu demi satu, kemudian berbaring di lantai bersama mereka. Ia telah memutuskan bahwa ia tidak mau diasingkan sendirian tanpa teman; dan sepanjang bulan itu anak-anak itu tak berdaya, kami semua, di mana pun di dalam rumah ini, akan melihat kucing abu-abu berjalan masuk ke ruangan bersama anak-anaknya, melempar-lemparkan mereka di dalam mulutnya yang tampak sangat ceroboh. Malamnya, tiap kali aku terjaga, kucing abu-abu akan menyusup di sisiku, tenang, dan tetap tenang, berharap aku tidak memperhatikannya. Ketika ia tahu aku memperhatikannya, ia mendengkur, berharap agar aku menjadi lunak, dan menjilati wajahku dan menggigit hidungku. Sia-sia. Kuperintahkan ia kembali, dan ia pun kembali sambil bersungut-sungut.

 

Pendeknya, ia adalah ibu yang mengerikan…. (hal. 63)

Itu adalah pelukisan tentang si kucing abu-abu, yang merebut sebagian besar porsi cerita dan juga menguasai rumah dalam cerita—seekor kucing cantik yang sangat manja dan tak mau diduakan!***

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *